Senin, 24 November 2008

Manusia bisa menciptakan WAKTU?????

Hari ini merupakan awal minggu Advent. Artinya, tahun baru Gereja sudah dimulai lagi, setelah Minggu kemaren berakhirnya Tahun Gereja periode 2007-2008. Tidak terasa waktu telah kembali mengantarkan kita, dan kita wajib mensyukuri atas diberiNya kembali kesempatan untuk memasuki tahun Gereja yang baru, yang di awali dengan minggu Advent I-IV. Advent berarti masa penantian dan pengharapan akan datangnya Sang Mesias.

Waktu menjadi terasa sangat singkat. Seiring waktu berbagai macam perkembangan teknologi juga makin pesat. Jarak ratusan kilometer bisa ditempuh dengan waktu yang singkat. Suara orang yang berjauhan (ribuan KM) juga bisa kita dengarkan, bahkan dengan Vidio Conference, kita bisa saling sapa satu dengan yang lain, walaupun antar Negara bahkan antar benua. Manusia banyak menciptakan banyak hal dengan pengetahuan yang diberikanNya. Mulai dari ICT, Kloning, perangkat computer canggih, kemajuan ilmu kedokteran dan lain-lain.

Namun, satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia, ia TIDAK mungkin bisa menciptakan waktu untuk dirinya. Berapa lama waktu yang sudah Tuhan berikan pada seseorang, sebaiknya orang tersebut dapat menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin. Orang akan melakukan apapun asalkan ia tahu, bahwa waktu/umurnya bisa bertambah walau semenit. Kira2, mengapa yah Tuhan kok memberi waktu itu detik per detik???Ternyata jawabnya sederhana, agar kita bisa mengoptimalkan penggunaan waktu yang IA berikan untuk hal – hal yang baik.Contoh, bila manusia sudah divonis oleh dokter bahwa hidupnya tinggal 2 tahun. Namun, dokter mengatakan orang tersebut bisa hidup lebih lama dari 2 tahun asalakan ia mau mengikuti saran2 dokter, seperti tidak makan makanan berkolesterol, tidak minum alcohol dsb..dsb. Maka saya yakin orang yang divonis tadi pasti akan berusaha mengikuti anjuran sang dokter tadi, asalakan ia bisa hidup lebih lama dari 2 tahun. Disini tampak, bahwa waktu itu sangat mahal. Itulah sebabnya Tuhan memberi waktu itu detik per detik, tidak seperti IA memberi berkat, misalkan Uang 100 juta. Tentu bisa kita tabung dulu, dan kalau sewaktu – waktu kita butuh uang tersebut, kita bisa dengan cepat mengambilnya. Coba bayangkan, bila Tuhan memberi kita waktu 10 tahun. Alangkah indahnya hidup ini, bila kita tau ajal sudah dekat, yaaa bisa saja kita menggunakan tabungan waktu yang kita miliki :D.

Jika manusia mau berjuang hanya untuk mendapatkan tambahan umur sekian bulan di dunia, terus mengapa yah manusia gak mau berjuang untuk Anugrah hidup kekal yang dijanjikan Yesus? Tanggapan saya adalah, karena penyakit manusia ada dua hal, pertama penyakit jamani dan rohani. Dan kita belum menyadari kalau kita pun sakit secara rohani. Sehingga kecenderungannya adalah manusia malas untuk menjaga kesehatan rohaninya. Padahal, kalau kita bisa menjaga kesehatan rohani kita, WAWwww, hidup selama – lamanya akan menjadi milik kita. So, bagaimana dengan kita??Ayo kita coba check up kondisi kesehatan rohani kita.  :)

Sifat manusia.

hmm...Sifat manusia ternyata lebih menonjol hal yang negatifnya. Iseng2 browsing dua buah kata dengan makna saling bertolak belakang pada search engine google kata kritik terdiri atas 61,900,000, sedangkan motivasi 5,970,000. Memang hal ini bukanlah suatu indikator mutlak untuk menggambarkan sifat manusia yang sebenarnya . Namun, pada kenyataannya orang jauh lebih senang untuk menjatuhkan orang lain dengan memberi kritikan, makian. Yang penting bagaimana orang lain terlihat lebih jelek dari dirinya. Dilingkungan organisasi, hal ini sangat terasa. Walau kadang2 orang mengatakan hal ini wajar dan merupakan dinamika.

Namun pada kenyataannya, hal inilah yang menjadi penghambat kita untuk maju dan meningkatkan kompetensi dan karakter. Dulu orang berselisih hanya sebatas urusan strukturnya saja, tidak pernah berlarut2 hingga ke personal kedua belah pihak. Namun sekarang ??? We can see. Hal yang paling sedih adalah ketika tidak ada recognation terhadap apa yang telah diperbuat orang lain. Seburuk apapun kinerja orang, sebaiknya dia mendapat penghargaan dari orang yang sama sekali tidak pernah melakukan hal yang telah dilakukan seseorang tersebut. Karena tidak ada jaminan kita lebih baik dari pada orang lain untuk suatu tugas/pekerjaan yang sama. Semoga sifat negatif kita akan jauh lebih kecil daripada sifat positif. Cayooo!!! :)

Senin, 29 September 2008

Materi MAPER GMKI 2008


SETIA MELAYANI YESUS DI TENGAH PERGUMULAN MAHASISWA
Perjalanan GMKI adalah perjalanan ketaatan mahasiswa bersama sang Kepala Gerakan yaitu Yesus Kristus selama kita masih di dunia ini. GMKI harus pergi kemana saja ia diutus sang Kepala Gerakan, sama seperti seorang hamba yang taan sama tuannya, demikian juga GMKI taat kepada Kristus
Sejarah Singkat GMKI
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) adalah organisasi kemahasiswaan yang didirikan pada tanggal 9 Februari 1950. Namun Christelijke Studenten Vereeniging op Java (CSV) yang menjadi cikal bakal GMKI telah ada jauh sebelumnya dan berdiri sejak 28 Desember 1932 di Kaliurang. Berdirinya CSV tidak terpisahkan dengan peranan Ir. C.L Van Doorn salah seorang ahli kehutanan yang mempelajari aspek sosial dan ekonomi khususnya ilmu pertanian dan kemudian memperoleh doktor di bidang ekonomi serta dominee dibidang teologia.
Dengan adanya mahasiswa di Indonesia dan bersamaan dengan berdirinya School tot Opleiding van Indishe Artsen (STOVIA) tahun 1910-1924 di Batavia. Selain itu, berdiri juga Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya (1913), Sekolah Teknik di Bandung (1920), Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor (1914) dan Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta (1924). Pada tahun 1924 terbentuklah Batavia CSV dan inilah cabang CSV yang pertama.
Kurun waktu 1925-1927 para mahasiswa di Surabaya yang tergabung dalam Jong Indie aktif melakukan penelaahan Alkitab. Kelompok ini bersama Batavia CSV mengadakan Konferensi di Kaliurang pada bulan Desember 1932. Pembicara-pembicara utama kegiatan tersebut adalah Dr. J. Leimena, Ir. C.L van Doorn dan Dr. Kraemer.
Jumlah anggota CSV op Java dalam kurun waktu 1930-an sekitar 90 orang. Cabang-cabangnya hanya baru ada di kota-kota perguruan tinggi di Jawa (Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya). Walaupun “kecil dan lemah” namun keberadaan CSV op Java telah berhasil meletakkan dasar bagi pembinaan mahasiswa Kristen yang akan dilanjutkan GMKI di kemudian hari.
Sejumlah mahasiswa kedokteran dan hukum di Jakarta memutuskan untuk membentuk suatu organisasi mahasiswa Kristen. Organisasi itu untuk menggantikan CSV op Java yang sudah tidak ada. Dalam pertemuan di STT Jakarta tahun 1945, dibentuk Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) dengan maksud keberadaannya sebagai Pengurus Pusat PMKI. Dengan demikian Dr. J. Leimena dipilih sebagai Ketua Umum dan Dr. O.E Engelen sebagai Sekretaris Jenderal. Tetapi karena Leimena sibuk dengan tugas-tugas sebagai Menteri Muda Kesehatan, tugas-tugasnya diserahkan kepada Dr. Engelen.
Kegiatan-kegiatan PMKI tidak jauh berbeda dengan CSV op Java dengan Penelahaan Alkitab salah satu inti kegiatannya. Keanggotaan PMKI sebagian besar adalah mahasiswa yang memihak pada perjuangan kemerdekaan. Terbentuklah PMKI di Bandung, Bogor, Surabaya dan Yogyakarta (setelah UGM berdiri) segera menyusul.
Tak lama setelah PMKI lahir, awal tahun 1946 muncul organisasi baru dengan menggunakan CSV di Bogor, Bandung dan Surabaya dengan “CSV yang baru” dan tidak menjadi tandingan PMKI. Kesamaan kedua organisasi ini adalah merealisasikan persekutuan iman dalam Yesus Kristus dan menjadi saksi Kristus dalam dunia mahasiswa.
Masuknya Jepang ke Indonesia mengakhiri eksistensi CSV op Java secara struktural dan organisatoris. Pemerintah pendudukan Jepang melarang sama semua kegiatan-kegiatan organisasi yang dibentuk pada jaman Belanda. Secara prakatis CSV op Java tidak ada lagi sejak tahun 1942. Sepanjang sejarahnya, CSV op Java dipimpin oleh Ketua Umumnya Dr. J. Leimena (1932-1936) serta Mr. Khow (1936-1939). Sedangkan sekretaris (full time) dijalankan Ir. C.L Van Doorn (1932-1936).
Dengan berakhirnya pertikaian Indonesia dengan Belanda, tahun 1949 berakhir pula “pertentangan” antara PMKI dengan CSV baru tersebut. Tanggal 9 Februari 1950 di kediaman Dr. J. Leimena di Jl. Teuku Umar No. 36 Jakarta, wakil-wakil PMKI dan CSV baru hadir dalam pertemuan tersebut. Maka lahirlah kesepakatan yang menyatakan bahwa PMKI dan CSV baru untuk meleburkan diri dalam suatu organisasi yang dinamakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan mengangkat Dr. J. Leimena sebagai Ketua Umum hingga diadakan kongres. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan sangat penting dan suatu moment awal perjuangan mahasiswa Kristen yang tergabung dalam GMKI maka pada kesempatan itu Dr. J. Leimena menyampaikan pesan penting yang mengatakan : “ Tindakan ini adalah suatu tindakan historis bagi dunia mahasiswa umumnya dan masyarakat Kristen pada khususnya. GMKI menjadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKI menjadilah suatu pusat sekolah latihan (loershool) dari orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya. Dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari iman dan roh, ia berdiri di tengah dua proklamasi: Proklamasi Kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injilnya, ialah Injil Kehidupan, Kematian dan Kebangkitan”.

Perkembangan demi perkembangan dialami GMKI secara kontiniu dengan berdirinya beberapa cabang-cabang GMKI di berbagai wilayah Indonesia. Pergumulan demi pergumulan baik pada masa transisi kepemimpinan nasional di era Ode Lama, Orde Baru, Era Reformasi dan pada masa kini. GMKI mencoba memainkan perannya sebagai wujud semangat Nasionalisme dan Oikumenisnya.
Perubahan-perubahan tatanan organisasi baik berupa AD/ART mengalami berbagai penyempuranaan, tantangan dan pergumulan GMKI yang tertuang dalam Tema dan Sub tema dan senantiasa berubah setiap Kongres ke Kongres sesuai kondisi dan pandangan GMKI kedepan, perbaikan dan penyempurnaan sistim pendidikan kader yang tertuang dalam Pola Dasar Sistim Pendidikan Kader (PDSPK) serta format aksi pelayanan yang senantiasi dievaluasi sebagai wujud partisipasi GMKI dalam bidang eksternalnya.
Ketika diawalnya GMKI tumbuh dari kelompok-kelompok doa dan diskusi-diskusi hingga akhirnya membentuk suatu organisasi kemahasiswaan yang permanen. Kedua semangat diatas telah membawa sejarah GMKI menjadi salah satu kekuatan gerakan Pro-demokrasi dalam mewujudkan nilai-nilai demokrasi, penegakan Hukum dan HAM.
Visi yang ingin dicapai GMKI adalah Mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi berdasarkan kasih di Indonesia.
Misi yang dilakukan adalah:
a. Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari – hari.
b. Membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan perguruan tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja.
c. Mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, perguruan tinggi dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih di tengah-tengah manusia dan alam semesta.
Saat ini, GMKI memiliki sekitar 70 cabang dan beberapa bakal cabang yang tersebar di kota-kota perguruan tinggi di berbagai propinsi di Indonesia. GMKI merupakan tempat persiapan kader dengan kompetensi Keimanan, Kompetensi Keilmuan, Kompetensi Managerial dan Kompetensi Kepekaan Sosial yang dapat diaplikasikan dalam tiga medan pelayanannya yakni, Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat. GMKI juga mempersiapkan kader yang kritis dan analitis dalam mengkaji persoalan-persoalan yang terjadi baik di Gereja, Perguruan Tinggi maupun Masyarakat dan memberikan tawaran solusi terhadap masalah tersebut.
Dalam melakukan Pelayanannya, GMKI membangun kerjasama dengan beberapa institusi seperti Gereja, Universitas, LSM, MEDIA, aktif dalam KELOMPOK CIPAYUNG dan FKPI dengan berbagai program kerjasama. GMKI juga berafiliasi dengan Organisasi Mahasiswa Kristen Se-Dunia (WSCF) dan saat ini membangun jaringan dengan Perkumpulan Organisasi Kristen dalam bidang Sosial Se-Asia (ACISCA).
GMKI Bandung kaitannya dengan YKKM
YKKM (Yayasan Kristen unruk Kesejahteraan Mahasiswa) merupakan salah satu wadah GMKI cabang Bandung untuk mengurusi masalah asset – asset cabang terutama aset seputar Dago 109. Pendirian YKKM ini akibat adanya undang – undang yang menyatakan bahwa OKP tidak boleh memiliki asset tanah dan bangunan. Oleh sebab itu maka pada tanggal 22 Januari 1963 didirikanlah YKKM dengan aset tanah 2870 .. Sepanjang perjalanannya YKKM baru 5 kali mengalami pergantian kepenguruasan. Ketua pertama adalah Alm. dr.J.E Siregar, Prof K.T Sirait, Ir.Winardi, dr.Arthur L Tobing dan terakhir oleh Ir. Armein Z.R Langi, PhD (sebagai Ketua Dewan Pembina) dan Dr.Ing. Suhardi, M.Sc (ketua Dewan Pengurus). Secara yuridis YKKM berada dibawah BKS PGI-GMKI pusat dengan alasan lebih memiliki kekuatan hukum.
Pergerakan dan Kontribusi GMKI melalui Kader – kadernya
Melayani merupakan salah satu tugas manusia selama ia berada di dunia ini untuk menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus (Mat 28 : 19 – 20) yakni untuk menyebarkan kabar keselamatan sampai ke ujung dunia, sebagaimana Yesus sendiri dating ke dunia ini bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mat 20 : 28). Amanat Agung Sang Kepala Gerakan ini patutlah kita laksanakan sebagai wujud ucapan syukur kita atas keselamatan yang IA berikan kepada kita ornag yang percaya kepada-Nya.
Kontribusi kader - kader GMKI dapat diimplementasikan di tiga medan pelayanannya, yaitu Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Tentunya kader – kader GMKI yang terjun di medan pelayanan atau sering disebut Tri matra GMKI adalah orang – orang yang telah berproses menjadi seorang kader yang Tinggi Iman, Tinggi Ilmu dan Tinggi Pengabdian (Tri Panji GMKI)
Sebagai kaum intelektual dan professional, kader – kader GMKI dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam rangka mencari solusi yang paling solutif dari setiap pergumulan yang dihadapi bangsa ini. Para pendahulu kita tentu tidak sembarangan dalam menciptakan Tri Panji GMKI ini, namun dalam implementasinya banyak kader belum mampu menyeimbangkan Tri Panji GMKI dan cenderung lebih condong ke salah satu Tri Panji. Sehingga hal ini akan berimplikasi terhadap Medan Pelayanan (Tri Matra) GMKI yang juga lebih cenderung ke salah satu Medan Pelayanan. Namun hal yang seharusnya kita coba lakukan adalah bagaimana menyeimbangkan pemahaman serta pengimplementasian masing – masing kader terhadap Tripanji GMKI.
GMKI bukan merupakan organisasi kader, GMKI meng-claim dirinya sebagai organisasi kader. Oleh sebab itu, dalam maper ini, kita jangan melihat kuantitas, namun marilah kita coba melihat kualitas dan kerelaan hati kita untuk mau terlibat dalam setiap pelayanan GMKI. Jika sudah memfokuskan diri pada kualitas, maka akan lahirlah kader GMKI yang menjadi penggerak yang ahli serta bertanggungjawab dan memiliki integritas, sifat kreatif dan inovatif, positive thinking, kristis (berakal dan berilmu), dan realitas serta realistis (mampu mengimplementasikan dengan kondisi).
Akhir kata, selamat mengikuti rangkaian acara Maper GMKI 2008 bagi teman – teman. Tetap semangat. Apa yang kita lakukan hari ini merupakan modal yang sangat bermanfaat untuk masa depan kita. Easy to say, hard to do, but In Jesus nothing is impossible.
TINGGI IMAN, TINGGI ILMU, TINGGI PENGABDIAN.
UT OMNES UNUM SINT


desmon
(ketua cabang bandung 2007-2008)

Sabtu, 13 September 2008

hmmm


Dah ga ada waktu nge blog. Maap sadayana...Ntar tak sambung kalao dah ada waktu luang.

Jumat, 11 Juli 2008

Penolongku??

Aduh.. Dah bulan Juli. Blm ada tanda2 kehidupan. Di manakah masa depan itu?? Masi blm ktemu secerca cahaya. Masi butuh kesabaran yah.. Jd bingung,n bingung. Oh,penolong.. Kpn kira2 engkau melakukan tugasmu? Di tunggu ya.Gbu

Selasa, 17 Juni 2008

Pembukaan Konpercab XXXIII

Rekomendasi Konsultasi Wilayah III

I. Pendahuluan

Dinamika dan tantangan masing – masing cabang di wilayah III yang terdiri dari Cabang Bandung, Sumedang, Jakarta, Bogor dan ”Depok” tentulah berbeda bila ditelaah secara spesifik. Namun, dinamika dan tantangan kita secara general dapat diambil benang penghubungnya sehingga setiap pergumulan di setiap cabang wilayah III ini memiliki kesamaan baik pergumulan dibidang Internal maupun pergumulan dibidang eksternal. Oleh karena itu, hasil konswil III pada tanggal 29-30 Maret yang lalu bisa di rangkum (resume) sebagai berikut sebagai rekomendasi cabang – cabang wilayah III untuk Konsultasi Nasional di Jakarta pada tanggal 17-21 Juni 2008.

II. Pergumulan Bidang Internal

Bidang Internal GMKI masih memiliki banyak pergumulan, terutama pada pemahaman konstitusi dan pengaplikasiaan PDSPK tahun 2006. Dua hal target utama Kongres melalui PP Masa Bhakti 2006-2008 adalah konsolidasi organisasi dan penguatan pemahaman konstitusi dan PDSPK bagi semua kader GMKI.

SPK (Sistem Pendidikan Kader) GMKI Bandung merupakan turunan dari PDSPK 2006 (Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader) hasil Kongres XXX yang dipandang sebagai suatu kebutuhan untuk menjawab tantangan dalam sistem pembinaan kader secara lebih efektif, efisien dan terstruktur. PDSPK 2006 ini memberikan suatu flekibelitas kepada masing – masing cabang untuk di terjemahkan sebagai SPK (Bandung), kelompok tumbuh bersama (KTB) (Jakarta) dan lain – lain yang disebut sebagai kearifan cabang/lokal. Adapun tujuan dari pembuatan PDSPK ini adalah agar kualitas kader GMKI di seluruh cabang mempunyai kesamaan baik dari segi pemikiran, sumber inspirasi, tindakan serta mempunyai wawasan yang sama khususnya dalam ber-GMKI.

II.1 Sejauh mana implementasinya pemahaman Konstitusi di cabang Bandung?

Proses Transformasi Pemahaman Konstitusi GMKI mulai dari AD/ART, PO, Statuta Cabang (Bagi yang memiliki) dirasa masih belum merata ditataran semua anggota GMKI. Secara teknis proses penyampaian tentang konstitusi masih sangat minim dilakukan, sehingga berimplikasi kepada kurangnya pemahaman. Untuk itu perlu dicari cara yang inovatif untuk menyampaikan pemahaman konstitusi dan juga peningkatan intensitas penyampaian materi konstitusi tersebut.

II.2. Sejauh mana implementasinya PDSPK/SPK pasca kongres XXX di cabang Bandung?

Proses pengkaderan membutuhkan kader dan juga siapa pembinanya. Itulah sebabnya kontrak ber-GMKI selalu peserta Maper dan juga orang –orang yang melakukan Dewan Pertimbangan, karena kontrak ber-GMKI merupakan kontrak kepada Sang Kepala Gerakan. Belakangan ini memang kita akui proses SPK belum bisa dijalankan karena satu dan lain hal, namun secara abstrak sedikit banyak dari kita pasti sudah mendapatkannya. PDSPK/SPK yang baru ini muda – mudahan bisa kita implementasikan kepada kita semua secara kontinu. Untuk mendukung agar proses pengkaderan terus berjalan, maka dibutuhkan komitmen dari anggota maupun BPC dan PK agar semua kebutuhan kita bisa terpenuhi terutama dalam hal berorganisasi. Sebagi catatan PDSPK 2006 ini tidak bersifat baku, artinya seiring perjalanannya bila suatu cabang merasa ada yang harus ditambahi atau dikurangi, maka PDSPK bisa di ubah atau di update. Dengan kata lain PDSPK ini masih belum final, maka generasi kita mungkin orang yang paling beruntung karena kita generasi perdana yang melakkannya.

III. Pergumulan Bidang Eksternal

GMKI tanpa medan pelayanan ibarat botol anggur merah yang sudah tidak ada isinya. Maka dipandang perlu untuk mempertahankan eksistensi GMKI secara proporsional di masing – masing Medan Pelayanannya, tergantung situasi dan kondisi masing – masing cabang.

Secara general, pergumulan di medan pelayanan Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat adalah tentang sektarian, hubungan yang ”kurang” terhadap BEM/PMK, serta ramainya pesta demokrasi di tiap – tiap daerah maupun pesta demokrasi nasional dan juga proses kemiskinan dan pemiskinan masyarakat.

Untuk masalah sektarian yang berimplikasi terhadap kaum – kaum fundamentalis yang melakukan penutupan bahkan pengrusakan terhadap rumah ibadah adalah akibat dari arus masuk orang ke suatu daerah yang memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan proses beribadah seperti di tempat asalnya. Kurang ketatnya masalah pendataan anggota jemaat sehingga sering terjadi double kenaggotaan jemaat dari suatu daerah. Selain itu konflik dari internal Gereja sendiri yang menybabkan perpecahan dan menjamurnya Gereja – Gereja tanpa perkembangan kuantitas jemaat.. Hal yang sering terjadi adalah rebutan ”domba” antar Gereja. Hal lain adalah adanya sebagian orang yang menjadikan Gereja sebagai ”tempat bisnis”. Sementara interpretasi dari masyarakat terhadap penambahan jumlah Gereja juga sejalan dengan penambahan jumlah jemaat. Hal inilah yang menimbulkan keresahan kaum – kaum fundamentalis tadi. Solusi dari permasalahan ini ada di tataran gembala sidang atau pimpinan dari suatu Gereja agar lebih tertib. Peran GMKI adalah bagaimana kita masuk dan memberi pengaruh terhadap pimpinan – pimpinan jemaat tersebut, bisa melalui lembaga Gereja seperti PGIW, FKKI, BKS Gereja, PGPK dan lain – lain.

Untuk perguruan tinggi, pergumulan yang ada adalah sikap apatisme mahasiswa sekarang akibat sistem perkuliahan yang semakin cepat dan instan yang berimplikasi terhadap minimnya animo mahasiswa untuk berorganisasi baik intra maupun ekstra kampus. Hubungan GMKI dengan BEM/PMK hanya bisa dilakukan lewat distribusi kader di setiap struktur yang ada. Namun kita juga harus melakukan penguatan kualitas kader untuk hal tersebut.

Untuk pergumulan masyarakat adalah peran serta GMKI dalam melakukan pengawalan terhadap pesta demokrasi yang ada baik tingkat lokal maupun nasional. Kita harus menjadi ”wasit” dalam peta demokrasi dan menjauhi bahkan menghentikan setiap sikap – sikap pragmatisme yang terlihat oleh GMKI. Hal yang paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah bagimana kita bisa berperan serta untuk menyadarkan masyarakat atau teman kita agar tidak golongan putih (golput) Hal lain adalah proses pemiskinan dan kemiskinan masyarakat. Tantangan ini masih akan ada setiap masa, namun hal yang bisa kita lakukan adalah untuk meminimalisasi dampak dari kebijakan pemerintah yang berimplikasi terhadap kemisikinan dan pemiskinan masyarakat. Salah satu contoh adalah dengan kenaikan BBM yang diikuti oleh kenaikan bahan – bahan pokok lainnya. Solusi dari pemerintah untuk hal ini yaitu BLT dirasa masih belum bijak, terbukti dengan gejolak yang terjadi di masyarakat hingga pada saat ini. Barang kali masih banyak pergumulan yang masih bisa kita petakan dan mencoba memberi solusi serta merekomendasikan di Konsultasi Nasional.

Oikumenisme ????

Mari kita bahas bersama....

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP