Tampilkan postingan dengan label politik 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik 2009. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Juni 2010

Pendeta menjadi kandidat anggota KPU

Kaget juga saya melihat berita detik ini. "3 nama yang menempati urutan 8-10 yang berpotensial menjadi penganti anggota KPU yang berhalangan tetap dan tidak memenuhi syarat lagi adalah nomor urut 8, Saut H Sirait (21 suara) 9. M Jafar (20 suara) dan 10. Elviani (10 suara). Mereka berpeluang menjadi anggota KPU pengganti, apabila ada anggota KPU yang berhalangan tetap.

Abang yang satu ini pernah memimpin sebuah jemaat di Bandung, beliau juga pernah menjadi kecab (ketua cabang) GMKI Jakarta sekitar tahun 1986-1988.Ya tidak apa2lah, semoga abang bisa menjadi garam dan terang serta bisa menjalankan amanah jika dipercaya menjadi pengganti Andi Nurpati yang katanya tidak konsisten dan menciderai independensi KPU. Kebayang dulu beberapa teman saya yang berjuang untuk mengumpulkan ribuan tandatangan dan KTP masyarakat untuk mengajukan beliau menjadi anggota KPU sekitar tahun 2008.

Minggu, 23 Mei 2010

Kuatnya kaderisasi HMI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi ekstra kampus sejak adanya NKK/BKK sekitar tahun 1980an. Normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kampus dikeluarkan oleh SK Mendikbud Daud Jusuf. Hal ini bertujuan untuk melemahkan intervensi "mahasiswa" baik kepada rektorat ataupun kepada pemerintah. Katanya dulu mahasiswa sangat mungkin untk menjatuhkan rektor. Sekarang bisa gak yah??

Organisasi yang menamakan kelompok Cipayung yaitu HMI, PMKRI, PMII, GMKI, GMNI, IMM, KMHDI, HimaBudhi, HMI merupakan salah satu orgnaisasi yang paling produktif untuk menciptakan kader-kader baru. Sistem kaderisasi HMI sudah memiliki sistem yang jelas. Mulai dari diterima menjadi anggota, pengurus komisariat, pengurus cabang, badko hingga ke pengurus pusat memiliki design yang sangat baik. Dukungan dari senior kepada junior dalam HMI sangat banyak, tidak memandang asal cabang. Hirearki kaderisasinya sangat implementatif.

Pasca ber-HMI kader2 tersebut akhirnya mendarat menjadi pemimpin baik di organisasi porfesional, LSM, pemerintahan maupun NGO (non-goverment organization). Kalau celetuk Taufik Kiemas beberapa waktu lalu, baru kader GMNI yang pernah menjadi Presiden(Mega), sedangkan HMI baru menjadi Wapres (JK). Gusdur memang dekat dengan PMII, namun yang pernah di PB PMII adalah adiknya Gus Solah. Dari GMKI dulu sempat menjadi Wakil Perdana Mentri yaitu Johannes Leimena. Namun sudah sangat banyak tokoh-tokoh negri ini yang pernah menjadi anggota gerakan organisasi ekstra kampus tersebut. Kontribusi dari kader2 gerakan2 tersebut sudah sangat banyak, seperti konsep Puskesmas dari dr.J.Leimena dan lain sebagainya

Sekali lagi HMI membuktikan bahwa mereka bisa mengirimkan kader terbaiknya untuk kembali menjadi pimpinan parpol melalui kemenangan Anas Urbaningrum untuk menjadi ketua umum Partai Demokrat 2010-2015. Banyak orang melihat karir politik Anas mirip dengan Akbar Tanjung. Saya yakin bahwa dukungan orang - orang HMIl-ah yang merupakan modal dasar Anas mulai dia menjadi anggota KPU, menjadi anggota Legislatif hingga saat ini menduduki PD 1. Dengan menjadi pimpinan parpol bukan tidak mungkin suatu hari nanti beliau bisa menduduki RI 1. Ditengah sulitnya organisasi ekstra kampus tersebut merekrut kader namun setidaknya mereka masih bisa berkontribusi untuk menyumbang kader terbaiknya untuk bangsa dan negara. Dengan kemenangan Anas ini mudah-mudahan akan membawa multiflier effect agar mahasiswa tidak enggan bergabung dengan organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMKRI, GMKI, GMNI, PMII, IMM, KMHDI, Hima Budhi. Namun harus hati-hati, karena bagi aktivis ekstra kampus biasanya sangat vulnarable dengan lama (bahkan) tidak lulus kuliah. Dengan kata lain pada umumnya lulus tepat pada waktunya :D.

Rabu, 28 April 2010

Perampingan BUMN

Sebagai negara yang besar sangatlah pantas bagsa ini memiliki Badan Usaha Milik Negara atau BUMN yang bertugas untuk mencari pendapatan negara dan menyerap tenaga kerja. Namun sampai saat ini peran BUMN yang katanya jumlahnya 141 BUMN tidak ada satupun yang memberi kabar gembira, khususnya bila tutup buku pada akhir tahun. Kalau pun ada 1 atau 2 BUMN yang menyatakan memiliki keuntungan kebanyakan hanya diatas kertas.

Mungkin hal inilah yang membuat dirampingkannya jumlah BUMN hingga 78 BUMN pada tahun 2014. Hal ini menurut saya sangat baik dan perlu direalisasikan segera. Sebab selama ini BUMN merupakan salah satu ladang untuk memperkaya diri pejabat-pejabatnya. Tidak usah jauh-jauh kasus korupsi mantan pejabat Pertamina dan PGN seperti pada berita kompas tersebut. Barangkali hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu mendengar kerugian BUMN disetiap akhir tahun anggaran. Padahal semestinya BUMN ini tidak membebani APBN lagi.

Dalam sebuah diskusi, pernah dihitung bahwa keuntungan BUMN (claim) ternyata jauh dibawah garis kemiskinan, bila BUMN tersebut menjual semua asetnya dan menyimpan uangnya di Bank Swiss. Artinya bunga dari penjualan aset tersebut bisa lebih besar daripada keuntungan operasional perusahaan. Padahal pekerjanya sudah capek2 setiap hari bekerja. Berbeda dengan disimpan di Bank, pekerja bisa juga mendapat gaji dan sisa dari bunga bank tersebut masih diatas keuntungan bilamana perusahaan tersebut beroperasi.

Aspek-aspek penting seperti energi, pertanian, perkebunan sudah di akomodir oleh perusahaan milik negara. Namun dengan logika orang biasa (gak perlu sarjana), bila kita perhatikan perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan milik Indonesia dengan Malaysia juga sangat menyedihkan.Misal PTPN yang mengurus kelapa sawit. Harga jual CPO dipasar internasional antara cpo Indonesia dengan Malaysia tentulah akan relatif sama. Namun dari segi kesejahteraan buruh, kita bisa melihat dan tahu apa yang menyebabkan banyak rakyat Indonesia yang bekerja di peusahaan perkebuan Malaysia. Gaji buruh kebun di Malaysia jauh lebih tinggi dari pada gaji buruh perkebunan di negara ini. Bukankah seharusnya bisa sama?

Carut marut bangsa ini sepertinya belum akan berujung. Namun dengan perampingan jumlah BUMN tersebut diharapkan bisa mengurangi perlilaku buruk untuk korupsi. Saya optimis langkah ini merupakan salah satu solusi yang baik dan tepat untuk mengelola sumber daya yang ada pada bangsa ini. Kalau toh tidak ada perubahan, maka bangsa ini terancam akan seperti bengkel yang tidak laku, karena disana sini hanya berhasil membongkar kasus a, b, c, namun tidak pernah memperbaikinya lagi sehingga menjadi kendaraan yang layak jalan.

Minggu, 21 Maret 2010

dari web nya DPR RI

Wah, tanpa sengaja aq temukan profil Pramono Anung. Beberapa "kelebihan" beliau:

  1. Baru lulus langsung menjadi direktur. Bahkan direktur di dua perusahaan sekaligus. Waw, hebat dan luar biasa. Kalau jaman sekarang ada gak yah baru lulus dari ITB langsung jd direktur?? Mungkin kalau ada sudah pasti meneruskan usaha ortunya.
  2. Pernah menjadi ketua umum HMT ITB. Seperti disamping dari tahun 1955-1986, sementara beliau masuk ITB tahun 1982 dan setau saya masa kepengurusan HMT dan himpunan2 lain di ITB cuma 1 tahun. Wah gak benar neh admin yang ngurusin webnya DPR RI.
  3. Namun satu kelebihan pak Pram ini. Beliau sekjen PDIP pertama dari non nasrani(katolik/protestan). Biasanya sekjen PDIP dari kalangan nasrani. Ini semacam preseden(kebiasaan) atau konvensi tidak tertulis tutur beberapa pengurus DPP PDIP beberapa waktu lalu pada kami. Seingatku pak Pram mengalahkan politisi hebat dan berpengalaman yaitu Alex Litaay. Kita lihat deh siapa sekjen berikutnya setelah kongres PDIP beberapa saat lagi.
  4. Kita tunggulah karya-karya pak Pram untuk bangsa Indonesia selanjutnya..:)

Sabtu, 13 Februari 2010

Kepemimpinan Transformasional

Bila anda ditunjuk untuk memimpin suatu organsiasi, apa anda akan langsung bersedia? Atau mungkin diantara kita sudah ada yang pernah menjadi pemimpin, misal ketua kelas, atau pimpinan sebuah organisasi. Namun selepas dari kepemimpinan tersebut, pernahkan kita menilai dengan objektif hasil dari kepemimpinan kita tersebut? Mungkin kita akan bangga bila selepas memimpin maka organisasi tersebut semakin baik atau malah sebaliknya kita akan bersedih bila organisasi tersebut menunjukkan penurunan.

Keberhasilan suatu organisasi terletak pada pemimpinnya. Orang yang paling bertanggungjawab terhadap maju atau tidaknya organisasi tersebut adalah sang pemimpin. Memimpin merupakan sebuah kesempatan. Karena sebuah kesempatan, maka banyak orang menjadi taktis dan pragmatis. Kesempatan tersebut diinterpretasikan untuk kepentingan diri sendiri. Sangat mudah kita temukan pemimpin yang pragmatis tersebut. Banyak pimpinan daerah di nusantara ini yang pragmatis dan taktis. Namun bila kita telaah lagi, umumnya calon - calon pemimpin daerah tersebut, katakanlah bupati/walikota, sebelumnya sudah pernah memimpin organisasi lain. Namun mereka masih banyak juga melakukan hal - hal taktis dan pragmatis dalam merebut pucuk pimpinan tersebut. Sungguh jarang kandidat pemimpin yang mempromosikan karyanya, keberhasilannya untuk meraih simpati konstituen. Alhasil ketika duduk pada pimpinan daerah maka sang pemimpin tadi hampir tidak berbuat apa-apa.

Masa sekarang merupakan masa - masa regenerasi organisasi2, parpol atau masa pilkada di Indonesia. Sebaiknya mereka yang terpilih nanti menjadi pimpinan akan lembaganya menggunakan kepemimpinan transformasional. Sebab keberhasilan suatu tim juga bergantung kepada bawahan dari pemimpin tersebut. Kebanyakan kita menganut kepemimpinan transaksional. Ibarat bekerja pada seseorang, kita hanya bertugas menyelesaikan pekerjaan tersebut, tanpa memikirkan hasil dan kontinuitasnya. Mental dalam kepemimpinan transaksional ini seperti buruh. Dia hanya bertugas melakukan tugasnya, tidak peduli produk mereka akan laku atau tidak. Tidak ada ikatan moral antara pimpinan dan anak buah.

Tidak salah kalau berbagai instansi dalam merekrut pegawainya mencantumkan syarat seperti good leadership, atau bisa bekerja dengan tim (team work). Namun setelah masuk menjadi pegawai, maka sisi ini akan kita lupakan begitu saja. Sang perekrut atau HRD sendiri pun tidak melakukan hal yang dia syaratkan kepada calon pegawainya. Sehingga rasa kepemilikan terhadap instansi tadi tidak terlalu erat. Hanya transaksional.

Pemimpin yang baik adalah mereka yang menerapkan kepemimpinan transformasional. Dimana pimpinan dan anak buahnya sama - sama melakukan transformasi pengetahuan. Disini pemimpin harus mengakui bahwa anak buahnya memiliki kemampuan masing - masing dibidang tertentu. Bos bukan segalanya, tetapi seseorang yang harus dihormati. Kelebihan masing - masing tadi yang harus ditransformasi sehingga setiap orang baik pimipnan dan anak buah tadi menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh. Dengan demikian rasa kepemilikan akan organsisasi/instansi tempat bereka bernaung akan menjadi kuat. Ada ikatan moral yang terbentuk. Dengan demikian setiap program akan menjadi tantangan masing - masing, dan otomatis kerja tim tadi akan terwujud.

Kamis, 28 Januari 2010

2400 jam

Entah sejak kapan awal dari suatu pemerintahan akan dievaluasi hasilnya setelah 100 hari dilantik. Setiap instansi tidak hanya di pemerintahan barometer 2400 jam ini selalu digunakan untuk moment cek dan ricek kinerja yang telah dilakukan.

Demikian hari ini, tepat 100 hari masa pemerintahan SBY-Boediono sejak dilantik Oktober tahun lalu. Berbagai pandangan, evaluasi, kritik dan saran banyak diberikan oleh para pengamat diberbagi bidang. Secara general hampir tidak ada pengamat yang memberi apresiasi. Sepertinya pemerintahan SBY bila di evaluasi hari ini mendapat raport merah (D plus) semua. Popularitas menurun dan banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran.

Hari ini kabarnya akan diadakan demonstrasi oleh berbagai macam LSM, mahasiswa dan aktivis lainnya. Mudah-mudahan tidak ada aksi brutal dan anarkis yang tentunya akan merugikan peserta demo tersebut.

Kalau menurut saya sendiri, target pemerintahan saat ini hanya berkutat bagaimana meningkatkan pendapatan negara. Tidak disertai dengan bagaimana pengelolaan APBN yang baik sehingga menimbulkan multifiler efect yang positif bagi kesejahteraan rakyak. Seperti tulisan di kompas hari ini penerimaan 2010 andalkan Pph. Ada upaya peningkatan pendapatan negara. Hal ini merupakan hal yang sangat baik, karena setiap warga negara memang seharusnya membayar pajak. Namun hal ini juga yang memicu lebarnya kesenjangan kesejahteraan.

Besarnya APBN ini yang mentriger munculnya korupsi. Artinya dengan menambahnya anggaran maka pemerintah juga akan menambah pengeluaran. Padahal pengeluaran tersebut masih berkutat pada kebutuhan internal pemerintah sendiri, seperti banyaknya lembaga baru yang dibentuk atau yang sering kita dengar dengan istilah "lingkaran dalam presiden". Jumlah kementerian mengikuti anjuran Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara: 34. Presiden menambah pula 10 jabatan wakil menteri.

Rupanya masih kurang besar, maka dibentuk lagi organisasi dan jabatan di sekitar Istana Presiden. Staf khusus, staf pribadi, juru bicara, unit kerja, dewan pertimbangan, satuan tugas, tim lima, hingga tim delapan yang tugasnya sudah selesai.

Lembaga birokrasi yang besar bukan saja tak mangkus, tetapi juga boros. Anggaran negara mestinya bisa dihemat untuk menyejahterakan rakyat. Timbul pertanyaan, di mana letak urgensi reformasi yang waktu kampanye diaku sebagai program kerja yang harus dijalankan? Apakah reformasi berarti menambah jumlah lembaga organisasi, pejabat, atau anggaran? Sumber disini.


Jadi upaya meningkatkan penghasilan negara terutama dari pajak akan sia-sia dan justru akan membebani masyarakat kecil, bila pengeluarannya untuk para pejabat pemerintah.

Sebaiknya upaya peningkatan pendapatan negara bisa dilakukan dengan mengoptimalkan BUMN2 yang ada, menyita semua aset - aset koruptor yang sudah dijatuhi hukuman,dan membuka lapangan kerja agar TKI tidak perlu lagi diekspor ke luar negeri. Bukankah sebaiknya rakyat disuruh membuka lahan pertanian dan mengelolanya daripada lahan tersebut disewakan kepada negara lain? Untuk Badan saha milik negara, yang terjadi justru BUMN setiap tahun mengalami kerugian. Perlu dikaji lagi apakah masuk akal membuat BUMN ini, dan secara logika tidak mungkin bumn seperti PDAM, PLN, Pertamina, Garuda dll mengalami kerugian. Apakah yang mengelola bumn2 tersebut orang-orang bodoh? Dan yang paing menyedihkan adalah aset dari koruptor yang sudah divonis bersalah tidak pernah disita oleh negara.

Satu hal yang membuat masyarakat miris adalah tentang kasus Bank Century. Meskipun telah di bailout namun sampai detik ini uang nasabahnya belum dikembalikan. Tidak ada instruksi tegas dari seorang presiden agar pihak berwenang segera mencairkan dana para nasabah tersebut. Barangkali masih banyak hal yang masih belum dituliskan disini dan kita masih akan terus mendengar, membaca dan menyaksikan demo2 bila kondisi pemerintahan yang apatis seperti sekarang masih tetap berjalan.

Kamis, 17 Desember 2009

Oknum2 hebat

Oknum yang saya maksud kali ini bukanlah mereka yang terkait kasus hukum atau melakukan sesuatu yang tidak baik, melainkan beberapa akademisi salah satu PT terbaik di Bdg yang ternyata ikut resah dengan perkembangan kehidupan berbangsa kita.

Sebenarnya ini murni bukan hasil pemikiran saya, namun beberapa kesimpulan yang bisa saya ambil ketika diskusi saat makan siang kemarin. Ada dua point penting yang bisa saya simpulkan. Yang pertama adalah prediksi muara dari kasus BC yang sangat ramai saat ini. Tidak bisa diredam kasus ini semakin menciptakan multiflier effect. Tidak hanya panggung politik yang sedang bergejolak, namun multifiler effect tersebut sampai juga terhadap TNI seperti di tulis oleh KASAD di kompas 2 hari ini, yaitu hari Rabu dan kompas hari ini.Hal ini bisa memicu tentara untuk kembali ke panggung politik, dimana pada masa reformasi 11 tahun lalu penghapusan dwi fungsi ABRI merupakan satu - satunya agenda reformasi yang terlaksana dari 6 agenda yaitu adili Soeharto, supremasi hukum, perbaikan ekonomi, pendidikan (20% APBN/D) dan satu lagi saya lupa:p Namun anak bangsa tersebut sudah sepakat untuk tidak sepakat dalam hal aktualisasi dan realisasi agenda reformasi yang sudah direncanakan tersebut. Sehingga terjadilah pergolakan politik seperti sekarang ini.

Paham politik yang kita anut masih merebut kekuasaan dari "pihak lawan", bukan merebut kekuasaan dari rakyat. Hal ini yang menyebabkan banyak UU yang dibuat di Senayan sana selalu berlawanan dengan masyarakat.K embali ke diskusi kami bertiga kemaren (dua orang akademisi), mereka mencoba memprediksi muara dari BC gate ini. Sebelumnya saya memprediksi kalau PDIP dengan penguasa akan barter kasus, karena kasus MSG juga banyak menyeret politisi partai penguasa tahun 1999 ini. Kasus MSG ditukar dengan kasus BC. Walau sebenarnya nominalnya tidak sebanding, orde Milyar dengan orde Triliun. Hal ini mungkin saja menjadi ending dari kasus BC ini, namun apakah partai lain akan membiarkan begitu saja? Saya rasa partai lain yang menjadi pemain utama juga masih punya permintaan, jadi sangat kecil endingnya hanya sebatas barter kasus.

Kemungkinan kedua adalah ending yang paling maksimal adalah dicopotnya wapres. Walau skenario yang paling maksimal yang sudah dipersiapkan dengan menurunkan pemerintahan sekarang. Tetapi saya kira presiden kita sekarang sangat kuat, dia didukung lebih dari 60% rakyat, selain itu SBY sangat pintar untuk memainkan perannya. Jadi butuh energi yang super untuk menjatuhkannya. Namun kalau pun hal ini dimungkinkan, maka pemenang kedua di Pilpres kemaren otomatis menduduki kursi RI01. Masuk akal sebab partai yang paling getol dalam kasus ini adalah PDIP. Namun yang paling mungkin terjadi adalah dicopotnya wapres dan kemudian wapres pemenang kedua pilpres lalu bisa dilantik menjadi presiden. Nah, Hanura akan meminta kursi kabinet sebagai "jatahnya". Lihat saja bagaimana gencarnya FB untuk meminta SM dan BO untuk mundur. Semakin jelas mengapa SBY memilih orang non-partai untuk menjadi wakilnya di pilpress lau. Two Thumps Up. Coba bayangkan kalau wapresnya orang parpol dan kebetulan terkait asus BC ini. Pasti permainan politiknya lebih seru.

Yang kedua adalah masalah riset di negeri ini yang belum didukung penuh oleh pemerintah. Saya mendengar banyak sekali anak2 bangsa diminta untuk bekerja di Malaysia. Terakahir adalah untk mengembangkan farmasi di negara tetangga tersebut. Sekarang saja kita sangat sedih melihat orang Indonesia yang berobat ke dokter2 di RS Malaysia. Padahal dokter2 itu dulunya bersekolah di Indonesia. Saat ini obat2an masih disuplai dari Indonesia, namun beberapa tahun kedepan mereka akan punya pabrik farmasi yang jauh lebih canggih. Kita akan semakin jauh tertinggal. Dan hal yang membuat kita tertawa adalah kebijakan pemerintah yang satu ini. Mereka menyewa lahan kita untuk dijadikan perkebunan sawit, sementara rakyat kita kita dorong untuk menjadi TKI ke Malaysia. Mengapa lahan2 tadi tidak diberikan saja kepada rakyat Indonesia untuk dikerjakan? Toh TKI2 tersebut juga umumnya bekerja di perkebunan di Malaysia. Program transmigrasi yang dijalankan penguasa orde baru sebaiknya digalakkan kembali. Kita harus mengembalikan identitas bangsa sebagai negara agraris. Beri peluang dan kesempatan kepada masyarakat.

Ternyata banyak sekali akademisi kita yang care dan terus berbuat sendiri tanpa melibatkan pemerintah. Sbenarnya mereka sudah sering memberi gagasan dan masukan kepada pemerintah, namun jarang yang ditanggapi. Akhirnya mereka mengatakan, mari kita jalan terus, apa yang bisa kita perbuat untuk membantu masyarakat. Tidak mungkin kita menghambat kemajuan bangsa lain. Akan menjadi tidak etis nantinya. Yang bisa diperbuat adalah bagaimana supaya kita (Indonesia) tidak tertinggal lebih jauh lagi.

Rabu, 09 Desember 2009

Hari Antikorupsi

Tadi pagi2 sekali seorang teman menanyakan saya tentang rencana aksi 9 Desember 2009 hr ini di Bdg. Kemudian dia juga bertanya, apakah saya akan bergabung dengan kawan-kawan di Jakarta. Tentu saya senang bercampur sedih. Bgm yah rasanya?...:D. Kata teman saya senang bercampur sedih itu seperti gula dicampur dengan garam pada segelas air. Wah ngacau ini. Tapi yang mau tau rasanya silahkan coba saja, tapi ada bimbingan orang tua (BO):D

Sebenarnya saya sudah bertekad tidak akan ikutan demo2 yang berkaitan dengan politik, pemerintahan dan sebagainya. Saya sudah akan memutuskan hanya akan fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui UMKM dan pluralisme. Dua hal ini masih merupakan prioritas yang harus dilaksanakan.

Saya senang karena mereka masih mengingat saya dan mengharapkan saya ikut bergabung untk solidaritas melawan korupsi di negri tercinta ini. Saya sedih karena mau sampai kapanpun melakukan aksi2 seperti itu (red:demolah, solidaritaslah, demo facebook dan se-genus-nya) gak bakal berpengaruh apapun. Bukan berarti saya pesmis. Tapi memang negeri ini sudah di design menjadi bansa yang "korup". Saya mendefenisikannya seperti itu karena sejak dijajah VOC, bangsa kita sudah tersugesti dengan devide et impera. Lihat saja buktinya sampai saat ini devide et impera semakin tumbuh dan berkembang. Tidak ada bedanya ketika raja - raja kecil di Nusantara pada masa lalu yang selalu di benturkan oleh penguasa saat itu.

Pemberantasan korupsi ini sama seperti pemberantasan kemiskinan. Keduanya saling terkait satu dengan yang lainnya. Adapun "prestasi" yang disajikan kepada masyarakat yang dikatakan sebagai "keberhasilan" memberantas korupsi hanya sebagian kecil saja, dan bila kita analisis, maka pejabat korup yang ditangkap masih merupakan pejabat di daerah luar Jawa dengan kasus-kasus basi (expired). Padahal di P.Jawa korupsi itu sangat transparan dan ironinya lagi lembaga yang bertugas untuk memberantas korupsi berada di P Jawa. Kasus2 korupsi yang "berhasil" di ungkap antara lain kasus Bupati di Sulawesi, Walikota di Medan. Satu kasus korupsi di Jawa Barat adalah kasus pengadaan Damkar oleh mantan Gubernur Danny Setiawan. Namun kasus ini adalah kasus basi (expired). APBD yang di korup tahun 2005, tapi diungkapnya setelah sang Gubernur tersebut tidak berkuasa lagi. Dan kalaupun berhasil ditangkap, umumnya uang rakyat yang dikorup tersebut tidak kembali ke negara dan hukumannya hanya sebentar(paling lama 2 tahun). Jadi tidak akan ada efek era!

Namun apapun itu, tindakan orang yang beraksi solidaritas hari ini semoga menjadi peringatan bagi mereka sendiri untuk tidak korupsi. Inilah satu - satunya nilai penting dari aksi massa yang katanya akan berlangsung di seluruh Indonesia. Peringatan anti korupsi ini bukan semata ditujukan kepada pemerintah dan lembaga pemerintah, namun lebih kepada setiap individu yang merayakannya. Selamat hari anti korupsi.

Jumat, 20 November 2009

Up to Day

Masih ingat raker Komisi III DPR dengan Kejaksaan? Yaa, salah satu anggota DPR 2009-2014 Achmad Dimyati Natakusuma, Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan. Setelah mengajukan keberatan atas gelar perkara yang belum juga dilakukan Kejati Banten saat rapat tersebut, malam harinya Dimyati langsung di tahan terkait dugaan kasus korupsi. Dengan tragedi ini menjadikan Dimyati menjadi angota DPR yang pertama menjadi tahanan meskipun masih dalam proses dan belum terbukti bersalah.

Ternyata citra legislator kita masih relatif sama dan menjadi sasaran "penegak" hukum dan media. Penahanan ini merupakan sesuatu yang unik, namun media melihat kasus ini tidak begitu menarik. Karena mungkin media kita merasa tidak mendapatkan benefit lebih ketimbang masalah - masalah yang sekarang lebih di tonjolkan karena media bisa menjadi sutradara dan produser dan kini mencoba merangkap menjadi pemain dalam sinetron KPK, Kejaksaan, Kepolisian ditambah Pers. Peran media Indonesia masih belum seimbang, mungkin akibat dulu para jurnalis itu tidak belajar ilmu kesetimbangan dalam pelajaran Kimia.

Terlihat juga dalam kasus nenek Minah, terlepas dari banyaknya simpati yang mengalir ke nenek tersebut. Media memperlakukan seolah perusahaan sebagai pemilik perkebunan coklat tersebut bersalah 100 %. Bila media saat ini kita posisikan sebagai pengawas atau bisa diposisikan sebagai wasit, kira2 siapa yang akan mengawasi setiap tindakan dari wasit ini.? Hal ini yang mungkin membuat pemberitaan media masih sering berat sebelah. Bukankah mereka merupakan bagian dari SDM Indonesia yang "rata - rata" selalu berhasil membuat kesalahan, menyelesaikan solusi dengan melahirkan masalah dan seperti tukang parkir yang memungut retribusi bila hendak memuat suatu berita. Memang tidak semua seperti itu, masih ada fungsi yang masih berjalan dengan baik, cuma sebagian besar masih jauh dari sempurna. Semoga setiap hari kerinduan untuk menjadi lebih baik menjadi nyata dalam setiap lembaga yang ada di bangsa ini.

Kamis, 09 Juli 2009

Pesta

Semua orang senang berpesta. Termasuk mengadakan pesta merupakan hal yang sangat diinginkan setiap individu. Pesta identik dengan suasana gelamor, bahagia, senang dan sebagainya. Agar pesta tersebut menarik dan meninggalkan kesan yang baik bagi pengunjungnya, maka penyelenggara pesta harus mempersiapkan pesta tersebut sebaik mungkin. Bila diperlukan, sekarang sudah sangat banyak jasa Even Organizer yang membantu persiapan pesta supaya lebih menarik.

Demikian dengan pesta demokrasi di Indonesia yang baru saja berlalu. EO pesta ini adalah KPU. Namun sang KPU banyak dinilai orang tidak bekerja secara maksimal. Idealnya pesta demokrasi harus diikuti oleh seluruh warga negara Indonesia yang sudah mempunyai hak suara. Namun penyelenggara pesta yakti pemerintah SBY-JK dan EO nya KPU, tidak mengundang seluruh masyarakat yang sudah memiliki hak suara tadi. Layaknya pesta keluarga, maka jika ada sanak saudara yang terlewatkan undangannya, maka pasca pesta akan muncul masalah, uneg - uneg dan hal - hal yang kurang mengasyikkan. Meski pestanya dianggap meriah, namun bila ada yang merasa terlewatkan, maka pesta tersebut sedikit cacat.

Hal inilah yang sekarang banyak kita dengar di media. Banyak pihak yang komplain akibat tidak diundang pada "pesta" bangsa Indonesia. Dan masalah ini harus segera dibenahi, karena akan mengurangi legitimasi pemenang pemilu dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Kita juga harus aktif kepada saudara yang sudah kita ketahui akan mengadakan pesta. Misal dengan aktif mendatangi pihak pemerintah dari level RT, maka dengan sendirinya kita akan masuk dalam list undangan pesta demokrasi yaitu DPT (Daftar Pemilih Tetap)

Senin, 29 Juni 2009

Janji Politik sama dengan Proses Pemiskinan Rakyat

Pilpres atau pemilihan presiden tinggal seminggu lagi. Pilpres 2009 ini juga belum diketahui apakah satu putaran atau dua putaran. Bila satu putaran, maka fenomena berebut pohon, tiang listrik, tembok dan papan iklan raksasa akan segera berakhir.

Masing - masing kandidat melancarkan serangan satu sama lain di depan pendukungnya. Kejelekan kandidat lain merupakan senjata utama yang sangat ampuh untuk mempengaruhi masyarakat. Senjata ampuh yang kedua adalah dengan memberikan janji - janji politik. Si calon no urut 1 akan memberikan dan melakukan a...b...c. Si calon no urut 2 akan memberikan janji - janji b...c...a (not red:bank capek antri:D) serta calon nomor urut 3 memberikan janji c...a...b. Semua janji mereka sebenarnya sama saja. Hanya kemasannya saja yang berbeda. Tidak ada yang mempunyai janji yang kreatif, meskipun iklan - iklan mereka sangat kreatif untuk menunjukkan kelebihan si kandidat capres dan cawapres yang merupakan senjata andalan yang ketiga.

Dalam hal ini saya hanya menyoroti senjata ampuh kandidat capres dan cawapres yang kedua yaitu dengan memberikan janji - janji politis kepada masyarakat. Dengan janji yang mereka berikan sebenarnya sama saja dengan melakukan pemiskinan kepada masyarakat. Jadi sebenarnya kemiskinan tersebut "sengaja" diciptakan. Maksudnya adalah kemiskinan dijadikan komoditas dan tema utama kampanye mereka. Mereka senang mengekspose kemiskinan rakyat yang sangat banyak sebagai suatu "kesuksesan" dari proses pemiskinan yang dilakukan setiap pemerintah berkuasa. Janji - janji tersebut sama dengan proses pemiskinan rakyat. Sehingga sangat tidak mungkin pejabat pemerintah mempunyai derajat hidup yang sama dengan masyarakat di pelosok atau dengan mereka yang hidup di bawah kolong jembatan. Tidak akan mungkin pejabat pemerintah dan masyarakat bersama - sama duduk makan di hotel berbintang. Pasti akan ada ketimpangan kesejahteraan antara penguasa dan masyarakat biasa. Namun apapun cerita kampanye mereka, masyarakat sudah lebih pintar untuk menentukan pilihannya.

Semoga pilpres ini dapat berjalan dengan baik dan dianjurkan supaya rakyat menggunakan hak pilihnya untuk mengurangi kecurangan. Sebab dengan golput maka hasil perolehan suara nantinya sangat mudah dicurangi. Selamat menentukan pilihan anda.

Kamis, 23 April 2009

Sepakat untuk Tidak Sepakat

Kesepakatan biasanya persetujuan yang dilakukan dua individu atau dua kelompok atau lebih untuk suatu maksud tertentu. Kesepakatan ada dalam demokrasi berupa MOU (memorandum of understanding). Kesepakatan pada dasarnya adalah suatu hal yang baik, karena di dalamnya terkandung perdamaian, walaupun dengan berbagai persyaratan yang biasanya dituangkan dalam MOU.

Masa menjelang pemilu presiden ini sangat banyak parpol yang akan membuat kesepakatan bersama. Mereka seolah "berdamai" untuk merebut kakuasaan eksekutif setelah sebelumnya sama - sama bertarung untuk merebut kekuasaan legislatif. Inilah perdamaian antar manusia, ada batasan - batasan, ada persyaratan yang harus dipatuhi oleh masing - masing pihak. Kesepakatan yang pernah terjadi seperti kesepakatan antara GAM dengan pemerintah RI, kesepakatan caleg dengankonstituen bila terpilih, kesepakatan antara suami dan istri yang bercerai. Semua mempunyai persyaratan yang harus dipatuhi, ada batasan tertentu.

Perdamaian hasil sintesa manusia tadi berbeda dengan kesepakatan antara Tuhan dengan manusia. Tuhan memberikan kebebanan penuh kepada manusia. Inilah perdamaian yang sesungguhnya. Bahkan walau manusia yang sudah melanggar kesepakatan kepada Tuhan, tapi Tuhan sendiri yang datang untuk rekonsiliasi dengan manusia melalui kehadiran AnakNya. Perdamaian yang sungguh abadi.

Hari ini kita mendengar bahwa manuver partai politik sangat kencang. Berbagai lobi2 politik yang diharapkan bermuara pada kesepakatan banyak dilakukan. Tentu dengan berbagai persyaratan yang disetujui masing - masing pihak. Satu hal yang menarik, partai pengusung pemerintah tahun 2004-2009 akhirnya sepakat untuk tidak sepakat. Mereka akhirnya mengambil jalan masing - masing untuk merebut kekuasaan legislatif.

Dari etimologinya "sepakat untuk tidak sepakat" bisa diartikan bahwa ada masalah diantara kedua penguasa sekarang. Sehingga mereka sepakat untuk masalah tersebut untuk dibawa ke arena pertarungan pilpres. Ada persyaratan yang sudah dilanggar oleh salah satu pihak atau mungkin keduanya. Inilah dunia politik, terkadang mereka sepakat untuk berpisah, sama halnya dengan perceraian suami istri, ada kesepakatan untuk tidak sepakat lagi. Penyebabnya adalah perubahan visi, tidak ada lagi cita - cita bersama atau mungkin karena ada kepentingan kelompok yang lebih diutamakan. Muda - mudahan kedepan yang muncul adalah sepakat untuk sepakat, bukan sepakat untuk tidak sepakat.

Sabtu, 04 April 2009

Menang Tanpa Merasa Mengalahkan orang lain

Sistem pemilu saat ini di claim sebagai sistem pemilhan umum yang paling kompetitif. Setiap orang dengan kreatifitasnya masing - masing melakukan kampanye kepada masyarakat untuk menarik perhatian konstituen. Namun sekreatif apapun mereka yang bertarung, keputusan tetap berada di tangan rakyat.

Hal yang masih sering dijumpai saat kampanye adalah menjelekkan kinerja orang lain. Misal bila ia seorang caleg baru, mereka dengan mudah mengatakan bahwa caleg sebelumnya tidak pernah memperhatikan kepentingan masyarakat. Mulai dari pilkada hingga pemilu legislatif yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi, saya sering melihat incumbent sering dijelek - jelekkan kinerjanya. Saya rasa ini krang fair, bukan juga karena saya mendukung incumbent. Namun hal ini bisa menjadi preseden buruk buat bangsa ini. Dengan mudah kita menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Bisa saja memang karena dosa pemerintah beberapa periode lalu, sehingga keterpurukan masih ada di era sekarang.

Sebaliknya incumbent sering juga mengatakan bahwa calon yang baru belum tau apa - apa, mereka tidak punya pengalaman dan belum teruji. Sistem serang seperti ini tentunya akan menjadi contoh buruk di masyarakat. Sebab masyarakat akan cenderung meniru perilaku para pemimpinnya.

Dalam bersaing hendaknya para caleg maupun parpol harus lebih bijaksana. Musuh bersama (public endemy) harus dicari. Public Endemy pada bangsa ini masih sama dari jaman penjajahan dulu, seperti membenrantas kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan lainnya. Jadi berlombalah untuk memberikan visi dan misi mana yang lebih cepat untuk menurunkan dampak dari public endemy tadi. Caleg lain harus dipandang sebagi partner yang memicu kreatifitas kita untuk mencari solusi yang lebih baik lagi. Dengan demikian ketika pemilu usai tidak ada yang merasa dikalahkan. Kita juga menang tanpa merasa mengalahkan orang lain, sehingga jangan enggan menggunakan program orang lain yang kebetulan belum dipercaya rakyat.

Dengan demikian public endemy akan lebih mudah dikalahkan dan kesejahteraan yang merupakan muara dari semua janji - janji politik stiap parpol dan caleg akan terwujud dengan cepat dan lebih baik. Mari kita menang tanpa mengalahkan orang lain.

Selasa, 31 Maret 2009

Janji Kampanye

Pemili legislatif sudah tinggal menghitung hari. Masa kampanye parpol dan caleg-caleg juga sudah ampir habis. Namun, sepanjang pengamatan kami, semua parpol dan calegnya memberikan janji yang hampir sama. Pejuangan mereka merupakan bagaimana cara mengemas berbagai macam janji yang indah bagi masyarakat (konstituennya). Janji - janji tersebut masih bersifat normatif dan abstrak.

Bahkan banyak caleg yang tidak mengerti fungsi mereka di republik ini. Sebagai contoh, ada caleg yang menjanjikan untuk menggratiskan biaya pendidikan. Ini menjadi janji yang lucu, sebab mana mungkin DPR memberikan sekolah gratis. Fungsi mereka adalah sebagai legislator, penetapan anggaran dan pengawasan terhadap pemerintah. Jadi yang bisa berjanji untuk memberi pendidikan gratis adalah eksekutif (pemerintah). Sedangkan DPR hanya bisa memperjuangkan anggaran untuk pendidikan. Jadi secara teknis, anggota legislatif tidak bisa berbuat.

Sebenarnya ada janji yang bisa membuat rakyat bersimpatik. Kita telah mengetahui bahwa gaji anggota Dewan sangat besar, berbagai fasilitas lengkap dan mewah disediakan, serta kemudahan dalam urusan administrasi. Jadi sebaiknya parpol dan caleg memberi janji, bahwa kalau mereka mendapatkan kursi di DPR, maka gaji mereka akan diturunkan, mobil dinas cukup mobil pick up, supaya bisa mengangkut rakyat, dan berjanji akan membayar pajak yang besar. Jika demikian, pasti masyarakat akan simpatik. Sebab yang menjadi anggota Dewan sebaiknya bukan orang yang belum mapan secara ekonomi, namun orang yang memang benar - benar ingin mendharmakan dirinya untuk bangsa dan negara.

Jumat, 20 Februari 2009

Karakteristik Masyarakat

Dari roadshow tingkat RT, RW hingga kelurahan dari sedikitnya 33 Kecamatan, saya menemukan karakteristik masyarakat yang berbeda - beda. Hampri tidak ada yang sama. Persamannya paling sikap apatis dan pragmatis sebahagian orang terhadap kuncungan caleg ke daerah mereka. Namun kebanyakan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memberi hak suara pada pemilu nanti sudah mulai bagus.

Proses pencalegkan sudah pasti memerlukan dana yang besar, setidaknya untuk biaya operasional dari satu tempat ke tempat lain. Namun dari beberapa caleg yang punya "modal" saya dengar berani memberi gratifikasi kepada warga yang dikunjunginya. Disamping melanggar ketentuan kampanya, hel ini juga membodohi masyarakat. Ini membentuk karakter masyarakat menjadi peminta - minta atau kata lainnya pengemis. Dan tidak jarang segelintir orang yang "sudah biasa" menerima "uang panas" ini meminta - minta kepada para caleg. Namun ketika diberi pengertian kalau mereka sebenarnya dibeli dengan uang sekitar "20 ribu" puji Tuhan ada yang tersadarkan.

Ya karakter masyarakat kita dan para calegnya sudah merusak tatanan nilai demokrasi. Para caleg seolah enggan untuk berkompetisi dan cenderung menggunakan money politic. Yang dikedepankan adalah cara jual beli suara. Tidak mengedepankan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh caleg tersebut. Demikian masyarakat, mereka tidak menggunakan moment pemilu ini untuk memilih orang - orang yang berpotensi bagus seperti mereka memilih tempat rekreasi yang terbaik. Atau memilih sekolah anaknya yang bagus. Suara mereka hanya dihargai sekitar 20 hingga 50 ribu. Hanya cukup untuk makan paling lama 3 hari. Ribuan hari lagi (5 tahun) masyarakat akan kembali menderita.

Banyak orang menganalogikan pencalegkan sama dengan judi. Sebenarnya salah. Pencalegkan tidak sama dengan judi. Kalu bermain judi, kita yang bermain. Kita yang pegang kartu. Kita yang pegang kendali permainan. Jadi kalaupun kalah, kita merasa puas. Beda dengan pencalegkan, walau kita sudah kasih orang lain uang banyak, belum tentu suaranya akan diberikan pada kita. Orang lain yang pegang kendalinya. Kita tidak pegang kartu secara langsung.

Bagaimana dengan yang golput? Saya rasa jangan sampai golputlah. Jika caleg belum sempat mendatangi kita, toh tidak ada salahnya kita mencari tahu caleg yang ada di dapil atau sekitar kita. Kita bisa melihanya melalui TV One, Koran, Internet atau tanya kepada KPU dan KPUD. Sedikit banyak mereka pasti mengetahui caleg. Jika tidak mau mencari tahu, itu sama dengan milih kucing dalam karung. Mungkin se per sekian persen ada hasil yang baik. Namun masih lebih bijak milih kucing dalam karung daripada golput. Golput ruginya dua kali lipat. Tidak milih dan bisa saja surat suara kita dimainkan orang lain. Tidak ada yang tidak mungkin, yang tidak mungkin adalah memakan kepala sendiri. Maukah kita dirugikan orang lain?

Sabtu, 07 Februari 2009

Yang saya temui di Bandung dan sekitarnya

Pemilu legislatif tinggal 61 hari lagi sejak hr ini. Bahkan sudah banyak partai yang declare calon presidennya. Meskipun sebenarnya siapa saja bisa menyatakan maju sebagai calon presiden. Pesta demokrasi kali ini bisa menjadi pemilu terburuk atau bisa juga tahap awal perbaikan sistem demokrasi.

Terburuk karena sistem pemilu belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Sudah terlalu lama bangsa kita hidup dalam kebodohan. Dan bodohnya lagi, yang kita perangi adalah kemiskinan dan kebodohan negara lain. Akhirnya orang bodoh mengajari bangsa yang sudah bodoh. Hasilnya eksponensial dari bodoh, bukan kuadratik dari bodoh. Maksudnya adalah tentang "kepolosan masyarakat" yang bodohi oleh calon wakil rakyat.

Mungkin dari kita banyak yang belum mengetahui maksud dari KPU yang mensahkan contrengan pada kertas suara nanti. Bukan mencoblos seperti pada pemilu sebelumnya. Mencoblos dianggap masih sangat primitif dan menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan masyarakat yang menggunakan pola mencoblos masih rendah. Dan salah satu negara yang masih menggunakan pola primitif ini adalah bangsa Indonesia. Sehingga sebagian anggota KPU mulai mengarahkan agar menggunakan sistem contreng (V), (-) atau (x) pada caleg yang dipilih. Samapi saat ini tiga tanda contreng dan coblos masih berlaku sementara hingga keputusan final KPU dikeluarkan. Just menambah wawasan, negara yang masih mencantumkan agama di KTP didunia ini tinggal dua negara yaitu Indonesia dan Arab.

Sebagaimana kita ketahui fungsi DPR/DPRD adalah fungsi legislasi, pengawasan dan penampung aspirasi masyarakat. Ternyata masih banyak caleg yang belum paham akan tugasnya nantinya. Sehingga ada yang berkampanye jika ia terpilih maka pendidikan dan kesehatan akan gratis. Saya jadi heran, bukankah hal ini menjadi tugas pemkot atau pemda? Spanduk kampanye seperti ini bisa kita temukan di Cihelang dari partai artis nasional. Yang kedua adalah di daerah Cicadas yang membagi - bagikan uang kepada pedagang. Padahal mereka mengkalim bahwa mereka partai dakwah. Kebetulan ada kenalan yang menerima uang cuma - cuma. Nominalnya antara 500 ribu sampai 2 juta. Bawaslu kota Bandung sebaiknya lebih intens menawasi kampanye yang belum pada waktunya ini. Ada juga partai yang selalu menggalang dana untuk membantu negara lain agar tidak bodoh.

Saya sudah penah bilang kalau ada satu partai yang menyuruh kadernya untuk punya anak lebih dari 5 orang agar bisa menang pemilu periode 2019, bahkan jodohnya pun ditentukan oleh pengurus partai. Hal ini telah dimulai sejak 2004 lalu. Beberapa partai ada juga yang menggunakan dana kampanye dari hasil illegal loging.

Dengan banyaknya kecurangan tentu akan menimbulkan keapatisan masyarakat untuk berperan dalam pesta demokrasi nanti. Ini membuat demokrasi yang buruk di negara ini. Belum lagi ada oknum caleg yang seolah - olah membela kepentingan masyarakat. Di Kabupaten Bandung sana ada seorang caleg yang menghalalkan segala cara. Karena di kampung - kampung sana masih marak Minuman Keras alias miras, ia mengatakan kalau nanti dipilih oleh masyarakat khususnya pedagang dan penikmat miras, ia akan "melegalkan" miras. Walah... benar - benar perusak demokrasi.

Namun ada juga kabar gembiranya. Para caleg semakin banyak yang turun ke dapilnya dan melihat langsung kondisi sebenarnya. Tidak seperti biasa yang hanya menugaskan orang dan jika incumbent yang kembali caleg bisanya hanyan turun saat masa reses. Sekarang masyarakat punya kesempatan mengenal calon wakilnya nanti. Jadi disini akan terjalin hubungan emosional dan bisa meminimalisisr keapatisan masyarakat karena ada juga caleg2 yang baik dan benar. Hal ini juga akan mengurangi golput. Karena saat masyarakat golput, maka ruginya akan dua kali lipat. Pertama ia tidak ikut menentukan nasib bangsa ini 5 tahun kedepan melalui partisipasinya di pemilu. Kedua bisa saja suaranya di manipulasi orang kepada calon partai yang lain. Sebab dari pengakuan KPU, maka dengan sistem suara terbanyak maka mengacu kepada ranking suara tertinggi.

Misal di suatu dapil ada 7 kursi tersedia dan satu kursi kira - kira 200 ribu suara. Namun karena suara terbanyak maka walaupun tidak sampai target 2000 ribu suara, maka jika ia menempati 7 ranking teratas maka otomatis dia bisa mendapat satu kursi. Namun karena ada masyarakat yang golput maka pihak2 KPU bisa mempermainkan suara golput. Suara si A tadi bisa turun ke ranking 8 karena ada suara Golput yang ditambahkan kepada caleg tertentu. Kasus semacam inilah yang sedang terjadi di Pilkada Jatim lalu sehingga harus diulang di beberapa kabupaten. Suara kita tidak hilang, namun ada yang mempermainkan suara golput kepada calon lain. Apapun ceritanya politik di Indonesia masih sarat dengan kecurangan. Namun paradigma masyarakat kita yang mungkin karena pendidikan yang masih rendah selalu menganggap bahwa politik adalah sesuatu yang kotor. Marilah kita lihat sistem politik negara Amerika dan Eropa yang menjadikan politik sebagai Garda terdepan untuk memajukan bangsanya.


Jumat, 30 Januari 2009

Tidak ada usaha yang gagal

Intensitas saya bertemu orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan, umur, pendidikan akan semakin banyak. Hal ini akan menambah panjang daftar my precious experiencies. Walau sedikit melelahkan namun banyak pelajaran hidup yang bisa didapatkan dari banyak orang yang kami temui, meskipun ada juga sikap orang - orang yang menjengkelkan. Barangkali inilah dinamikanya. Saya coba analogikan ketika Tuhan Yesus "berkampanye" menawarkan keselamatan kepada umat manusia. Hampir semua orang menolak, hanya orang yang beriman dan percayalah yang bisa melihat indahnya tawaran Tuhan tersebut. Dalam hal ini saya coba analogikan bahwa tidak sedikit juga orang yang menolah Yesus ketika Dia melakukan pengembaraan bersama murid - muridNya untuk menawarkan keselamatan.

Sama halnya ketika kami melakukan hal yang sama, bedanya kami tidak menawarkan keselamatan, namun hanya bersifat silaturahmi dan perkenalan diri serta mengutarakan maksud dan tujuan hidup kedepan. Banyak orang yang harus ditemui dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu rumah rumah yang lain. Sungguh suatu pengalaman berharga dan menarik melihat berbagai karakter orang - orang. Dan banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini.

Pertama yang saya lihat adalah ketika sosialisasi orang untuk masuk menjadi caleg, umumnya orang yang kita minta dukungannya selalu bertanya dan berharap agar ketika sudah berhasil supaya jangan melupakan mereka. Banyak sekali yang mengharapkan hal seperti ini, terlalu banyak timbal balik yang harus dilakukan. Padahal belum tentu berhasil. Namun satu hal yang saya rasa sangat bijaksana adalah ketika orang yang kita minta dukungan berkata seperti ini :"Ketika sudah berhasil nanti, tolong jaga nama baik pribadi, keluarga terlebih kesukuan dan agama kita". Ini merupakan salah satu pelajaran berharga yang saya dapatkan ketika orang - orang berharap agar jangan melupakan mereka- mereka yang sudah mendukung seblumnya. Ketika orang - orang berharap agar menjaga nama baik kaumnya, maka kelak orang - orang yang duduk sebagai pelayan masyarakan baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif akan bersih dari KKN.

Pelajaran kedua adalah kita semakin disadarkan kalau kita bukanlah siapa - siapa. Jujur pada awalnya saya merasa sangat senang dipuji orang sebagai .... dan membuat saya merasa sangat hebat. Ini memang sifat manusiawi kita yang sangat suka terhadap pujian. Padahal masih banyak orang lain yang lebih sukses, namun ia tetap rendah hati. Mereka tidak sombong dengan apa yang mereka sudah dapatkan. Padahal saya melihat kesuksesan mereka luar biasa. Semakin banyak bertemu orang maka kita semakin tidak ada apa - apanya. Kita akan semakin tertekan ke posisi kebawah. Dan ini sangat bagus untuk mengurangi tingkat kesombongan. Sebab banyak sekali orang diluar sana yang sudah berhasil namun tetap rendah hati, mau bergaul dengan semua orang baik yang kaya, miskin dan sebagainya.

Hal ketiga mungkin akan menambah panjang daftar phone book HP saya dan juga jaringan kita, sebab hal ini merupakan hal yang penting juga. Ada petuah yang mengharuskan kita untuk berteman dengan sebanyak - banyaknya orang dan jangan menciptakan musuh satu orang pun. Berteman dengan ribuan orang masih belum cukup, tetapi bermusuhan dengan satu orang saja itu sudah kebanyakan.

Terakhir adalah sebenarnya semua yang kita usahakan tidak ada yang gagal. Semuanya berhasil. Hal ini saya simpulkan dari buku the failure of success (kegagalan yang sukses). Contohnya adalah walaupun kita gagal tidak dapat kursi, maka sebenarnya kita sudah menang. Ada hasil yang didapat yaitu kita sudah menambah kenalan dan teman. Bedanya jika tujuan utama berhasil, maka kemenangannya double. Tujuan utama berhasil dan kita mendapat kenalan banyak. Sungguh menyenangkan bukan? Namun bilapun tujuan utama belum berhasil, paling tidak kita sudah menjadi pemenang juga dengan mempunyai banyak sahabat - sahabat baru dan pengalaman - pengalaman berharga.

Konsultan politik

Masa sekarang adalah saat - saat orang bergerak menggalang kekuatan. Banyak strategi marketing "jual diri" yang dilakukan orang. Sebenarnya marketing caleg dengan marketing barang dan jasa hampir sama. Bedanya mungkin pada kepuasan si konsumen. Untuk jualan barang dan jasa, konsumen secara langsung akan mendapatkan manfaatnya sehingga tingkat kepuasannya terhadap barang dan jasa tersebut relatif terukur. Sedangkan pada marketing caleg, konsumen (masyarakat) tidak secara langsung merasakan kepuasan atau bahkan sama sekali tidak mendapatkannya. Persamaan marketingnya barangkali sama - sama membuatkan iklan dan promo - promo yang berusaha memikat hati konsumen.

Dengan banyaknya jumlah partai politik, otomatis meningkatkan jumlah caleg yang akan memperebutkan kursi legislatif dari tingkat dua hingga pusat. Dan hal ini menuntut setiap caleg untuk lebih giat lagi dalam usaha "marketing"nya. Saya mungkin bisa memprediksi kemungkinan adanya caleg yang datang ke dukun dan sejenisnya. Namun saya hanya coba mengutarakan hal - hal logis yang masih terjangkau oleh pemikiran manusia.

Dengan semakin ketatnya persaingan maka beberapa orang ada yang mengklaim bisa memenangkan seseorang untuk merebut kursi di legislatif. Banyak bermunculan konsultan politik yang bermain pada tataran strategi pemenangan dan marketing kepada masyarakat. Umumnya mereka "membaca" karakteristik masyarakat disuatu tempat dan menuangkannya dalam sebuah program yang memikat. Unsur komunikasi dan pendekatan emosional merupakan hal yang paling ditonjolkan. Sebenarnya ini cara lama, namun dalam bentuk kemasan baru. Hal ini juga tidak terlalu sulit untuk dilakukan, namun kita belum bisa melihat bukti keberhasilannya, karena hal semacam ini baru terjadi di pemilu tahun ini. Mungkin pasca pemilu nanti kita bisa melihat hasilnya, apakah seseorang dalam marketingnya butuh konsultan politik.

Selasa, 27 Januari 2009

Silahturahmi

Salah satu budaya yang baik dari masyarakat kita adalah silahturahmi, yaitu saling mengunjungi orang - orang dekatnya. Konon kata orang, jika kita rajin mengunjungi orang umurnya bisa panjang, karena ketika malaikat maut mau mencabut nyawanya, dia jarang berada di rumah, sehingga kematiannya selalu ditunda. Hmmm..mitos ini ada benarnya dan lebih logis lagi adalah membuat kita bahagia. Silahturahmi termasuk salah satu aplikasi kasih kita terhadap orang lain. Dengan mengunjungi orang kita bisa mendapatkan ilmu baru, wawasan, kenalan baru, teman atau bahkan saudara baru dan juga membawa sukacita dari orang - orang tersebut.

Semakin dekat jadwal pesta demokrasi di Indonesia, intensitas kunjungan ke rumah orang calon2 yang hendak duduk di parlemen semakin gencar. Ini merupakan salah satu dampak positif dari pesta demokrasi yang akan kita laksanakan. Sebenarnya secara tidak langsung mereka (red :caleg) sudah mendapatkan keuntungan, tetapi terkhusus bagi caleg yang mau berkunjung samapai ke rumah - rumah masyarakat. Walaupun mereka tidak berhasil mendapatkan kursi, hasil dari silahturahmi ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tidak bisa didapatkan dengan materi.

Masyarakat Indonesia masih memegang budaya ketimurannya yang selalu ramah dalam menyambut orang yang bertamu kerumahnya. Mereka sangat senag karena dikunjungi dan hampir tidak ada sambutan yang tidak mengharukan. Walau rata - rata pendidikan masyarakat kita masih relatif rendah, namun mereka sangat bersahabat. Ternyata saya bisa melihat bukti bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang bertatakrama, sopan dan baik hati. Walau baru sekali berkunjung ke rumahnya, mereka memberikan sambutan yang terbaik, bahkan mengharapkan kedatangan kita kembali untuk waktu2 berikutnya.

Sebaiknya budaya seperti inilah yang harus senantiasa dilestarikan. Kita bisa menjalin persaudaraan dan merekatkan hubungan persaudaraan tersebut. Dan saya yakin, jika komunikasi dan hubungan antar masyarakat terjalin, maka apapun tantangan bagi bangsa ini ke depan pasti bisa teratasi.

Senin, 19 Januari 2009

Berebut Pohon dan Tiang Listrik

Beberapa Pemandangan yang ada disekitar jalan Dago, lokasi dekat perempatan Maulana Yusuf dan Dago.

Pemilu sudah semakin dekat. Banyak caleg dari Parpol mulai mempublikasikan dirinya agar dipilih masyarakat pada pemilu legislatif nanti. Hal ini sebenarnya untuk menambah semarak pesta demokrasi yang sedianya diadakan 5 tahun sekali. Namun karena sekarang pemilu sangat sering dilakukan, maka hal seperti ini menjadi tidak uniq lagi, masyarakat justru gerah melihat baliho, poster, spanduk, banner dan atribut kampanye yang dinilai merusak pemandangan kota, mengurangi keindahan. Cara kampanye bentuk ini merupakan cara konvensional yang sepertinya kurang disukai sebagian besar masyarakat. Para Caleg pun seharusnya memahami kondisi masyarakat yang kurang suka terhadap pemasangan atribut berlebihan. Partai dan setiap calegnya harus bisa mencari cara lain untuk mendapatkan simpatik masyarakat.

Namun demikian pemasangan atribut, kian hari kian bertambah dan semakin banyak saja. Parpol - parpol sebenarnya mau menjaring suara rakyat. Tapi yang mereka lakukan adalah berebut pohon dan tiang listrik. Lari dari tujuan yang sebenarnya, yaitu berebut suara rakyat. Sekarang Tiang listrik, Papan iklan, tiang jalan Layang bahkan pohon menjadi "barang" rebutan para parpol. Sepertinya masyarakat bukan menjadi target utama parpol, tetapi pohon dan tiang listrik. Andai saja para pohon dan tiang listrik td bisa memilih di Pemilu nanti. Pasti mereka bingung mau milih partai mana, karena di satu tiang listrik atau pohon banyak sekali ragam partai yang menempel poster - poster maupun stiker:p.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP