Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2011

Ketidaksempurnaan yang Sempurna

Seorang tukang jual air memiliki sebuah pikulan yaitu dua buah tempayan di kiri - kanannya setiap ia memikulnya. Namun salah satu tempayannya sudah retak. Jadi saat tukang air tiba di tujuannya air di tempayan tersebut sudah tinggal setengah bahkan seperempatnya. Tentu saja setiap tiba di tempat penampungan akhir, tempayan yang bagus tersebut merasa sombong dan tempayan retak itu selalu minder dan malu. Terlebih kepada tukang pemikil air tersebut. Tempayan retak tersebut meminta maaf kepada tukang air tersebut. Tetapi rupanya si tukang air sudah mengetahui tentang hal tersebut. Hari-demi hari, minggu berganti, bulan berlalu ternyata disepanjang perjalanan, si tukang air tersebut selama ini ternyata sudah menebarkan benih tanaman bunga yang indah. Akhirnya, hingga dalam beberapa bulan si tukang air akhirnya mendapatkan bunga-bunga yang indah dan mewangi akibat tumpahan air dari tempayan retak tersebut. Jadi sekalipun nampaknya tempayan yang retak itu tidak berguna namun pemiliknya masih dapat memakainya untuk sebuah tujuan yang baik.

Apakah diantara kita ada yang merasa seperti tempayan retak tersebut? Kita merasa tidak sempurna, kelemahan ada di sana-sini. Wajah tidak seperti miss universe, suara dan tarian tidak seperti si Norman dan keberuntungan tidak seperti anggota DPR yang bisa menonton vidio porno saat sidang atau tidak sekaya Gayus dan Melinda karena "kelicikannya".:P.

Kekurangan dan kelemahan tersebut kadang membuat kita minder.

Brother-sisiter, kamu jadi berarti bukan karena tampangmu bahkan dompetmu sekalipun. Kamu berarti karena Tuhan yang menjadikan hidupmu berarti. Tuhan telah menyiapkan kita menjadi berkat bagi banyak orang dan berguna bagi kemuliaan-Nya.

Meskipun kamu merasa tidak berarti karena ditolak, dikecewakan, ataupun kamu telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti dimasa mudamu (misalnya udah suka merokok, lama lulus sekolah, senang begadang :P), Allah masih tetap mengasihi kita dan Dia punya tujuan khusus untuk kita. seburuk apapun hidup kita, masih bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Jadi apapun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan setia, karena Tuhan akan bekerja atasnya dan menjadikan segala sesuatu menjadi suatu kebaikan dan kemuliaan bagi nama-NYA.

Rabu, 06 April 2011

Jarak dua hati

Seandainya guru PPKN dan guru agama saat ini masih bijaksana, maka kondisi generasi sekarang akan jauh lebih baik. Mereka akan mengamalkan Pancasila dan menunaikan ajaran agamanya.

Kisah di sebuah kelas, saat guru PPKN atau guru agama mengajar di suatu kelas.

Ibu guru bertanya :"Mengapa ketika seseorang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara yang kuat dan keras?"

Suasana kelas hening, tampak murid ragu-ragu untuk menjawab.

Namun setelah sekian lama ada murid yang mencoba menjawab : "karena saat itu (saat marah), ia telah kehilangan kesabarannya, lantas ia berteriak dengan keras"

"Tapi....."Guru bertanya kembali :" Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mereka sedang berdekatan loh. Apa ia harus berteriak. Bukankah ia bisa berbicara dengan halus??"

Hampir semua murid memberi jawaban dengan berbagai macam argumen, namun belum satu orang pun murid yang bisa menjawab pertanyaan guru tersebut. Akhirnya guru menjawab :" Saat seseorang sedang dalam keadaan marah maka jarak hatinya dengan lawan bicaranya tersebut menjadi sangat jauh walaupaun mereka sedang berdekatan. Karena itu untuk mencapai jarak hati yang jauh tesebut ia akan berteriak sekeras mungkin. Namun anehnya, semakin berteriak keras maka semakin tambah kemarahan mereka dan akhirnya bertambah keras pula teriakannya karena jarak kedua hati mereka semakin jauh."

Sang guru masih melanjutkan :" Sebaliknya, apa yang terjadi bagi mereka yang sedang jatuh cinta? Mereka tidak berteriak. Namun saat mereka berkomunikasi dengan suara yang halus dan lembut keduanya akan bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Tanya sang guru lagi, namun murid-murid hanya terdiam tak ada yang berani memberi komentar. " Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tidak berjarak, walaupun terkadang mereka secara fisik sedang berjauhan. Cukup dengan sebuah tatapan mata sudah bisa mengungkapkan isi hatinya kepada pasangannya." Jelas sang guru.

Oleh sebab itu, ketika kamu sedang dilanda kemarahan, janganlah menciptakan jarak hatimu dengan orang lain. Lebih lagi janganlah kamu mengucapkan kata yang bisa menambah jarak hatimu dengan seseorang. Mungkin disaat sedang marah, kesal atau jengkel, diam merupakan solusi yang sangat tepat. Setelah beberapa waktu cobalah untuk kembali "mesra" dengan "lawan" mu itu.

Jumat, 26 November 2010

Memulai sesuatu dengan Harapan baru

Minggu tanggal 28 November nanti merupakan Minggu Advent I. Tidak terasa kita semakin dekat dengan kisah 2000 tahun lalu yang mana saat ini kita sedang menantikan kehadirannya untuk yang kedua kalinya. Sebagian orang mulai disibukkan dengan perencanaan kegiatan Natal dan liburan akhir tahun. 

Sebenarnya makna keseluruhan dari penantian (masa Advent) itu adalah mengingatkan bahwa kita semakin dekat dengan hari yang akan datang itu. Hal yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk masa itu. Mulai dengan kembali bermurah hati, mau berkorban dan suka menolong serta tindakan lain yang masih merupakan turunan differensial dari kasih. Ya semangat memberi merupakan kata kunci dalam case ini.

Teman-temanku, ketika kita masih mengatakan saya mengasihi dia, ini tentu belum cukup. Kita harus turun dan aplikatif ke lapangan, apakah dengan bentuk memberi pertolongan, menemani, dan memotivasi dan menjadi pendengar yang baik. Jadilah orang samaria yang baik hati itu. Saat hati kita sudah dipenuhi belas kasih, cepatlah implementasikan dengan perbuatan. Tolonglah segera, jangan tunggu Tuhan untuk menolong mereka yang kita temukan sedang terluka.

Suatu hari ada kisah indah pada sebuah keluarga yang soleh. Mereka punya tetangga yang sangat miskin dan selalu kelaparan. Sang ibu dari keluarga soleh ini selalu mendoakan tetangganya tersebut agar diberi Tuhan rezeki sehingga mereka bisa makan dan hidup. Suatu hari setelah si ibu selesai berdoa, sang anak segera berdiri dan meminta dompet si ayah. Sang anak berkata "ayah boleh saya ambil isi dompet ayah, sebab Tuhan sudah menjawab doa ibu"

Sangat sering kita menunggu agar Tuhan turun tangan untuk menolong seseorang. Padahal Tuhan justru menunggu kita melangkah dan mengulurkan tangan kepada orang tersebut. Lakukan sesuatu bagi sesama. Mungkin Anda adalah jawaban doa seseorang. Tidak perlu jauh-jauh memberi makan orang-orang kelaparan di Afrika dan di tempat2 bencana. Buka mata, buka hati, lihatlah orang di sekitar yang membutuhkan nasihat, penghiburan, makanan, uang, atau apapun yang bisa kita penuhi. Tolonglah mereka. Tolong juga saya yang sedang dalam pergumulan. Anda bersedia?

Bila hal ini sudah bisa kita lakukan, maka akan banyak Harapan manusia yang terkabul. Banyak doa orang-orang yang akan terjawab. Banyak kedamaian, sukacita dan damai sejahtera akan terealisasi di dunia ini. Semoga kita berani memulai merealisasikan harapan-harapan baru.

Ketika Harus Kehilangan

Suatu hari aku dan sahabatku bertengkar hebat. Pada awalnya semua dalam keadaan baik dan normal. Seperti biasa kami berkomunikasi dengan baik, sesekali berkunjung dan bersilahturahmi. Namun tanpa saya tau alasan yang jelas pertengkaran dan ajakan musuhan jauh lebih menguasai kami berdua. Saya juga menyesal membiarkan emosi ini menguasai hati dan akhirnya menghasilkan perpisahan. Saat merenungkan kejadian ini saya jadi teringat makna kehidupan.

Kehidupan sering diartikan dengan sejumlah kehilangan. Saat lahir kita kehilangan rasa hangat, aman dan nyaman dari rahim ibu. Saat dewasa kita kehilangan banyak waktu buat bermain, karena kita lebih banyak dituntut untuk belajar, bekerja dan mencari nafkah. Di usia tertentu mungkin kita kehilangan pekerjaan, orang-orang yang kita cintai. Di saat kita tua dan sakit kita kehilangan kekuatan kita. Di saat kita mati kita kehilangan nafas hidup dan segala-galanya. Jika hidup hanyalah kehilangan demi kehilangan, untuk apakah kita menjalaninya? Pertanyaan itu mengusik saya ketika seharian itu saya merasa kehilangan hubungan yang sudah terjalin baik selama ini bahkan dengan beberapa keluarganya.

Saat kehilangan, terlebih kehilangan orang-orang yag kita cintai merupakan sangat dimana kesedihan menjadi penyelimut utama hari-hari kita. Bahasa lainnya kita menjadi stress dan semakin dekat dengan dosa. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya kita kembali kepada Tuhan. Alhasil kita akan menemukan penghiburan, ketentraman dan kedamaian. Banyak kisah sejenis yang bisa diambil pembelajarannya dari Firman Tuhan. Saat Ayub menderita, ia tidak "memarahi" Tuhan, namun dia tetap setia kepadaNya. Kita harus yakin bahwa kehilangan ini merupakan pembelajaran dari Tuhan.

Meskipun saya gagal dalam menjalin hubungan ini, saya sangat percaya segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia. Saya percaya bahwa usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu tidak selalu mendatangkan kesuksesan, namun semakin melatih kita agar mengetahui mana jalan yang terbaik.

Apa yang sudah diterimanya muda-mudahan tidak akan pernah dilupakannya, dan saya tidak akan mengingat apa yang pernah saya berikan. Semua butuh ketulusan dan keiklasan.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hatimu terluka sangat dalam karena ditolak, maksa saat itu kau sedang belajar MEMAAFKAN.
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar KESUNGGUHAN.
Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar KETANGGUHAN.
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kau sedang belajar KEMURAHAN HATI.
Tetap semangat, tetap sabar, tetap tersenyum, tetap kuat dan terus belajar. Tuhan sedang mengarahkanmu menjadi semakin dekat dengan rencanaNya. TYM...



Kamis, 25 November 2010

Inkubasi yang gagal

Ternyata tidak hanya di dunia bisnis saja dibutuhkan proses inkubasi. Untuk dunia-dunia lain seperti dunia pertemanan juga butuh inkubasi. Setiap inkubasi pasti membutuhkan investasi agar kelak mencapai hasil yg diinginkan. Layaknya inkubasi sebuah perusahaan, untk dunia pertemanan juga perlu dipikirkan bagaimana agar inkubasinya berhasil.

Saat-saat kemarin saya coba membangun hubungan pertemanan dengan seseorang. Namun pada akhirnya inkubasi yg sudah saya bangun tersebut sepertinya sia-sia.

Berbagai hal sudah saya lakukan. Seperti memberi perhatian, waktu dan hal lain kepada dia. Dalam pertemanan sejati hal yang paling saya pegang adalah prinsip "memberi tanpa mengingat dan menerima tanpa melupakan". Ya apapun bisa kita berikan kepada teman, sodara, sahabat, kekasih dan lain sebagainya. Namun sangatlah tidak etis bila kita mengingat apa yang sudah diberikan. Bila kita selalu mengulik apa yang sudah diberikan berarti kita memberi tanpa ketulusan. Ada pamrih dalam pemberian itu. Dan hal utama yang semestinya kita berikan adalah kasih. Sebab kasih merupakan satu-satunya milik kita yang kalau kita berikan kepada seseorang, tidak akan berkurang. Bila kita meberi uang, otomatis uang kita berkurang. Tidak demikian dengan kasih.

Sebaliknya bila kita menerima sesuatu dari orang lain cobalah untuk tidak melupakannya. Sebab disinilah kita ditantang untuk berterima kasih atas pemberian itu dan bersyukur buat seseorang yang sudah memberi tersebut.

Saya tidak tahu apa penyebab inkubasi pertemanan tersebut gagal. Pertemanan tanpa kasih sebenarnya tidak ada gunanya. Saat ini saya hanya berharap bisa ketemu orang yang bisa diajak berteman dengan serius tanpa ada motivasi2 negatif didalamnya. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita tetap menatap masa depan yang lebih baik untuk segala hal.

Senin, 01 November 2010

pohon daun angin

Bila Anda mencintai seseorang, pastikan dia tahu...

POHON

Orang-orang memanggilku
"Pohon" karena Aku sangat baik dalam
menggambar
pohon. Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai
trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali, tapi
hanya ada satu wanita yang benar-benar sangat kucintai.

Dia tidak cantik, tidak memiliki tubuh seksi. Tapi, dia sangat peduli
dengan orang lain, religius. Gayanya yang sederhana dan apa adanya,
kemandiriannya, kepandaiannya, dan kekuatannya. Aku menyukainya, sangat!

Satu-satunya alasanku tidak mengajaknya kencan karena, aku merasa dia
sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku takut, jika kami bersama, semua
perasaan yang indah ini akan hilang. Aku takut kalau
gosip-gosip yang ada
akan menyakitinya. Karena itu, aku memilihnya untuk hanya menjadi
"sahabat".

Menjadi sahabatnya, aku akan bisa 'memiliki'nya tiada batasnya. Tidak
harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Selama tiga tahun
terakhir, dia selalu menemaniku dalam berbagai
kesempatan, sebagai sahabat. Dia tahu aku mengejar gadis-gadis lain.
Ketika dia melihatku mencium pacarku yang ke-2, dia hanya tersenyum dengan
berwajah merah. "Lanjutkan saja," katanya, setelah itu pergi
meninggalkan
kami.

Esoknya, matanya bengkak dan merah.

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis. Aku pun
berusaha membuatnya tertawa dengan mengajaknya bercanda sepanjang hari.

Kali lainnya, di sebuah sudut ruang dia menangis. Hampir 1 jam kulihat dia
menangis. Aku paham betul apa penyebabnya. Pacarku yang ke-4 tidak
menyukainya. Mereka berdua perang dingin. Aku tahu
bukan sifatnya untuk
memulai perang dingin, tapi Aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak
padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak
memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku.

Esoknya
dia masih bisa tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada
yang terjadi sebelumnya. Aku tahu dia sangat sedih dan kecewa tapi dia
tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia. Aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang kelima, aku mengajaknya pergi.
Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin
kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga
ingin mengatakan sesuatu padaku..

Aku bercerita bahwa aku telah memutuskan hubungan dengan pacarku.
Sementara, dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan
seseorang.

Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya
selama ini. Pria yang baik,
penuh energi dan menarik. Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku.
Aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika sampai di
rumah, sakit hatiku bertambah kuat, dan aku tidak dapat menahannya.
Seperti
ada batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan
ingin berteriak. Dan, aku menangis!

Handphoneku bergetar, ada SMS masuk. "DAUN terbang karena ANGIN bertiup
atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

DAUN

Aku suka mengoleksi daun-daun, karena aku merasa bahwa daun membutuhkan
banyak kekuatan untuk bisa meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali.

Selama tiga tahun aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi
"sahabat". Ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, aku

mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya:
cemburu.

Mereka hanya bersama selama 2
bulan. Ketika mereka putus, aku
menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Aku menyukainya dan
aku juga tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak pernah
mengatakannya?

Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu
untuk melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih. Waktu terus berjalan,
hatiku semakin sedih dan kecewa. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta
yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, mengapa dia memperlakukanku lebih dari
sekadar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati. Aku tahu kesukaannya,
kebiasaannya, tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa kupahami. Kadang
aku merasa bodoh, karena aku juga berkeras tidak mau mengungkapkan
perasaanku. Selain alasan itu,

aku mau tetap di sampingnya, memberinya perhatian, menemani, dan
mencintainya. Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan
mencintaiku..

Aku selalu menunggu telponnya setiap malam, dan mengharapkan SMS darinya.
Aku tahu, sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untukku. Karena
itu aku selalu menunggunya.

Tiga tahun berlalu, dan aku mulai merasa lelah.

Akhir tahun ketiga,
seorang pria mengejarku. Setiap hari dia mengejarku
tanpa lelah. Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada
penolakan dariku. Aku mulai berpikir, mungkinkah aku bisa memberikan
sebuah ruang kecil di hatiku untuknya?

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk
terbang dari pohon. Aku tahu Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh
dan ke tempat yang lebih baik.

Meski berat, akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi Pohon hanya tersenyum
dan tidak memintaku untuk tinggal. Aku sangat sedih memandangnya tersenyum
ke arahku.

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak
memintanya
untuk tinggal?"

ANGIN

Aku menyukai seorang gadis bernama Daun. Tapi, dia sangat bergantung pada
Pohon, sehingga aku harus menjadi 'Angin' yang kuat agar bisa meniupnya

hingga terbang jauh dari pohon.

Aku selalu memperhatikan Daun duduk
sendirian atau bersama teman-temannya,
memerhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu
di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya.

Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti Daun yang suka melihat
Pohon. Satu hari saja tak kulihat dia, aku merasa sangat kehilangan.

Di sudut ruang, kulihat Pohon sedang memperhatikan Daun. Air mengalir di
mata Daun ketika Pohon pergi.

Esoknya, kulihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan Pohon.
Aku melangkah dan tersenyum padanya. Kuambil secarik kertas, kutulisi dan
kuberikan padanya. Dia sangat kaget. Dia melihat ke
arahku, tersenyum dan
menerima kertas dariku.

Esoknya, dia datang menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu. Hati
Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi. Daun tidak mau
meninggalkan Pohon.

Bertahun berlalu, aku kembali menghampirinya dengan
kata-kata yang sama.
Meski sangat pelan, akhirnya dia mulai membuka dirinya dan menerima
kehadiranku. Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan
berusaha agar suatu hari dia menyukaiku.

Selama empat bulan, aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20
kali kepadanya. Hampir setiap kali dia mengalihkan pembicaraan, tapi aku
tidak menyerah. Keputusanku bulat, aku ingin memilikinya.

Suatu hari, dia bilang bahwa dia memberikan kesempatan untukku.

"Ah?" Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku menengadahkan
kepalaku dan berusaha memastikan perkatannya. Dia berteriak dan
mengatakannya
kembali.

Kuletakkan telpon, melompat, berlari seribu langkah ke rumahnya. Dia
membuka pintu bagiku. Kupeluk erat-erat tubuhnya.

"DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk

tinggal?"
(DS/)

Sumber :
http://layar.suaramerdeka.com/index.php?id=316

Rabu, 28 Juli 2010

Mengatasi Rasa Kecewa

Let overcome from dissapointment. Mari kita atasi perasaan kecewa.

Rasa kecewa itu menjadi bagian yang pasti selalu ada dalam kehidupan. Kita bisa kecewa kepada orang tua, orang tua kecewa kepada anak, masyarakat kecewa kepada pemerintah, karyawan kecewa kepada bos, istri kecewa kepada suami, kecewa kepada sahabat, kecewa kepada teman, kecewa kepada pacar, bahkan manusia juga bisa kecewa kepada Tuhan. Wah gawat ini :D.

Rasa kecewa itu sangat mudah mampir dalam kehidupan kita, tanpa memandang jenis manusianya, baik anak-anak, dewasa, tua, muda, kaya, miskin, berpendidikan, pejabat dan kepada siapapun. Rasa kecewa itu merupakan kondisi dimana harapan kita bertolak belakang dengan kenyataan. Harapan itu sendiri merupakan satu-satunya motivasi akhir kita untuk bersemangat menjalani kehidupan. Bila sering kecewa maka implikasinya kita kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan orang lain, siapapun dia. Keadaan bertolak belakang antara harapan dan kenyataan ini sangat mudah ditemukan dalam setiap hubungan yang ada. Orang bisa bertengkar, putus dari pacar, demo kepada pemerintah atau malas ke Gereja merupakan fenomena dari rasa kecewa.

Haruskah kita terlarut dengan kondisi kecewa tersebut?Harusnya tidak. Kecewa itu merupakan buah dari aktivitas kita.
Bila kita berani berharap, kita harus siap menghadapi kenyataan.
Bila kita ingin berhasil, jangan pernah takut untuk gagal. Gagal itu bersifat sementara bila kita berani bangkit dari kegagalan tadi.
Bila kita memiliki ambisi dengan nafsu yang berapi-api kita harus bisa menguasai nafsu tersebut bila bertolak belakang dengan keinginan tersebut. Kita harus mampu mengendalikan diri terhadap nafsu yang berlebihan agar tidak masuk dalam rasa kecewa yang mendalam.
Dalam hidup sangat banyak ditemui kompetisi, apakah itu mencari pekerjaan, mencari pasahang hidup dan lain-lain. Kalah dan menang bukan merupakan tujuan akhir. Tapi bagaimana kita memahami esensi dari kompetisi tersebut. Bila perjuangan untuk bekerja di perusahaan favoritmu belum tercapai, maka jangan larut dalam kesedihan dan kecewa.
Manusia hidup ditengah-tengah manusia lainnya. Kita senang bila bisa diterima di komunitas tertentu. Suatu saat kita juga harus siap dan jangan kecewa bila suatu saat ditolak dari kelompok kita. Ini hal yang lumayan sering saya alami.

Rasa kecewa itu merupakan bagian dalam hidup. Manusia tidak akan kebal terhadap rasa kecewa bila memiliki jam terbang yang tinggi dalam menghadapi masalah. Hingga akhir hayat rasa kecewa itu tetap menjadi teman setia manusia. Hanya sifatnya sinusoidal, kadang muncul ke permukaan yang membuat kita sedih, kadang bisa menjadi sebuah tekat baru dalam hati untuk membuat kita bangkit kembali.

Rasa kecewa itu bersifat asumtif, subjektif dan multitafsir yang berasal dari dalam hati manusia. Jadi beda manusia maka beda menafsirkan rasa kecewa tersebut. Rasa kecewa itu irasional. Kecewa bisa dipicu karena perasaan - perasaan bahwa kita merasa berhak atas segala sesuatu, kita merasa sudah benar dari sebuah hal yang semestinya dan kita merasa dikhianati oleh sang pacar misalanya :P.

Ada tiga hal untuk mengatasi rasa kecewa ini yaitu berpikir positif, kontributif dan produktif.
Anggap saja orang berlaku melenceng dari perbuatannya yang biasa, kita coba mengerti dan berpikir positif akan tindakan orang tersebut yang mungkin juga sedang dilanda sebuah masalah. Meskipun akibat tindakan orang tersebut menimbulkan rasa kecewa. Tapi dengan berpikir positif kita bisa meminimalisir rasa kecewa tadi. Coba beranikan diri untuk berkomunikasi dengan orang yang "membuat" kita kecewa tadi dan berikan beberapa masukan dan saran, terlepas dia mau menerima atau tidak. Yang pasti kita coba berpikir kontributif terhadap orang lain, meskipun hal ini sangat sulit untuk dilakukan. Coba tawarkan solusi dan teruslah berharap dan berusaha agar harapan kita dan orang lain sama-sama menjadi kenyataan. Dalam hal ini kita sudah produktif karena sama-sama menginginkan hal terbaik tidak hanya bagi diri sendiri tapi bagi orang lain juga. Jangan mau puas dengankeinginan kita sementara ada yang bersedih dan kecewa dengan keberhasilan kita. Jangan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

Perasaan kecewa harus dikelola dengan baik sehingga menjadi pijakan motivasi baru bagi kita untuk harapan yang baru. Kuncinya adalah pada penguasaan diri untuk berpikir positif, kontributif dan produktif. Kegagalan yang menimbulkan rasa kecewa bukanlah akhir dari segalanya, tapi jadikan sebagai awal yang baru untuk melangkah menuju kesuksesan.

Minggu, 25 Juli 2010

Tidak ada pilihan lain

Sebagai manusia kita diberikan keinginan bebas (freewill) untuk segala sesuatunya. Kita bebas memilih makanan, pasangan hidup, pekerjaan dan sebagainya. Namun pada kenyataannya sering kita dipaksa untuk memilih hanya satu dari sekian banyak pilihan tersebut. Tak jarang pilihan yang dihadapkan pada kita itu adalah pilihan yang sangat tidak kita sukai. Akhirnya mau tidak mau, dengan terpaksa kita harus mengambil pilihan tersebut dan berharap pada waktu yang akan datang akan tersedia pilihan yang lain yang lebih sesuai dengan keinginan kita.

Sebagai contoh dalam memilih makanan. Disetiap rumah makan disediakan banyak sekali pilihan jenis makanan.Namun terkadang kita hanya bisa memilih sedikit atau bahkan hanya satu dari pilihan makanan tersebut. Ntah karena kita sedang punya uang terbatas atau sedang mendapat larangan makanan tertentu dari dokter padahal sebelumnya makanan itu sangat kita sukai.

Bila kita sedang dalam situasi seperti ini, sangatlah wajar membuat diri ini menjadi stress dan terkadang hilang motivasi. Namun sebagai manusia yang harus berjuanga tak ada salahnya kita jalani dulu apa yang ada. Ambil satu-satunya pilihan yang tersedia tadi dan coba senantiasa berusaha mendapatkan pilihan lain yang mungkin akan tersedia di waktu berikutnya. Ini hanya masalah waktu dan kita. Ingatlah selalu bahwa Tuhan tidak akan selalu mengabulkan permintaan kita, namun Tuhan sudah pasti akan mencukupkan semua kebutuhan kita.

Mari tetap semangat menjalani kehidupan tanpa pilihan meskipun kita sudah diberi free will tadi. Roda dunia terus berputar, waktu tetap berjalan dan pilihan itu akan datang silih berganti. Saat itulah kita bisa meraih apa yang sebenarnya kita inginkan, mendapatkan free will kita.

Rabu, 23 Juni 2010

Efisiensi Pelayanan

Bila anda diberi satu karung pupuk, kemudian anda disuruh untuk menebarnya di sebuah kawasan hutan. Kira-kira apa yang anda lakukan? Demikianlah tantangan seorang pelayan atau yang dikenal dengan misonaris pada zaman2 dahulu.

Walau ditujukan bagi misionaris, namun pertanyaan diatas masih relevan dengan kehidupan manusia sekarang yang telah mendapat amanat agung tersebut. Bekal atau modal kita sangat terbatas yaitu hanya sekarung pupuk tadi, sementara jumlah tanaman/pohon di hutan tersebut sangat banyak. Bila kita asal tebar pupuk tadi maka efek dari pupuk tersebut bisa dipastikan tidak ada. Dia hanya lewat sejenak, seperti hembusan angin yang sesaat memberi kesegaran. Namun manusia diberi kebijaksanaan dan berakal.

Sebaiknya pilihlah beberapa pohon yang punya potensi untuk berbuah. Kemudian beri pupuk pada pohon yang sudah anda pilih tadi. Jadi sudah dipastikan kita akan mendapatkan pohon yang akan memberi kita buah beberapa waktu yang akan datang. Misi pelayanan kita akan mendapatkan hasil walaupun belum semua pohon bisa berbuah. Demikian juga dengan seleksi utnuk mndapatkan beasiswa ataupun pekerjaan. Lowongan selalu terbatas dan mereka yang membutuhkan jauh lebih banyak daripada pupuk si pemberi beasiswa atau pekerjaan.. Jadilah mereka menyeleksi beberapa orang yang potensial untuk terlebih dahulu diberikan beasiswa atau pekerjaan tadi. Dengan demikian usaha tersebut hampir tidak sia-sia, efektif dan bermanfaat.

Bila setiap orang yang punya modal berupa talenta yang terbatas dan ia berencana untuk memberikannya kepada orang lain, baiklah ia menyeleksi beberapa saja agar bisa mengahsilkan buah. Sehingga modal/talenta dia tadi tidak terbuang dengan sia-sia. Fokus kepada jumlah yang sedikit daripada perhatian kepada banyak hal akan jauh lebih baik.

Senin, 21 Juni 2010

Pemimpin yang baik

"Kalau kamu mau menjadi pemimpin yang baik, maka kamu harus menjadi anak buah yang baik terlebih dahulu"
Saya kurang tau asal muasal kalimat diatas. Namun hal itu cukup menghentak perasaan saya, karena terlalu berambisius menjadi pemimpin, padahal belum pernah menjadi anak buah yang baik. Wajar saja, setiap orang pasti selalu ingin menjadi nomor satu. Terlebih di kalangan orang batak. Setiap akan merantau dari kampungnya selalu dipesankan kepada sang anak : "ingotma, anak ni raja do ho"(Ingatlah bahwa kamu itu adalah anak raja). Semua orang batak merasa dirinya anak raja. Sehingga perilakunya selalu ingin menjadi pemimpin. Namun seperti kita ketahui, di daerah Toba (Tempat Orang BAtak;red) hampir tidak ditemukan bekas kerajaan seperti di Pulau2 lain. Raja namun tanpa rakyat. Begitu kondisinya sampai-sampai banyak pembawaan lae2 dan appara2 yang seolah-olah menjadi pemimpin. Tidak pernah mau merasakan menjadi anak buah.

Hal ini tentu menjadi suatu preseden buruk. Seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang pernah merasakan menjadi anak buah. Diluar itu bukan pemimpin yang baik. Messegenya adalah kalau mau menjadi pemimpin yang baik, jadilah anak buah yang baik terlebih dahulu.

Senin, 14 Juni 2010

Embargo kasih Tuhan

Kehidupan kita adalah kehidupan yang sebebas-bebasnya. Tuhan sengaja memberikan free will kepada ciptaan spesialnya yaitu manusia. Dengan keinginan bebas tersebut manusia bisa memenuhi segala keinginannya dengan sesuka hati. Sehingga bila suatu waktu kita tidak bisa mendapatkan satu hal, kita segera menggantinya dengan altenatif yang lain. Ibarat ketika kita menuju suatu tempat dan jalan menuju ke sana macet, maka dengan mudah kita mencari alternatif lain, mencari jalan lain. Bila kita sulit mengerti sebuah pelajaran, padahal besok ujian, maka dengan mudah kita membuat alternatif lain untuk bisa menjawab ujian, yaitu dengan membuat contekan/wangsit, atau mencontek teman.

Begitulah gambaran kehidupan kita yang sebenarnya penuh kepalsuan. Ketika senantiasa anda merasakan selalu ada jalan keluar, tanpa memperhatikan alternatif pilihan tadi, maka sesungguhnya kita sedang mencoba bersahabat dengan dunia ini. Padahal sebenarnya ada beberapa hal yang tidak bisa tergantikan. Misalkan orang tua alternatif, mama dan papa alternatif, istri/suami alternatif, iman alternatif atau Tuhan alternatif. Dunia ini seolah menyediakan segala yang kita butuhkan. Dan kita seolah diberi kepuasan, sehingga manusia semakin akrab dengan dunia yang sebenarnya dibungkus oleh dosa.

Bila manusia itu lebih memilih bersahabat dengan dunia ini, maka Tuhan akan meng-embargo manusia. Byangkan ketika alat-alat persenjataan Indonesia di embargo oleh Amerika. Indonesia menjadi negara yang seolah tidak berdaya. Berulangkali tanahnya dicaplok negara tetangga saat itu, namun kita tidak bisa berdaya untuk melawan karena embargo tersebut. Kita tidak punya alternatif selain mengalah pada saat itu.

Sesungguhnya ada beberapa hal yang sebaiknya tidak ada alternatif lainnya. Terutama tentang iman dan kepercayaan kita hanya kepada satu Tuhan. Namun sadar atau tidak sadar hal ini selalu kita cari alternatifnya. Dengan dosa yang selalu dan berulang-ulang, kesalahan yang itu-itu saja sebenarnya sudah membawa anda kepada alternatif tuhan yang lain. Satu-satu nya cara adalah dengan berseru padaNya. Minta tolong dan minta kekuatan agar Dia membantu kita. Sehingga Dialah satu-satunya alternatif pengaduan kita yang tidak akan tergantikan sepanjang masa dalam setiap kondisi. Sehingga dengan demikian Tuhan tidak akan mengembargo kasihnya kepada manusia.

Rabu, 26 Mei 2010

Krisis pemimpin berkarakter

Saat ini sangat sulit mencari pemimpin. Pemerintah sekalipun mengaku bahwa menemukan pemimpin untuk beberapa pos strategis pemerintahan butuh kerja keras. Bentuk Tim ini Tim itu belum tentu juga mendapatkan pemimpin yang sesuai kriteria. Lihat saja upaya pemerintah sekarang untuk mencari pimpinan KPK, mencari gubernur BI, kepala BKF dan banyak pos lainnya yang tidak serta merta diisi pasca "ditinggalkan" pejabat lama. Saya pikir tidak hanya di pemerintahan, banyak instansi, organisasi, LSM/NGO mengalami kesulitan sejenis dalam mencari pemimpin mereka. Kalau sekedar pucuk pimpinan mungkin masih mudah ditemukan.
Mungkin ini juga penyebab beberapa dari kita yang agak kesulitan mencari pendamping :D

Mungkinkah hal ini terjadi pada masa depan?

Barangkali saat ini Indonesia memang sedang krisis kepemimpinan. Dari 200 juta lebih penduduk hanya sedikit yang punya integritas dan komitmen untuk memimpin, dan dari sedikit itu sangat jarang yang mau muncul kepermukaan. Pada masa mendatang sangat mustahil kita bisa menemukan pemimpin kita bila sistem saat ini tidak dibenahi. Lihat saja berapa banyak partai yang pemimpinnya tidak "diregenerasi". Sebenarnya bukan tidak mau atau karena post power syndrom, namun karena pemimpin itu tidak ada atau tidak ditemukan.

APA SEBAB?

Proses pemiskinan karakter. Dengan kata lain penerapan budaya INSTAN hingga ke bentuk - bentuk dasar kehidupan. Hal ini terjadi 12 tahun belakangan atau pasca reformasi. Banyak nilai - nilai luhur bangsa yang sudah luntur (seperti semangat memberi, keuletan, kejujuran, sopan santun) dan pudarnya minat terhadap kebutuhan spiritual. Kita mengaku beragama, tetapi tidak ber-Tuhan. Banyak orang kehilangan jati dirinya, sehingga manusia hanya dinilai dari kulit luarnya saja seperti materi, prestasi akademis, gelar, pangkat, jabatan dan kekuasaan. Hal ini yang melahirkan generasi manja dan cengeng. Tidak lulus ujian bunuh diri, atau demo. Tidak dapat kerja di Indonesia pergi jadi TKI atau jadi wanita panggilan atau nyaleg (syukur-syukur jadi anggota Dewan :p). Dipukul ortu dikit ngadu ke komnas anak. Pokoknya manja dan cengeng.

Apakah masih ada solusinya?

Bila kita tidak mau kesulitan mencari pemimpin seperti yang dirasakan pemerintah saat ini, maka kembali ke beberapa prinsip dasar pendidikan yang diterapkan pada masa orde baru dulu. Kita harus akui beberapa peninggalan Soeharto sangat baik untuk dilanjutkan. Lihat saja program KB, Puskesmas, Porgam P4, pendidikan dasar 9 tahun dan lain-lain. Namun saat ini doktrin yang ada di masyarakat adalah segala kebijakan orba jelek dan harus dibuang. Terapkan nilai-nilai Pancasila disekolah. Perkuat kegiatan - kegiatan sosial dan keagamaan. Tanam dan pelihara budaya kasih dalam keluarga. Saya menemukan seorang bapak yang tega mengantarkan putrinya untuk menjadi peminta-minta di lampu merah dan di warteg2 setiap dia hendak pergi mengojek. Dia lakukan setiap pagi dan sore harinya dijemput. TERLALU!.
Barangkali kita pernah dengar pelatihan-pelatihan motivasi atau karakter seperti Mario Teguh, Rheinald Khazali, Andrias Harefa, Andri Wongso dan lain sebaginya. Hal ini tidak berpengaruh besar bila audiencenya sudah dewasa. Yang ada hanya peluang bisnis semata. Berbeda bila kita menanamkan karakter sejak usia dini pada anak-anak, pasti akan menimbulkan efek yang luar biasa bila kelak dia menjadi dewasa. Jadi bagi orang tua atau calon orang tua, jadilah motivator dalam keluarga. Prosesnya memang panjang dan berat, namun bila dilakukan sedikit-demi sedikit pasti bisa.

Satu hal lagi yang penting, mari kita samakan persepsi kesuksesan. Redifine arti kesuksesan. Arti sebuah KESUKSESAN itu bersifat SANGAT PERSONAL (berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya), jangan semuanya disamaratakan dengan ukuran kekayaan, prestasi akademis, kekuasaan dan kehormatan, punya suami/istri yang cakep dll. Dengan demikian akan muncul orang yang berani menonjolkan keSEJATIAN-DIRInya. Tidak dibuat-buat dan seolah-olah menjadi orang lain.

Nb :yang paling bertanggung jawab adalah orang tua, guru dan pemuka agama.:)

Minggu, 16 Mei 2010

Kisah Sang Bocah dan Sahabatnya

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah´pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa, paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan! Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan ......?? Tolong jangan marahi Ibuku ya ..??? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukul kami. Oh Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, namanya Anita ... menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei .. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta....Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan .. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut, ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku ...'

"Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar.!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ...."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah ..kamu akan mendapatkannya !!!"

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut didepan Gereja.
Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf Tuan.apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya ?"

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran... Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andy terisak.
"Apa katanya ?"
Ayah Andy berkata ,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu ...

"Apa yang dia katakan?"

"Dia berkata kepada puteraku.." Ujar sang Ayah
"Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."

Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita didalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta. Siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa. kecuali dengan Tuhan."

Jumat, 30 April 2010

Dewasa

Apa anda sudah merasa menjadi dewasa? Sepertinya masih ada yang harus kita cek tentang kehidupan manusia dewasa. Menjadi dewasa itu bukan hal yang mudah, namun setiap orang dituntut untuk menuju kepada kedewasaan.

Secara umur atau fisik, barangkali kita sudah termasuk dalam klasifikasi dewasa. Kalau boleh diberi batasan umur maka umur 17 tahun bisa disebut dewasa. Namun ternyata dengan usia diatas 17 tahun tersebut tak serta merta membawa kita kepada kelompok orang dewasa. Bahkan sebaliknya, sangat banyak anak2 di bawah umur justru dewasa sebelum waktunya.

Kedewasaan itu seperti saya sebut diatas, bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak kesulitan, tantangan yang sepenuhnya akan menjadi tanggungjawab kita sendiri. Sangat mungkin suatu saat beban dan masalah yang ada hanya menjadi tanggungjawab kita seorang, tanpa bantuan siapapun. Ya, tanggungjawabmu sendiri. Bahkan ada yang lebih ekstrim. Menjadi tua dan mati adalah sebuah kepastian, namun menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Sungguh menyedihkan bila kita mati sebelum dewasa.:p

Kedewasaan itu berhubungan dengan jam terbang kita dalam menghadapi masalah. Semakin banyak dan kita berhasil memanage masalah menjadi selesai sangat memungkinkan kita untuk menjadi pribadi yang dewasa. Mengeluh, bersungut-sungut merupakan indikasi bahwa kita belum dewasa. Tapi bagi mereka yang sabar, optimis dan berkarakter walaupun dalam situasi yang tidak menyenangkan merupakan indikasi kedewasaan seseorang. Mari kita jalankan peran kita, apakah sebagai seorang anak, suami, abang, adik, paman, kakek, pak RT dengan seoptimal mungkin dengan penuh kedewasaan.

Senin, 11 Januari 2010

Hidup Berkampanye

Setelah sejenak meninggalkan dunia maya, kini saya sudah kembali melakoni kehidupan yang akan mencoba mengubah segala akivitasnya menjadi lebih baik. Ada perubahan! Meskipun banyak orang anti terhadap perubahan. Sehingga banyak orang yang mengalami stress/depresi karena pada akhirnya lingkungan sekitar secara otomatis mengubahnya, tentu mengubah setiap individu tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Sistem yang akan mendominasi kehidupannya. Bila anda tidak mau diubah oleh sistem maka secepat mungkin kita yang mengubah lingkungan/sistem tersebut. Tentu hasilnya akan lebih menyenangkan kita. Kehidupan akan jauh lebih nikmat. Tentu kita harus berubah lebih cepat, bahkan kalau bisa secepat manusia tercepat Usain Bold. Tentu bisa, terutama bagi mereka yang sering menyanyikan lagu "lebih dari pemenang"

Rasa optimis harus menjadi modal dasar kita menjalani hari-hari baru ini. Meskipun agaenda demokrasi baru selesai tahun lalu, saya akan memaknai dan menjalani kehidupan ini dengan terus berkampanye. Berkampanye merupakan tugas utama kita seperti diperintahkan oleh Tuhan. Dan Yesus sendiri menganut cara hidup berkampanye. Dimana Dia pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk menawarkan keselamatan. Sama seperti kampanye pemimpin bangsa kita dengan konten atau materi kampanye yang berbeda.

Kita wajib berkampanye kepada orang lain. Menunjukkan teladan dan contoh yang baik. Tidak hanya dalam perkataan, tetapi dengan perbuatan. Dimanapun dan kepada siapapun. Sudah menjadi tugas masing - masing "pelayan" untuk melayani orang lain. Coba kita hitung sudah begitu banyak berkat yang sudah kita terima dariNya. So, masih kurang jika kita hanya mengucapkan "thanks God". Namun dalam ucapan bahasa Indonesia lebih cocok jika kita mengatakan "terima kasih". Terima dari Tuhan lalu kita kasih bagi orang lain. Terima....kasih....terima kasih kan. Begitu seterusnya. Mari kita set up kehidupan ini sehingga kita siap berkampanye bagi saudara-saudara kita.

Selasa, 08 Desember 2009

Rasa Percaya Diri

Sebuah pertanyaan menggelitik hadir dalam benak saya. Bagaimana mungkin saya percaya sama Tuhan, sementara sama diri sendiri saja terkadang saya tidak PD?
Kita saja sudah sering tidak percaya diri terhadap kemampuan kita, barangkali ini juga yang membuat iman/kepercayaan kita kepada Tuhan sinusoidal.

Rasa percaya diri merupakan modal seorang pemimpin. Berdukacitalah mereka yang tidak bercita - cita menjadi pemimpin, sebab setiap manusia itu wajib menjadi pemimpin, even hanya untuk memimpin dirinya sendiri. Nah, rasa PD ini merupakan satu dari sekian syarat untuk sukses menjadi pemimpin.

Ada tiga tipe rasa percaya diri yang saya temukan di buku West Point Way. Pertama adalah rasa PD yang dibutuhkan untuk memberi saran atau melontarkan perintah, bahkan rasa percaya diri pada saat diperhadapkan dengan hal - hal yang tidak diketahui dan hal - hal yang tidak dapat diketahui. Misal, saat kita tiba - tiba diminta memberi kata sambutan, atau diminta memimpin doa. Kita sering mengalami kejadian - kejadian mendadak seperti itu. Katanya ini adalah tipe PD yang paling dasar. Wah bila kita menolak melakukan hal - hal seperti memimpin doa, mau dibawa kemana dunia persilatan ini?

Yang kedua adalah merasa percaya diri dan cukup nyaman dengan diri sendiri sehingga anda bisa meminta masukan dan nasehat dari orang lain. Bisanya tipe seperti ini adalah mereka yang suka tampil apa adanya, mudah bergaul dengan siapa pun dan hampir bisa mengamalkan semua nilai - nilai Pancasila dalam kehidupannya.:p

Rasa Percaya Diri yang paling tinggi adalah rasa PD untuk mampu bergantung pada bawahan, mendelegasikan otoritas dan melangkah mundur untuk membiarkan mereka melakukan tugasnya. Adalah hal yang sangat kritikal bagi kita untuk memiliki rasa percaya diri pada bawahan agar dapat memberi mereka kesempatan untuk berhasil, dan bahkan untuk gagal. Ini merupakan rasa percaya diri yang jarang dimiliki oleh orang, namun umumnya militer terus dilatih hingga memiliki rasa percaya diri yang ketiga ini. Bagaimana mungkin anda akan membiarkan teman anda menyetir mobil di jalan raya sementara ia baru belajar menyetir mobil. Kemungkinannya selalu dua yaitu akan berhasil atau gagal. Dan kalau gagal resiko yang dihasilkan lumayan berat.

Namun untuk menjadi manusia yang percaya diri sepenuhnya maka kita harus selalu melatih untuk bergantung pada bawahan. Sebab kalau sudah berhasil maka akan ada multiflier effect yang baik bagi keduabelah pihak. Anda akan memiliki kepercayaan yang utuh dan mereka yang anda percayai akan merasa semakin bertumbuh dan merasa mendapat kesempatan untuk melakukan hal - hal yang jauh lebih besar dan lebih sulit. Bukankah setiap hari kehidupan ini akan semakin sulit? Sederhana saja, materi ujian di SMU tentu akan lebih sulit bila dibandingkan dengan materi ujian SMP.

Kita harus selalu melatih rasa percaya diri kita. Akan ada sesuatu yang dikorbankan untuk meningkatkan rasa percaya diri, even itu hanya waktu. Dan satu hal adalah jangan pernah takut gagal. Gagal merupakan kesempatan indah untuk kembali belajar sehingga kita semakin sempurna. Demikian juga dengan militer yang setiap hari harus latihan perang. Fisik mereka senantiasa dilatih sampai benar - benar kewalahan. Meskipun perang itu tidak pernah terjadi (masa sekarang). Dan tentu saya berharap sampai kapanpun jangan terjadi lagi peperangan. Dengan memiliki rasa percaya diri maka akan memudahkan kita untuk mencapai kesuksesan.

Kamis, 06 Agustus 2009

Meskipun tak ada emas yang bisa kuberikan,
Dan kasih saja mungkin tidak cukup,
Doaku setiap hari adalah selama aku hidup—
"Tuhan, jadikanku berarti bagi para sahabatku." —Sherman

Suatu kalimat yang mulia yang sangat menyentuh hati. Berteman ataupun bersahabat baru memiliki makna apabila keduanya merasakan manfaat. Namuns ering kali kita hanya menuntut manfaat dari teman atau sahabat kita tersebut. Kita berharap orang lain yang aktif terhadap kita.
Padahal akan lebih indah bila kita yang terlebih dahulu aktif memberikan suatu manfaat bagi orang lain. Sama seperti doa Sherman diatas, dia berharap agar ia menjadi berarti bagi sahabatnya. Dengan demikian yang namanya tuntutan atau pamrih akan hilang dengan sendirinya. Dengan berharap agar orang lain yang terlebih dahulu memberi manfaat bagi kita, ini sudah membebani si teman tadi. Yang terjadi adalah beban orang untuk memberi sesuatu yang berharga bagi kita.

Rabu, 05 Agustus 2009

Berjuang untuk semangat dan semangat untuk berjuang

Dalam hidup ini, berjuang dan semangat adalah dua komponen penting yang senantiasa berusaha dimiliki oleh manusia. Bulan Agustus merupakan bulan yang selalu menonjolkan tema - tema perjuangan dan semangat. Konon para pejuang kita memiliki semangat yang membara, sehingga perjuangan mereka sungguh luar biasa. Dengan semangat dan perjuangan yang ada mereka bisa memberikan hadiah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang sudah kita nikmati sekrang ini.

Saat ini, jiwa pejuang dan semangat yang dimiliki oleh generasi muda sungguh memprihatinkan. Hampir tidak memiliki semangat. Sehingga dibutuhkan perjuangan yang kuat untuk mendapatkan semangat tadi. Jadi kita cenderung berjuang untuk mendapatkan semangat dan kadang hal ini pun tidak berhasil. Semangat menjadi hal yang sangat berharga bila digunakan untuk berjuang. Berjuang untuk memerangi kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan dan ketertinggalan bangsa ini. Berjuang untuk memperbaiki akhlak dan moral masyarakat yang kian hari kian terdegradasi oleh arus instanisasi global. Berjuang untuk memerangi segala bentuk plagiat dan "mencuri" ide orang lain.

Dengan modal semangat apapun bisa dilakukan dengan baik. Namun saat ini mari kita coba berjuang untuk bersemangat kembali, sehingga dengan semangat yang akan kita capi bisa digunakan untuk berjuang demi kemajuan bangsa Indonesia. Selamat menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke 64 tahun. Mari semangat untuk berjuang!

Kamis, 07 Mei 2009

Haruskah pemimpin punya "musuh"?

Seorang pemimpin idealnya punya pengikut. Atau dengan kata lain dia disukai banyak orang, tentu punya banyak teman, jaringannya luas. Biasanya segala gerak - geriknya akan menjadi pusat perhatian para pengikutnya.

Pemimpin yang saya pahami adalah pemimpin yang berjiwa pelayan. Artinya dua peran ini menyatu dalam diri seseorang. Namun hal yang paling ditonjolkan adalah jiwa pelayannya. Jadi dia menjadi pemimpin bukan semata untuk menjadi penguasa, jadi bos atau di segani oleh pengikut - pengikutnya. Pemimpin ada untuk melayani para pengikutnya tadi, bila ada masalah dia yang harus menyelesaikan, bukan malah menunjuk anak buahnya untuk mengerjakannya. Bila terperangkap dalam ruangan yang sedang kebakaran, dia yang harus menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangan tersebut. Jadi bila mau menjadi pemimpin, tidak boleh main-main. Harus menjadi pelayan.

Namun saya melihat bila sebuah kepemimpinan telah dilakukan secara ideal, sesuai dengan gambaran yang saya uraikan diatas, timbul sebuah pertanyaan, haruskah pemimpin mempunyai musuh? Pertanyaan ini muncul karena saya melihat kondisi kepemimpinan bangsa ini. Dan tanpa sadar hal ini juga telah terjadi pada setiap organisasi. Akan ada muncul orang atau kelompok orang yang tidak senang dengan kepemimpinan kita. Walau sudah berlaku adil dan ideal, namun kelompok atau oknum yang kelak menjadi "musuh" pemimpin akan senantiasa ada. Saya melihat hal ini justru menjadi penghambat si pemimpin tadi bila ia berperan sebagai "musuh". Berbeda dengan orang yang melakukan kritik. Kritik juga bisa diberikan oleh teman atau pengikut si pemimpin tadi. Ini merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap pemimpinnya. Namun saya masih merenung, apakah setiap pemimpin memang wajib mempunyai musuh. Sama halnya seperti yang terjadi pada JK yang secara otomatis di "musuhi" oleh orang lain. Demikian juga kepemimpinan Yesus yang sudah ideal, namun masih juga dimusuhi oleh orang dan kelompok orang pada masa itu. Jadi sesungguhnya apakah pemimpin wajib mempunyai musuh??

Jumat, 01 Mei 2009

Chemistry

Hmmm..kata chemistry saat ini merupakan kata yang cukup populer didunia pertemanan, bahkan merambah hingga dunia perpresidenan. Kata ini menggambarkan kedekatan, kecocokan dan kenyamanan dua individu dalam suatu "hubungan". Dalam dunia percintaan dua mahkluk kudu punya kemistri dulu, sehingga mereka bisa memutuskan untuk berpacaran. Jadi ada kecocokan, artinya setelah memalui proses tertentu, akhirnya perbedaan bisa diminimalisir sehingga yang dominan adalah persamaan dalam banyak aspek.

Tidak hanya di dunia hubungan anak manusia, dunia organisasi juga identik dengan chemistry. Ibarat sebuah mesin, setiap onderdilnya harus memiliki kesamaan. Maka semua akan berjalan dengan baik. Tidak ada hambatan yang berarti. Kita juga mendengar sangat sulit menemukan pasangan capres dan cawapres yang mempunyai chemistry. Ada kalanya susah menemukan dua orang pucuk pimpinan di republik ini yang mempunyai chemistry, sehingga bisa menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Sebenarnya bukan hanya capres dan cawapres saja yang harus punya chemistry, namun kabinet yang akan terbentuk juga nantinya harus mempunyai chemistry satu sama lain. Sehingga segala permasalahan akan lebih mudah diatasi.

Setiap orang wajib membangun chemistry kepada siapa pun. Terlebih chemistry kepada Tuhan. Apakah kita cocok bersahabat dengan Tuhan. Sejauh mana kita paham akan kehendak-NYa, keinginan Tuhan. Dah satu hal yang sudah pasti, Tuhan sudah memberikan duluan keinginan kita, Dia sudah membangun chemistry-Nya pada saya, kepada kamu dan kepada setiap yang percaya kepada-Nya. Ini yang harus dibangun dan dipelihara. Hubungan yang baik kepada manusia terlebih kepada Tuhan.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP