Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Januari 2011

Batu Besar di Tengah Kota

Alkisah dijaman kerajaan dahulu, ada seorang raja yg baru memenangkan sebuah peperangan. Setelah pulang, sang raja mulai membangun kerajaannya secara perlahan tapi pasti. Setiap hari ia memandang dari jendela istananya setiap aktivitas yang dilakukan rakyatnya. Rakyat lalu lalang melakukan pekerjaannya. Hari-hari berjalan, lama kelamaan terjadi peningkatan perdagangan dan rakyat menjadi sejahtera.

Suatu malam raja punya ilham. Dia memerintahkan tentaranya untuk meletakkan sebuah batu besar di tengah jalan. Keesokan harinya Raja kembali memandang kegiatan rutinitas rakyatnya dari jendela istana. Tampak orang-orang sedikit terhalang dengan adanya batu tersebut. Ada yang marah-marah, memaki-maki dan mengomel. Perjalanan ke pasar menjadi sedikit lebih lama karena harus berbelok menghindari batu besar tersebut.

Setiap hari menjadi lebih crowded, terjadi kemacetan, banyak omelan dan makian. Tapi orang-orang masih berusaha keliling lebih jauh untuk menuju pasar.

Sampai suatu hari lewatlah seorang petani dari desa dari tempat tersebut. Petani itu tergerak untuk memindahkan batu besar tersebut agar tidak menghalangi lalu lintas rakyat menuju pasar. Ia mengambil palu dn pahat. Sedikit demi sedikit ia memahat batu besar tersebut dan membuang pecahan batu tersebut ke pinggir kota.

Tapi yang menarik, pada bagian bawah batu tersebut ia menemukan sebuah kotak yang berisi pesan dan emas yang tertanda dari Sang Raja. Diluar kotak yang berisi kepingan-kepingan emas tersebut terdapat tulisan dari sang Raja :"Ini hadiah bagi siapa yang mau dengan sukarela memindahkan batu besar yang menjadi penghalang menuju pasar". Petani mendapat hadiah dari Raja, karena dia punya inisiatif dan kerelaan untuk memindahkan batu. Berbeda dengan orang lain yang mengomel, memaki dan tidak mau berinisiatif memindahkan batu penghalang tersebut.

Kisah seperti ini sering juga kita hadapi. Tuhan sering meletakkan batu penghalang di perjalanan hidup kita. Akhirnya muncul masalah, urusan menjadi tidak lancar. Kita mengeluh, mengomel dan kadang memaki. Bahkan kita dengan cepat menyalahkan pelayan publik yang berkuasa saat itu. Kita menyalahkan pemerintah atau orang lain.

Sebenarnya Tuhan sedang mengamati kita dari surganya. Apakah kita mau memindahkan batu tersebut? Atau kita malah mengomel, mengeluh dan memaki? Atau kita berjalan menjadi lebih jauh untuk menghindar dari batu tersebut? Atau kita turun tangan dengan inisiatif sendiri untuk memecahkannya?

Percayalah akan ada kotak hadiah setiap kita berhasil memecahkan masalah berat dan hambatan besar yang ada di tengah hidup kita...

Minggu, 16 Mei 2010

Kisah Sang Bocah dan Sahabatnya

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah´pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa, paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan! Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan ......?? Tolong jangan marahi Ibuku ya ..??? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukul kami. Oh Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, namanya Anita ... menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei .. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta....Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan .. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut, ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku ...'

"Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar.!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ...."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah ..kamu akan mendapatkannya !!!"

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut didepan Gereja.
Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf Tuan.apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya ?"

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran... Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andy terisak.
"Apa katanya ?"
Ayah Andy berkata ,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu ...

"Apa yang dia katakan?"

"Dia berkata kepada puteraku.." Ujar sang Ayah
"Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."

Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita didalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta. Siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa. kecuali dengan Tuhan."

Jumat, 26 Maret 2010

Krisis Etika Lagi

Proses kehilangan seperti yang di tulis salah satu eks dosen maninov mulai terealisasi satu per satu. Kita kehilangan banyak hal, mulai dari kebudayaan, lahan subur, hutan, kehilangan sumber daya alam yang dirampok orang asing, kehilangan prestasi (olahraga), kehilangan daya saing (takut AFTA dll), kehilangan kejujuran dan kehilangan kemaluan, eh kehilangan rasa malu:D.

Tiga hari lalu saat perjalanan dari Jakarta menuju Bandung saya kebetulan satu bus dengan seorang bapak yang bekerja sebagai PNS di dept PU. Beliau Golongan IV A, namun bersahaja saja. Tidak seperti kasus yang sedang ramai sekarang, golongan IIIA, baru bekerja sebagai PNS kurang dari 10 tahun, "orang batak pulak", namun memiliki harta melimpah ruah. Bayangkan saja si bapak tersebut masih naik angkutan umum dari Jkt. Dia sudah berkarir sejak tahun 1979, berasal dari perguruan tinggi negeri dari Semarang, yang menurut saya harusnya sekarang sudah tinggal menikmati harta kekayaan. Namun sungguh bertolak belakang dengan yang ada dipikiran saya, kondisi ekonomi beliau tidak seperti pegawai pada umumnya yang "mengabdi" di dept PU, dept keuangan, pegawai beacukai, kepolisian, kejaksaan dll yang katanya banyak yang wah. Sudah lama jadi PNS, golongan empat A, namun tidak memiliki kekayaan duniawi yang melimpah. Masih menggunakan layanan publik dan tampak sangat bersahaja benaran, bukan di buat-buat.

Terlepas dari pengalihan isu yang dicurigai banyak pihak, kasus GT yang sedang ramai sekarang merupakan salah satu bukti bahwa bangsa ini sudah kehilangan rasa malu. Bayangkan penghasilan pegawai negeri sipil golongan IIIA hanya sekitar 1,8 juta (maksimal 5 juta) namun mempunyai harta lebih dari seorang bandar judi togel. Dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah yang diagung-agungkan itu, secara logika hal ini sangat sulit diterima. Sebab bila berasal dari warisan orang tua, yang namanya orang Batak di kampung sana, walaupun dia memiliki tanah seluas 1/4 danau toba dan ribuan ekor kerbau tetap saja tidak sebanding dengan harta kekayaan pns yang satu ini. Kalau dia menang togel dengan mengandalkan prediksi si cocomeo dan kebetulan menang setiap pemutaran (5 x 54(minggu) x 10(tahun) =2700 kali menang togel x rata2 1 juta masih juga kurang dan jauh dibawah harta kekayaannya sekarang. Soalnya sekarang dunia pertogelan muncul lagi sepeninggal Olo panggabean yang terkenal itu:p. Tapi jangan diikuti ya judi yang sau ini. Walau ada hubungannya dengan statistika :D

Si bapak yang bersama saya tersebut bercerita kalau di setiap instansi pemerintah atau pun swasta sebenarnya sudah diiisi banyak orang yang tidak benar, yang pikirannya hanya memperkaya diri sendiri. "Yang korupsi dan menyogok sebenarnya sama - sama koruptor", papar beliau. Pihak swasta banyak yang memberikan uang pelicin dan oknum (sangat banyak) instansi pemerintah banyak menawarkan berbagai macam proyek kepada swasta. Jadi proses ini sudah sistematis dan butuh waktu yang lama untuk memulikannya. Bayangkan setiap 2 bulan bos nya si bapak ini bisa ganti mobil, walau hanya warnanya saja yang diganti namun dengan mobil merk yang sama. Proses perampokan uang negara yang paling marak adalah setelah reformasi, artinya 11 tahun belakangan.

Mengapa peristiwa ini berulang dan semakin meluas? Ini akibat dari lemahnya aturan dan hukum yang diterapkan di negara ini. Bahkan saat itu kami (saya dan sibapak) sepakat jauh lebih baik menjadi seorang teroris daripada menjadi koruptor. Kalau bisa dua-duanya tidak ada sih:P. Sebab sebenarnya kedua kejahatan ini sama - sama pelecehan agama. Lihat saja yang korupsi apapun agamanya namun dia sebenarnya telah melakukan kejahatan agama. Membuat malu suku dan budayanya yang otomatis juga memalukan bangsa Indonesia sendiri. Jadi sangat wajar banyak rakyat yang marah dengan ulah oknum seperti ini.

Ada satu cerita dari sibapak yang lebih membuat kita miris. Saat itu rumahnya dimasuki maling. Kebetulan maling dan barang yang dicuri berhasil ditangkap dan pihak RT bersama masyarakat sepakat menyerahkan kepada polisi (polsek setempat). Seperti biasa barang bukti tidak bisa langsung dibawa pulang pemiliknya. Setelah beberapa waktu, saat korban akan mengambil barang bukti, polisi malah meminta uang tebusan 200 ribu dan ternyata sodara-sodara, malingnya sudah dibebaskan. Benar-benar sudah hancur negara ini. Si Bapak tadi mau bayar asal ada tanda terima/kwitansi, namun pak polisinya tidak mau. Akhirnya dengan sedikit ancaman warga kepada pak polisi yang terhormat tadi, maka barang bukti berhasil diminta tanpa uang tebusan. "Begitu mudah bisnis undang-undang dan peraturan di negara ini" terang si bapak tadi. "Lihat saja polisi lalu lintas. Tidak pakai helm 20 ribu, melanggar lalin 50 ribu, pencuri 800 ribu, pembunuh pun bisa dibebaskan dengan uang". lanjut si bapak tersebut. Wah, kayaknya entrepreneur jenis apa ini yah???:D

Sebenarnya kita dirampok sama bangsa sendiri dengan melibatkan bangsa lain. Lihat saja sumber daya alam kita yang di keruk sebanyak - banyaknya oleh perusahaan asing terutama sektor migas. Perusahaan sekelas Petronas saja sudah mampu untuk mensponsori laga seri Formula one (F1) yang terkenal itu. Liga Super Indonesia saja sanggup disponsori oleh Djarum Super. Harusnya BUMN kita lebih dari situ. Dimana peran BUMN kita? Apakah hanya untuk melaporkan kerugian setiap tahun? Dari zaman kemerdekaan rakyat sudah bayar biaya beban PLN, mau sampai kapan rakyat membayar biaya beban? Kok masih rugi, kok setiap waktu hendak dinaikkan tarifnya (rencana naik bulan Juli). Seandainya saja 1 atau 2 BUMN yang ada mau mensponsori ajang olahraga, mungkin prestasi Indonesia akan lebih baik di dunia internasional. Atau berikan bantuan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa. Ciptakan diplomat - diplomat handal. Sudah pasti akan jauh lebih bermanfaat.

Banyak masyarakat kita yang sudah kehilangan rasa malu-nya. Korupsi seolah sudah biasa. Solusi untuk permasalahan sekarang mungkin akan panjang baru bisa ditemukan. Namun tawaran perbaikan karakter untuk generasi muda sudah mulai dilaksanakan walaupun harus dibuktikan 20 sampai 30 tahun lagi. Tentu setelah generasi muda sekarang menjadi penerus di setipa instansi pemerintah dan BUMN. Peran dunia pendidikan, keluarga dan agama sangat diperlukan untuk mengubah krisis etika yang merasuki setiap bangsa ini. Undang2 dan peraturan diatas kertas memang sudah sangat bagus, namun tidak akan mudah direalisasikan dilapangan dengan etika pejabat publik kita yang masih dibawah garis kemiskinan.

Mudah-mudahan masih ada pejabat publik yang mau jujur, perwira yang jujur dan siap untuk melawan kejahatan korupsi, sehingga setiap kita tidak serta-merta mengenaralisir instansi pemerintah tidak baik seperti yang banyak terjadi akhir - akhir ini.

Rabu, 23 September 2009

Berubah

Kata berubah kian hari kian populer. Saat mendengar istilah ini, yang terbayang dalam benak kita adalah mencoba untuk lebih baik. Mungkin sebelumnya perilakunya kurang baik. Yang malas ingin menjadi lebih rajin. Yang perokok ingin berhenti dari kebiasaan merokok.Yang sombong ingin menajadi lebih baik dan lain - lain. Bagaimana cara berubah yang baik? Apa sebenarnya yang diubah dalam diri kita?

Perubahan itu harus dianggap sebagai kebutuhan. Sama seperti belajar. Belajar sebenarnya dilakukan terus - menerus. Tidak ada kata tamat atau wisuda untuk urusan belajar. Demikian dengan perubahan. Ia akan ada selama kita hidup. Perubahan akan selesai katika manusia sudah tidak bernyawa lagi.

Sebenarnya untuk berubah itu mudah. Namun terkadang manusia tidak mempunyai cara untuk berubah. Kita selalu memakai cara lama yaitu mengubah perilaku. Mengubah perilaku sifatnya sementara. Misal saat seorang perokok diminta untuk tidak merokok lagi. Mungkin beberapa hari ia bisa berhenti merokok. Katika ada masalah/stress maka orang tadi sangat mungkin untuk kembali merokok. Ini perubahan yang sifatnya sementara. Sebenarnya akan lebih baik bila yang diubah itu adalah kesadarannya. Bagaimana melakukan penyadaran kepada diri kita untuk berubah. Jika kita mencobanya, maka semua perilaku kita yang "lama" tadi akan berubah menjadi perilaku yang baik.

Sabtu, 18 April 2009

Penurut

Sejak kecil kita selalu diajarkan orang tua untuk menjadi penurut. Penurut disini berarti meng-iya-kan perkataan dan perintah dari orang tua tersebut. Sang anak juga mau menuruti segala nasehat dari orang tuanya, meskipun sesekali ada yang dilanggar. Dan nasehat orang tua yang diberikan kepada anaknya merupakan nasehat yang baik, yang sesuai dengan nilai maupun norma - norma kehidupan.

Sang anak, idealnya tinggal bersama orang tuanya hingga berumur 17 tahun. Atau sama dengan ketika anak tersebut tamat dari SMU. Selama 17 tahun itu pulalah orang tua bisa membuat anaknya menjadi penurut paling tidak kepada orang tua. Sungguh waktu yang sangat cukup banyak membuat sang anak menjadi anak yang penurut.

Lepas dari orang tua, sang anak tadi akan memasuki dunia yang baru, lingkungan yang membuatnya berubah karakter. Bahkan dalam waktu singkat akan ada orang yang bisa mengubah perilaku si anak tadi menjadi penurut kepadanya, dan berontak kepada orang tuanya. Biasanya kelompok - kelompok tersebut berupa aliran - aliran kepercayaan. Namun sungguh mereka sangat hebat bisa membuat orang beritu loyal dan militan saat telah bergabung untuk melakukan tujuan tertentu.

Saya melihat fenomena ini pada seseorang. Dia mempunyai militansi dan loyalitas yang sangat luar biasa, bahkan sampai - sampai rela meninggalkan orang tuanya. Saya jadi merenung apakah masih kurang waktu selama belasan tahun untuk membuat sianak tetap menjadi anak yang penurut kepada orang tuanya. Alangkah lebih indahnya bila ada orang yang menciptakan orang - orang loyal dan militan kepada bangsa ini. Bila kita liat TNI yang katanya paling militan terhadap bangsa, ternyata masih jauh kadar loyalitas dan militansi daripada kader sebuah kelompok - kelompok fundamentalis. Mereka benar - benar bisa mencuci otak sehingga menjadi pribadi yang baru.

Barangkali dasar dari iman ataupun karakter si anak saat masih bersama orang tuanya belum terbangun dengan baik, sehingga pikirannya masih labil dan masih bisa dipengaruhi oleh orang lain.

Rabu, 25 Maret 2009

Rezeki

Setiap orang punya rezeki masing - masing. Namun kebanyakan kita memahami rezeki merupakan suatu bentuk materi. Memang rezeki identik dengan keberuntungan. Padahal bentuk - bentuk rezeki yang turun itu tidak selamanya dalam bentuk materi yang bisa dilihat (berupa benda dan tidak abstrak). Sering rezeki itu datang dalam bentuk yang abstrak dan sering tanpa sadar kita mengabaikannya. Kita menganggapnya suatu hal yang biasa. Jadi rezeki dalam bentuk abstrak tersebut menjadi tidak spesial.

Kita yakin bahwa rezeki itu datang dari Tuhan. Sudah selayaknya kita mengucap syukur bila rezeki tersebut telah kita terima. Beberapa waktu lalu saya kagum dengan seorang bapak. Waktu itu ada acara mendadak, ada seorang koordinator mengumpulkan warga dalam waktu 2 jam seblum acara di mulai.

Saat kami datang, jumlah warga yang datang tidak bisa dibilang sedikit, hampir sam banyaknya seperti di tempat - tempat lain. Namun si koordinator minta maaf kepada si bapak, karena dia merasa jumlah warga yang dia kumpulkan masih terlalu sedikit. Nah si bapak mengatakan, dia sangat bersyukur, mungkin rezeki saya memang sejumlah orang yang hadir ini.

Ketika kita mengundang orang sudah merupakan suatu rezeki yang besar. Ketika jumlah yangb datang seadanya, ini lebih menggambarkan besar kecilnya rezeki yang diterima. Dan yang terpenting adalah bagaimana berterimakasih dan bersyukur. Bukan semata bersyukur ketika rezekinya besar. Mungkin bahasa rohaninya rezeki bisa kita sebut berkat. Semoga setiak hari Tuhan tidak lupa memberi berkatnya kepada kita. Tidak hanya berkat kehidupan dan umur, namun rezeki - rezeki lain yang bisa dirasakan oleh orang lain.

Rabu, 31 Desember 2008

Perang di saat Natal 2008

Sungguh miris, disaat perayaan hari besar umat beragama, tentara Israel dengan alasan ingin menumpas pemberontak Hamas memborbardir kawasan jalur Gaza yang menewaskan ratusan masyarakat sipil tak berdosa. Penyerangan ini bertepatan saat umat Nasrani merayakan Natal, umat Muslim sedang merayakan tahun baru Hijriah dan menjelang pergantian tahun Masehi.

Seharusnya kita mengetahui bahwa saat - saat perayaan hari besar agama, nuansa sukacita dan kedamaian pastilah menjadi pesan utama bagi jemaat - jemaatnya. Namun, ketika melihat pemberitaan di media Indonesia, lagi - lagi saya melihat interpretasi sebahagian orang Indonesia yang menganggap bahwa penyerangan tentara Israel terhadap Palestina merupakan konflik agama.

Padahal dengan alasan diatas tadi, sudah sangat jelas bahwa semua agama, terutama pada masa perayaan hari besarnya pasti mengedepankan dan menyerukan kedamaian. Tidak salah memang sebagian orang berunjuk rasa untuk mendesak tentara Israel menghentikan serangannya terhadap Palestina, namun kita juga harus paham bahwa konflik mereka bukan konflik agama, tetapi murni perebutan teritorial dan geografis antara dua negara tersebut.

Saya senang bahwa di moment natal sekarang ini nuansa pluralisme sangat kental terasa di mana - mana, terutama di kota Bandung. Kami dari Kaum muda lintas agama bersama - sama merayakan hari besar keagamaan dimula dari Hari Raya Haji, Natal hingga tahun baru tanpa ada rasa canggung satu dengan yang lainnya. Sahabat - sahabat dan teman - teman saya sepergerakan juga memahami bahwa gejolak internasional tersebut jangan sampai merusak rasa pluralisme yang ada di Indonesia, karena konflik mereka tidak ada sangkut pautnya dengan konflik agama. Sekali lagi murni karena teritorial dan geografis. Salah satu buktinya adalah bahwa di moment Natal pun tentara Israel tetap melakukan tindakan biadabnya. Jika mereka penganut Nasrani yang baik tidak mungkin di momen Natal yang menyerukan kedamaian, mereka melakukan perang, seperti yang dilakukan tentara Israel sekarang ini.

Pemahaman pluralisme akan terus dilaksanakan sehingga, perbedaan kita tersebut bisa menjadi kekuatan kita untuk membeangun bangsa ini. Dan setiap orang hendaknya jangan salah lagi dalam menginterpretasikan konflik Israel-Palestina tersebut sebagai konflik agama, namun murni karena perebutan geografis dan teritorial. Saya sendiri sangat mengutuk serangan Israel tersebut yang banyak menimbulkan korban tak berdosa. Semoga kedamaian bisa segera terwujud di jalur Gaza.

Jumat, 12 Desember 2008

Bangsa yang munafik.,in Moral

Perubahan kerap menjadi janji - janji para calon penguasa republik ini, baik eksekutif, legislatif bahkan yudikatif. Beruntung masyarakat Indonesia sudah banyak yang "pintar", sehingga tidak serta merta percaya akan janji - janji politis tadi.

Tebukti sudah, ketika seseorang menduduki kursi di pemerintahan, perubahan tersebut memang terjadi, tapi perubahan ke bentuk negatif yang lain. Hanya berupa transformasi dari suatu bentuk ke bentuk yang lainnya. Kalau bahasa fisikanya, transformasi dari time ke frekuensi. Misal, dulu orang dengan mudah untuk menyogok secara terang - terangan, namun sekarang orang tidak mau menyogok pemerintah, tetapi pemerintah melakukan pemalakan kepada para investor bahkan masyarakat kecil. Kalau dulu pemalakannya cuma satu kali, tetapi dalam kuantitas besar, sekarang frekuensinya menjadi banyak dengan kuantitas kecil. Sama saja toh.

Katanya karakter ketimuran orang Indonesia yang ramah dan attitude yang baik, saat ini hanya menjadi cerita/ romantika sejarah saja. Masyarakat kecil pun sudah banyak yang berbuat jahat. Tidak heran, mungkin ini karena keadaan ekonomi, tetapi bila dibiarkan maka karakter bangsa ini kian lama makin luntur. Contoh sederhana, ditempat - tempat pariwisata, kita kerap menemukan penipu dari masyarakat sekitar. Kadang para wisatawan "dipaksa" untuk membeli sesuatu yang katanya ciri khas dari daerah tersebut dan harganya tidak tanggung - tanggung.

Orang - orang menganggap bahwa di negara ini semua orang beragama, namun tidak sulit rasanya kita menemukan hal - hal yang tidak baik. Jalur birokrasi yang panjang, sistem administrasi yang korup, hingga pencopetan di terminal maupun bandara sudah merupakan pemandangan yang "indah" bagi setiap orang. Pemalakan oleh oknum polisi merupakan hal yang sangat biasa. Bahkan di Mesjid pun sepatu, sandal dan kotak infaq bisa raib.

Apakah yang salah? Dimana peran kita dalam menghadapi krisis multidimensi ini? Bangsa ini telah banyak kehilangan, kehilangan kebudayaan, tempe, ahu yang di ambil oleh bangsa lain, pulau sipadan dan ligitan, batik yang hampir di ambil oleh negara tetangga, sumber daya alam yang hilang akibat dieksploitasi oleh bangsa lain. Bahkan, orang Indonesia telah kehilangan malu, sehingga semua hal yang dilakukannya seolah - olah sesuai dengan norma yang berlaku. Kesadaran ini perlu di sebar luaskan seperti bola salju yang menggelinding. Agar kita berhenti menjadi bangsa yang munafik. Hal utama yang harus diperangi adalah bagimana mencerdaskan moral masyarakat, bukan memperbaiki keadaan ekonomi dan hal - hal lain. Jika moral sudah baik, maka masalah lain akan lebih mudah untuk diatasi.

Siapa yang paling bertanggungjawab dalam memperbaiki moral? Jika kita mengaku manusia beragama, maka pemuka agamalah yang berada di jalur terdepan dalam meningkatkan moral anak bangsa, kemudian dari keluarga dan para pendidik di pendidikan formal. Dengan demikian akan tertanam karakter yang baik. Orang Indonesia harus memiliki konsistensi, komitmen dan moral yang baik untuk keluar dari segala krisis yang menerpa negri ini.

Kuis atau Judi/Judi atau Kuis

Akhir - akhir ini kita banyak menemukan kuis di televisi, entah itu di moment hari besar agama, hari besar nasional, ataupun pagelaran/pentas kesenian tentatif. Beberapa tahun yang lalu sejak peralihan Kapolri dari Jend. Dai Bahctiar kepada Kapolri Jend.Sutanto, segala bentuk perjudian menjadi tugas utama bagi Kapolri Sutanto. Segala jenis perjudian mulai dari perjudian di dunia nyata hingga di dunia maya, ditumpas hingga ke akar - akarnya (walaupun sekarang masih ditemukan, red)

Program pemberantasan judi tersebut merupakan suatu prestasi yang sangat bagus, karena bisa menekan angka kriminal di tengah - tengah masyarakat, terlebih judi merupakan hal yang dilarang oleh setiap ajaran agama apapun.

Namun sekarang ini saya tidak habis pikir tentang maraknya kuis yang muncul di setiap televisi di republik ini. Bila kita analisa lebih dalam, bentuk - bentuk kuis dengan berbagai hadiah yang ditawarkan oleh kuis tersebut bisa menjadi bentuk perjudian. Terutama kuis dengan bentuk sms premium yang sangat banyak. Awalnya kita disuruh untuk mengirimkan sebanyak - banyaknya sms untuk suatu kuis tertentu, dan semakin banyak kita mengirimkan sms maka peluang kita untuk menang akan semakin besar. Ini merupakan judi(dilegalkan) atau masih kuis (legal)??

Menurut saya pribadi, tentu hal ini merupakan bentuk perjudian yang dilegalkan direpublik ini. Karena bentuk kuisnya sangat mirip dengan judi, kita misalkan saja judi togel yang sangat terkenal hingga ke pelosok negri ini. Yang membuat lebih miris lagi adalah tidak adanya batas usia untuk mengikuti program "kuis" tersebut, akhirnya sadar atau tidak sadar anak kecil pun sudah kita ajari untuk "berjudi". Bangsa ini merupakan bangsa yang naif, sok suci. Padahal the real fact???. Mudah - mudahan masyarakat mulai sadar agar tidak terjebak terhadap tawaran kuis yang merugikan kita semua, karena yang namanya kuis pastilah tidak akan merugikan pesertanya. Dan esensi dari kuis adalah memberikan sesuatu (hadiah) kepada pesertanya tanpa adanya motif untuk mendapatkan keuntungan yang banyak oleh si penyelenggara kuis tersebut.

Selasa, 02 Desember 2008

Okultisme vs Teknologi Informasi

Hampir setiap menonton televisi pasti kita akan menemukan iklan2 okultisme seperti ramalan-ramalan, primbon dan hal - hal lainnya yang sebenarnya sangat tidak patut untuk diikuti. Ntah mengapa iklan ini justru bisa muncul sangat intens dan hampir di setiap jam. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat percaya akan hal - hal yang gaib dan tidak bisa diterima oleh akan sehat manusia.
Beberapa tahun lalu, ketika berbagai bencana banyak terjadi seperti gempa, longsor dll, ada salah seorang paranormal yang mengaku bisa memprediksi bencana yang akan terjadi tersebut. Dan setelah ditelusuri ternyata paranormal ini rajin membaca artikel - artikel tentang gempa bumi. Orang yang paling bodoh juga mengetahui, jika terjadi gempa besar di salah satu pusat subduksi ataupun sesar, maka hal ini akan menyebabkan lokasi lain sepanjang jalur subduksi tersebut juga akan mengalami gangguan keseimbangan. Sehingga, karena sifat elastisitasnya, maka lempeng - lempeng tersebut akan selalu menuju keseimbangan. Jadi wajar bila suatu gempa bumi dengan magnitudo besar terjadi, maka sudah pasti juga akan terjadi gempa lain di waktu berikutnya. Nah cerdiknya siparanormal ini adalah dia memanfaatkan informasi ilmiah ini. Dan seolah - olah menerawang akan terjadi lagi gempa dan masyarakat melihat prediksinya seolah - olah benar. Padahal sama sekali tidak benar. Sampai saat ini para pakar sekalipun belum bisa memprediksi gempa bumi hingga ukuran waktu terkecil, serta pusat gempa yang akan terjadi, karena biasanya fokus gempa tersebut berada pada puluhan km di bawah permukaan. Jadi masih sedikit sulit untuk memprediksi secara akurat.
Di Indonesia ternyata hal - hal mistis ini masih sangat dipercayai oleh masyarakat. Padahal, dalam hal ini masyarakat benar - benar dibodohi oleh ramalan - ramalan tersebut. Mungkin pihak media massa (terlepas dari kepentingan komersial) juga harus mulai mempertimbangkan penayangan iklan - iklan yang berbau okultisme ini, karena benar - benar merusak cara berpikir masyarakat. Orang - orang jadi percaya akan hal - hal yang ada diluar logikanya. Karena mana ada orang akan sukses jika mengandalkan paranormal, jika ingin sukses kuncinya adalah berusaha dan berdoa kepada Tuhan.
Seharusnya masyarakat lebih tertarik untuk belajar kepada Teknologi Informasi, seperti alat komunikasi sekarang ini. TI disini telah disalahgunakan untuk hal - hal yang tidak baik. Dan anehnya di Indonesia recognation untuk paranormal jauh lebih besar daripada penghargaan kepada para ilmuwan/akademisi yang sudah susah payah menemukan teknologi - teknologi seperti sekarang ini.
Untuk itu, peran pemuka agama sangat diperlukan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak mengikuti sms - sms ramalan yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Bila perlu keluarkan fatwa MUI yang konon sangat powerful dan masih didengarkan oleh masyarakat Indonesia. Saya sangat surprise dengan pemuka - pemuka agama di Jawa Timur yang mengharamkan golput pada pemilu nanti. Artinya jika proses penyadaran biasa masyarakat masih banyak yang golput, maka perlu sedikit "pemaksaan" agar proses demokrasi semakin banyak. Demikian juga dengan okultisme, agar MUI "mengharamkan"nya. Untuk membangun karakter masyarakat yang lebih baik.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP