Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

Kerinduan terhadap Tuhan

Ketika sedang bepergian ke suatu tempat yang jauh atau untuk waktu yang lama, kita pasti pernah merasakan kerinduan baik kepada orangtua, saudara, teman, bahkan pasangan. Saya juga pernah mengalaminya ketika selama beberapa tahun harus pergi bekerja di luar kota. Ingatan tentang lezatnya masakan rumah buatan ibu, waktu-waktu berbagi pengalaman bersama ayah, dan kebersamaan dengan teman-teman sepermainan terkadang membuat saya ingin segera pulang. Apalagi bila saya mengingat setiap kasih sayang dan penerimaan tanpa pamrih yang selalu mereka berikan. Perasaan itu semakin kuat dan membuat saya amat menghargai waktu cuti tahunan. Meski hanya beberapa hari dalam setahun, saya selalu menggunakan waktu cuti untuk pulang dan berkumpul kembali bersama mereka. Bagi saya, kebersamaan dengan mereka tidak dapat ditukar apa pun, termasuk tambahan uang lembur sekalipun.

Bukan hanya saya, setiap orang pasti pernah merasakan perasaan seperti itu dalam hidupnya. Namun bila kita merenungkannya lebih jauh, sesungguhnya kerinduan jiwa kita bukanlah terhadap manusia, tetapi terhadap Tuhan. Bagi Daud, kebutuhannya akan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar. Ia tahu bahwa Tuhan adalah segala-galanya, dan tanpa Tuhan maka ia tidak akan mampu menghadapi kerasnya kehidupan ini. Sayangnya, meski setiap orang sadar bahwa dirinya memerlukan kehadiran dan pertolongan Tuhan, tidak banyak orang yang benar-benar mencari-Nya. Karena mereka berpikir kehadiran Tuhan dpat digantikan oleh yang lain. Misalnya harta, uang, jabatan, status, atau hal yang lain. Bukannya menyelesaikan masalah, pemikiran bahwa kehadiran Tuhan dapat digantikan sesuatu yang lain justru tidak menyelesaikan masalah. Malah membuat masalah kian besar dan memburuk.

Persekutuan pribadi dengan Tuhan tidak berbicara soal berapa kali kita pergi ke gereja, berapa banyak persembahan yang kita berikan, atau seberapa banyak kita mampu menghafal ayat-ayat firman Tuhan. Lebih dari itu, persekutuan pribadi yang sejati dengan Tuhan hanya akan terjadi manakala kita bersedia merendahkan hati dan menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan.

Jumat, 22 April 2011

Ketidaksempurnaan yang Sempurna

Seorang tukang jual air memiliki sebuah pikulan yaitu dua buah tempayan di kiri - kanannya setiap ia memikulnya. Namun salah satu tempayannya sudah retak. Jadi saat tukang air tiba di tujuannya air di tempayan tersebut sudah tinggal setengah bahkan seperempatnya. Tentu saja setiap tiba di tempat penampungan akhir, tempayan yang bagus tersebut merasa sombong dan tempayan retak itu selalu minder dan malu. Terlebih kepada tukang pemikil air tersebut. Tempayan retak tersebut meminta maaf kepada tukang air tersebut. Tetapi rupanya si tukang air sudah mengetahui tentang hal tersebut. Hari-demi hari, minggu berganti, bulan berlalu ternyata disepanjang perjalanan, si tukang air tersebut selama ini ternyata sudah menebarkan benih tanaman bunga yang indah. Akhirnya, hingga dalam beberapa bulan si tukang air akhirnya mendapatkan bunga-bunga yang indah dan mewangi akibat tumpahan air dari tempayan retak tersebut. Jadi sekalipun nampaknya tempayan yang retak itu tidak berguna namun pemiliknya masih dapat memakainya untuk sebuah tujuan yang baik.

Apakah diantara kita ada yang merasa seperti tempayan retak tersebut? Kita merasa tidak sempurna, kelemahan ada di sana-sini. Wajah tidak seperti miss universe, suara dan tarian tidak seperti si Norman dan keberuntungan tidak seperti anggota DPR yang bisa menonton vidio porno saat sidang atau tidak sekaya Gayus dan Melinda karena "kelicikannya".:P.

Kekurangan dan kelemahan tersebut kadang membuat kita minder.

Brother-sisiter, kamu jadi berarti bukan karena tampangmu bahkan dompetmu sekalipun. Kamu berarti karena Tuhan yang menjadikan hidupmu berarti. Tuhan telah menyiapkan kita menjadi berkat bagi banyak orang dan berguna bagi kemuliaan-Nya.

Meskipun kamu merasa tidak berarti karena ditolak, dikecewakan, ataupun kamu telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti dimasa mudamu (misalnya udah suka merokok, lama lulus sekolah, senang begadang :P), Allah masih tetap mengasihi kita dan Dia punya tujuan khusus untuk kita. seburuk apapun hidup kita, masih bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Jadi apapun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan setia, karena Tuhan akan bekerja atasnya dan menjadikan segala sesuatu menjadi suatu kebaikan dan kemuliaan bagi nama-NYA.

Rabu, 06 April 2011

Hidup Seperti Buku

Hidup manusia itu seperti sebuah buku..

Sampul depan adalah tanggal lahir, sampul belakang adalah tanggal pulang...

Tiap lembarannya adalah hari2 dalam hidup kita...

Ada buku yg tebal, ada pula yang tipis...

Hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang bersih, baru & tiada cacat..untuk hari ini.

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kesempatan yang baru untuk bisa melakukan sesuatu yang benar setiap hari, memperbaiki kesalahan, melanjutkan alur cerita yang baru....

Jangan menunda-nunda kesempatan baik hari ini... Karena kita tidak tahu.... Tiba2 besok kita memasuki lembaran terakhir:)

TYM---

Jumat, 26 November 2010

Ketika Harus Kehilangan

Suatu hari aku dan sahabatku bertengkar hebat. Pada awalnya semua dalam keadaan baik dan normal. Seperti biasa kami berkomunikasi dengan baik, sesekali berkunjung dan bersilahturahmi. Namun tanpa saya tau alasan yang jelas pertengkaran dan ajakan musuhan jauh lebih menguasai kami berdua. Saya juga menyesal membiarkan emosi ini menguasai hati dan akhirnya menghasilkan perpisahan. Saat merenungkan kejadian ini saya jadi teringat makna kehidupan.

Kehidupan sering diartikan dengan sejumlah kehilangan. Saat lahir kita kehilangan rasa hangat, aman dan nyaman dari rahim ibu. Saat dewasa kita kehilangan banyak waktu buat bermain, karena kita lebih banyak dituntut untuk belajar, bekerja dan mencari nafkah. Di usia tertentu mungkin kita kehilangan pekerjaan, orang-orang yang kita cintai. Di saat kita tua dan sakit kita kehilangan kekuatan kita. Di saat kita mati kita kehilangan nafas hidup dan segala-galanya. Jika hidup hanyalah kehilangan demi kehilangan, untuk apakah kita menjalaninya? Pertanyaan itu mengusik saya ketika seharian itu saya merasa kehilangan hubungan yang sudah terjalin baik selama ini bahkan dengan beberapa keluarganya.

Saat kehilangan, terlebih kehilangan orang-orang yag kita cintai merupakan sangat dimana kesedihan menjadi penyelimut utama hari-hari kita. Bahasa lainnya kita menjadi stress dan semakin dekat dengan dosa. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya kita kembali kepada Tuhan. Alhasil kita akan menemukan penghiburan, ketentraman dan kedamaian. Banyak kisah sejenis yang bisa diambil pembelajarannya dari Firman Tuhan. Saat Ayub menderita, ia tidak "memarahi" Tuhan, namun dia tetap setia kepadaNya. Kita harus yakin bahwa kehilangan ini merupakan pembelajaran dari Tuhan.

Meskipun saya gagal dalam menjalin hubungan ini, saya sangat percaya segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia. Saya percaya bahwa usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu tidak selalu mendatangkan kesuksesan, namun semakin melatih kita agar mengetahui mana jalan yang terbaik.

Apa yang sudah diterimanya muda-mudahan tidak akan pernah dilupakannya, dan saya tidak akan mengingat apa yang pernah saya berikan. Semua butuh ketulusan dan keiklasan.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hatimu terluka sangat dalam karena ditolak, maksa saat itu kau sedang belajar MEMAAFKAN.
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar KESUNGGUHAN.
Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar KETANGGUHAN.
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kau sedang belajar KEMURAHAN HATI.
Tetap semangat, tetap sabar, tetap tersenyum, tetap kuat dan terus belajar. Tuhan sedang mengarahkanmu menjadi semakin dekat dengan rencanaNya. TYM...



Minggu, 21 November 2010

Sikap Menanti

Hari ini merupakan akhir tahun Gerejawi tahun 2010. Dalam Gereja2 kesukuan Batak disebut ujung taon parhuriaon. Hal ini berarti ada pergantian suatu masa ke masa berikutnya dalam hal ini adalah masa Advent. Masa Advent nantinya akan berganti pada masa Natal. Kegiatan/aktivitas menjelang masa-masa ini menjadi lebih banyak. Terkadang persiapan kita tidak diiringi dengan kesiapan hati untuk menerima "kelahiran" Ilahi di dalam hati.

Menurut saya masa ini diinterpretasikan oleh ahli-ahli agama -tentu setelah mendapat hikmat dari Tuhan- untuk melatih kita menantikan akhir zaman yang pernah dijanjikan Tuhan. Sekarang kita kembali diberi kesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Mau kah kita mencoba serius dalam mengikuti pelatihan ini?

Secara umum sikap menanti manusia ada dua macam. Yang pertama adalah mereka yang benar-benar memperhatikan dan mengikuti perkembangan. Yang kedua adalah mereka yang bersikap sangat cuek, masa bodoh. Saudara masuk yang mana?

Secara sederhana kita bisa analogikan sikap menanti ini dengan menunggu seseorang yang hendak bertemu dengan kita. Pasti ada yang sangat serius dan bolak-balik melihat jam bila dia yang sedang kita nantikan tak kunjung datang. Ada juga yang mencoba cuek dan mencoba mencari aktivitas lain sampai-sampai kelupaan bahwa yang dinantikan sudah datang.

Penantian ini bagi sebagian orang merupakan hal yang tidak begitu penting, bahkan ada juga yang emnganggap bahwa hari tersebut adalah hari kehancuran. Namun bagi orang yang takut akan Tuhan hari tersebut adalah hari kegembiraan. Sama seperti ketika kita menantikan seseorang yang sanagt kita kasihi.

Sekarang kitya baiknya bersyukur dan tetap berada di jalannya sembari melatih diri ini untuk menantikan kedatangan Dia yang keduakali. Selamat menyambut tahun Gerejawi yang baru. Biarlah kita senantiasa berada dalam lingkaran kasih Tuhan:)

Jumat, 01 Oktober 2010

Sulitnya Memilih (satu diantara banyak)

Kalau Iwan Fals punya liryk lagu indah "Aku bukan pilihan" setidaknya menyadarkan kita kembali bahwa hidup ini dipenuhi dengan berbagai macam pilihan. Multiple choice tersebut kadang membuat kita kesulitan mengambil keputusan pilihan tersebut. Manusia itu sifatnya rakus dan tamak. Meskipun kadang kita dihadapkan hanya dengan satu pilihan dan kebetulan pilihan tersebut tidak kita sukai.

Saya sering dihadapkan pada situasi pilihan yang cuma satu-satunya dan pilihan tersebut tidak saya suka. Awalnya saya coba menerima dengan ikhlas namun seiring berjalannya waktu pilihan tersebut lama kelamaan bisa kita terima. Namun bila kita sabar saya percaya pilihan lain akan datang dengan sendirinya.

Saya juga pernah dihadapkan dengan dua pilihan dan seperti biasa kita harus ambil satu pilihan dari dua tersebut. Hal ini sepertinya lebih mudah untuk dilakukan. Saya tidak tahu, mungkin karena kasusnya hanya memilih dua kota yang akan saya datangi, maka pilihan tersebut dengan mudah saya putuskan.

Saat ini saya mempunyai multiple choice. Lebih dari dua pilihan tersedia dan lagi-lagi kita hanya boleh memilih satu pilihan saja. Kondisi ini membuat saya sangat kebingungan kuadrat. Saya sangat sulit memutuskan mana yang akan saya pilih. Terlalu banyak kelebihan pilihan masing2 tersebut sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Apakah saya harus mencari kekurangan dari masing2 pilihan tersebut?

Saya akan coba membuat keputusan pilihan mana yang akan saya ambil dengan mempertimbangkan kelebihan pilihan-pilihan itu saja. Walaupun saya percaya bahwa penilaian kelebihan tersebut akan sangat subjektif. Karena bila kita mempertimbangkannya hanya dengan kekurangan mereka (pilihan2 :red), maka kita sebenarnya lebih fokus kepada kekurangan pilihan tersebut. Anggap saja contohnya dalam memilih pasangan hidupmu. Jangan gunakan kriteria kekurangannya. Hal yang sederhana yang saya kaitkan dengan "Aku bukan pilihan" Iwan Fals tadi adalah saat seseorang melihat kondisi kita yang masih belum lulus atau belum mempunyai pekerjaan tetap. Biasanya dalam memilih pasangan hidup itu carilah kelebihan yang substansi seperti apakah dia punya karakter dan kompetensi yang baik. Dua hal ini merupakan filter terbaik dalam melakukan pilihan. Memilih orang yang hanya bisa diajak senang-senang jangan sampai anda lakukan. Karena hidup kita ini sinusoidal ada masa-masa senang dan tidak sedikit pula masa-masa susah. Jadi bila anda menemukan orang yang bisa diajak susah, maka dia sudah pasti bisa diajak senang-senang :).

Orang berkarakter memiliki ciri-ciri mudah bergaul, supel dan mau mengorbankan diri untuk orang lain. Orang berkompetensi memiliki ciri-ciri tidak gampang menyerah dan selalu berusaha. Jadi bila kita menemukan seseorang saat ini belum mapan dan kebetulan dia masuk dalam pilihan kita, maka cobalah menilainya dengan cara memperhatikan karakter dan kompetensinya.

Memilih pilihan satu-satunya memang sulit, namun memilih satu diantara banyak jauh lebih sulit. Dalam membuat putusan pilihanmu, coba renungkan baik - baik dan bawa ke dalam doa. Karena saya yakin dan percaya Tuhan akan menuntun saya untuk memutuskan pilihan yang akan saya ambil tersebut.

Rabu, 22 September 2010

Rencana yang bertolak belakang

Setiap kita pasti sering merenanakan sesuatu. Dengan kata lain design hidup kita terdiri dari berbagai rencana yang akan kita lakukan di masa depan, ntah itu nanti, besok, minggu depan, bulan depan atau puluhan tahun lagi. Ada kalanya rencana tersebut tidak bisa terealisasi dengan baik. Penyebabnya macam-macam. Bisa karena rencana tersebut di design asal-asalan atau rencana tersebut belum cocok buat kita.

Saya terkadang bertanya-tanya dalam hati, apakah saya tidak bleh berencana akan masa depan saya sendiri? Mengapa setiap rencana saya sangat susah bahkan ada yang tidak bisa direalisasikan dengan mudah. Apa saya masih belum optimal memperjuangkan rencana tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu mengikut dalam pikiran yang tiada batasan ini.

Saya jga berpikir dan bertanya ada orang yang sepertinya tidak punya rencana sama sekali, namun dia bisa mendapatkan apa yang belum saya dapatkan. Seberapa penting penyerahan diri ya?Apa kita lebih baik pasrah dan tak berencana apapun? Saya pikir hal ini tidak benar.Apapun itu kita berhak memiliki sebuah rencana. Hanya saja rencana yang kita buat tersebut sangat bertolak belakang dengan kebutuhan kita atau belum waktunya untuk di berikan Tuhan.

Berencana tanpa menyerahkan rencana tersebut pada Tuhan akan membuat overlapping rencana masa depan. Alangkah baiknya setiap rencana yang dibuat kita serahkan kepada Tuhan agar Dialah kelak yang akan mengevaluasi dan merealisasikan nya dalam kehidupan masa depan. Kita harus percaya dan yakin bahwa rancangan tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Masa depan dan semua rencana yang sudah kita buat harus di pasrahkan kepadaNya agar kehidupan ini terasa lebih baik.. Barangkali kesabaran kita benar-benar diuji untuk hal ini..
Tuhan bantu kami untuk menanti hasil dari rencana masa depan kami..

Sabtu, 11 September 2010

Doa dan Harapan

Tuhan pny hadiah u/mu..sbuah cahaya u/ kglapan..sbuah rencana u/ hr esok..sbuah jln kluar u/ masalah..sbuah kbahagiaan u/ ksedihan..dan aQ puny hadiah u/mu hr ini: sbuah doa dan harapan agar Tuhan selalu menyertai stiap langkahmu

--Steffi--

Kamis, 05 Agustus 2010

Suka duka silih berganti

Saya tidak terlalu paham sampai di mana daya tahan seseorang untuk selalu diberi beban penderitaan. Saya juga yakin seseorang punya batasan kepuasan, walau banyak orang mengatakan manusia tidak akan ada puasnya dengan sesuatu (kebahaiaan:red) yang sudah diraihnya.

Kehidupan manusia selalu dihadapkan dengan rahasia Ilahi yang hanya dimengerti oleh Tuhan dan manusia yang mengalami proses kehidupannya masing-masing. Artinya seseorang pada saatnya nanti pasti akan dibukkan rahasia Tuhan atas perjalanan kehidupannya. Rahasia Ilahi tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk suka (keberuntungan) dan duku(bencana). Mungkin ada benarnya juga setiap manusia diciptakan berdasarkan jenis nasibnya masing-masing.

Dengan peristiwa kebakaran tanggal 2 Agustus lalu saya menjadi lebih yakin sampai saat ini Tuhan belum ada embargo kasih Tuhan pada anak-anaknya. Sepahit apapun kejadiaan seperti yang dialami teman kami satu kost yang kamarnya habis terbakar, saya masih percaya ada perlindungan dan curahan kasih Tuhan, walaupun Tuhan campur tangan terhadap penderitaan/musibah yang dialaminya. Si teman tersebut masih bisa bersyukur saat kejadian dia sedang tidak di rumah. Seandainya dia di rumah pasti dia ketiduran dan mungkin tidak akan selamat dari peristiwa kebakaran tersebut. Walau masih sulit menerima penderitaan tersebut, setidaknya saya dan 6 teman yang lain masih bisa bersyukur tidak ada korban jiwa atau pun luka-luka.

Kami akan rugi besar bila tidak bisa menjadikan musibah ini menjadi pelajaran dalam hidup. Pengalaman yang indah (precious experience). Semua tetangga sigap membantu dan sekarang lebih ramah sama kami. Kami juga akan lebih rugi lagi bila tidak bisa memahami maksud Tuhan bahwa musibah ini adalah peringatan bagi kami yang sering malas-malasan. Selalu tidur:P.

Desngan musibah ini kami akan lebih mengerti arti sukacita(keberuntungan) yang akan kami terima kelak.

Saya juga melihat sangat banyak orang yang memanfaatkan kesempatan yang diberi Tuhan untuk menolong kami. Sungguh kesempatan yang seharusnya menjadi kerinduan kami. Kerinduan untuk menolong sesama terutama mereka yang sedang susah dan menderita. Habis gelap terbilah terang. Semoga penderitaan ini segera berlalu dan berganti menjadi sukacita yang indah dari Tuhan.

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!.Yeremia 17:7


Minggu, 25 Juli 2010

Menemukan rahasia Tuhan

Dua hari ini saya kembali punya kesempaan untuk merenung. Karena padatnya aktivitas saya sangat jarang punya waktu duduk di depan PC untuk membaca info atau membagi info2 baru kepada orang lain. Beda orang di daerah dengan orang kota hanya bisa dirasakan oleh orang kota yang sudah pernah ke daerah pedesaan. Pembeda utama yang terlihat adalah waktu. Manusia yang hidup di kota besar seperti kehilangan waktu. Bagi mereka yang tinggal di daerah sangat banyak memiliki waktu luang. Bagi orang di kota pernikahan pun sering ditunda hanya karena sibuk, sehingga tak jarang sangat banyak yang menikah diusia "tua".

Hal ini berimplikasi dengan cara hidup, pola pikir dan banyak hal bagimana menghadapi dan menjalani kehidupan. Padahal kita sebenarnya hanya menunggu hari esok. Tidak ada salahnya kita menikmati hari ini dan hari2 berikutnya. Sebab kemarin itu sudah berlalu dan akan semakin jauh dari jangkauan kita.

Dua hari ini sangat saya nikmati, setelah malam Sabtu kemarin saya menghadiri resepsi pernikahan teman kuliah. Saat merenung dan bersantai inilah sebenarnya kita bisa kembali mericek tentang berkat yang sudah kita terima dari Tuhan. Saya merasa Tuhan selalu membuka rahasianya bagi mereka yang meluangkan waktu untuk sejenak merenung. Tidak tangung-tanggung dia membuka rahasia kerajaanNya. Saat kita sudah menerima banyak berkat dalam hidup ini, maka saat itu pulalah Tuhan sedang membuka rahasiaNya kepada kita.

Kita harus meresponi hal tersebut dengan cara berfokus pada Tuhan dan membalas kasih Tuhan. Sejauh manapun kita menghindar, kita akan tetap dicari Tuhan. Tuhan sangat mengasihi saya dan manusia lain. Mari kita balas cintanya sebagaimana kita membalas cinta seseorang kepada kita. Membalas cinta Tuhan dapat dilakukan dengan melayani Dia di tempat kerja, sekolah, di lingkungan dan di manapun dengan cara menunjukkan identitas iman kita. Bila menjadi tukang bangunan di tempat kerja, jadilah tukang bagunan terbaik.Selalu menjadi yang terbaik merupakan wujud dari pelayanan dan cinta kasih kita kepada Tuhan.

Rabu, 23 Juni 2010

Efisiensi Pelayanan

Bila anda diberi satu karung pupuk, kemudian anda disuruh untuk menebarnya di sebuah kawasan hutan. Kira-kira apa yang anda lakukan? Demikianlah tantangan seorang pelayan atau yang dikenal dengan misonaris pada zaman2 dahulu.

Walau ditujukan bagi misionaris, namun pertanyaan diatas masih relevan dengan kehidupan manusia sekarang yang telah mendapat amanat agung tersebut. Bekal atau modal kita sangat terbatas yaitu hanya sekarung pupuk tadi, sementara jumlah tanaman/pohon di hutan tersebut sangat banyak. Bila kita asal tebar pupuk tadi maka efek dari pupuk tersebut bisa dipastikan tidak ada. Dia hanya lewat sejenak, seperti hembusan angin yang sesaat memberi kesegaran. Namun manusia diberi kebijaksanaan dan berakal.

Sebaiknya pilihlah beberapa pohon yang punya potensi untuk berbuah. Kemudian beri pupuk pada pohon yang sudah anda pilih tadi. Jadi sudah dipastikan kita akan mendapatkan pohon yang akan memberi kita buah beberapa waktu yang akan datang. Misi pelayanan kita akan mendapatkan hasil walaupun belum semua pohon bisa berbuah. Demikian juga dengan seleksi utnuk mndapatkan beasiswa ataupun pekerjaan. Lowongan selalu terbatas dan mereka yang membutuhkan jauh lebih banyak daripada pupuk si pemberi beasiswa atau pekerjaan.. Jadilah mereka menyeleksi beberapa orang yang potensial untuk terlebih dahulu diberikan beasiswa atau pekerjaan tadi. Dengan demikian usaha tersebut hampir tidak sia-sia, efektif dan bermanfaat.

Bila setiap orang yang punya modal berupa talenta yang terbatas dan ia berencana untuk memberikannya kepada orang lain, baiklah ia menyeleksi beberapa saja agar bisa mengahsilkan buah. Sehingga modal/talenta dia tadi tidak terbuang dengan sia-sia. Fokus kepada jumlah yang sedikit daripada perhatian kepada banyak hal akan jauh lebih baik.

Senin, 14 Juni 2010

Embargo kasih Tuhan

Kehidupan kita adalah kehidupan yang sebebas-bebasnya. Tuhan sengaja memberikan free will kepada ciptaan spesialnya yaitu manusia. Dengan keinginan bebas tersebut manusia bisa memenuhi segala keinginannya dengan sesuka hati. Sehingga bila suatu waktu kita tidak bisa mendapatkan satu hal, kita segera menggantinya dengan altenatif yang lain. Ibarat ketika kita menuju suatu tempat dan jalan menuju ke sana macet, maka dengan mudah kita mencari alternatif lain, mencari jalan lain. Bila kita sulit mengerti sebuah pelajaran, padahal besok ujian, maka dengan mudah kita membuat alternatif lain untuk bisa menjawab ujian, yaitu dengan membuat contekan/wangsit, atau mencontek teman.

Begitulah gambaran kehidupan kita yang sebenarnya penuh kepalsuan. Ketika senantiasa anda merasakan selalu ada jalan keluar, tanpa memperhatikan alternatif pilihan tadi, maka sesungguhnya kita sedang mencoba bersahabat dengan dunia ini. Padahal sebenarnya ada beberapa hal yang tidak bisa tergantikan. Misalkan orang tua alternatif, mama dan papa alternatif, istri/suami alternatif, iman alternatif atau Tuhan alternatif. Dunia ini seolah menyediakan segala yang kita butuhkan. Dan kita seolah diberi kepuasan, sehingga manusia semakin akrab dengan dunia yang sebenarnya dibungkus oleh dosa.

Bila manusia itu lebih memilih bersahabat dengan dunia ini, maka Tuhan akan meng-embargo manusia. Byangkan ketika alat-alat persenjataan Indonesia di embargo oleh Amerika. Indonesia menjadi negara yang seolah tidak berdaya. Berulangkali tanahnya dicaplok negara tetangga saat itu, namun kita tidak bisa berdaya untuk melawan karena embargo tersebut. Kita tidak punya alternatif selain mengalah pada saat itu.

Sesungguhnya ada beberapa hal yang sebaiknya tidak ada alternatif lainnya. Terutama tentang iman dan kepercayaan kita hanya kepada satu Tuhan. Namun sadar atau tidak sadar hal ini selalu kita cari alternatifnya. Dengan dosa yang selalu dan berulang-ulang, kesalahan yang itu-itu saja sebenarnya sudah membawa anda kepada alternatif tuhan yang lain. Satu-satu nya cara adalah dengan berseru padaNya. Minta tolong dan minta kekuatan agar Dia membantu kita. Sehingga Dialah satu-satunya alternatif pengaduan kita yang tidak akan tergantikan sepanjang masa dalam setiap kondisi. Sehingga dengan demikian Tuhan tidak akan mengembargo kasihnya kepada manusia.

Minggu, 16 Mei 2010

Kisah Sang Bocah dan Sahabatnya

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah´pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa, paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan! Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan ......?? Tolong jangan marahi Ibuku ya ..??? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukul kami. Oh Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, namanya Anita ... menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei .. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta....Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan .. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut, ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku ...'

"Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar.!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ...."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah ..kamu akan mendapatkannya !!!"

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut didepan Gereja.
Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf Tuan.apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya ?"

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran... Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andy terisak.
"Apa katanya ?"
Ayah Andy berkata ,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu ...

"Apa yang dia katakan?"

"Dia berkata kepada puteraku.." Ujar sang Ayah
"Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."

Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita didalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta. Siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa. kecuali dengan Tuhan."

Kamis, 13 Mei 2010

Wangsit

Keadaan dirimu merupakan pemberian Allah kepadamu;
apa yang kamu lakukan dengan dirimu merupakan
pemberianmu kepada Allah.

Peribahasa dari Denmark
Selamat memperingati Hari Kenaikan Isa Almasih, Kamis 13 Mei 2010.
Kasih dan Damai Sejahtera bagi kita semua.

Rabu, 28 April 2010

Jangan Menyerah!

Kesempatan untuk hidup di dunia ini sudah pasti akan diikuti oleh masalah yang tiada henti. Namun pikiran manusia masih lebih terfokus kepada masalah, sehingga dukacita kelihatannya lebih banyak daripada sukacita. Bila kita mempunyai kesedihan 100, maka sebenarnya kita memiliki kebahagiaan 1000. Hanya saja kita enggan mengakuinya. Kondisi ini yang dalam bahasa rohaninya disebut kurang atau bahkan tidak bersyukur. Sebab selalu mengedepankan kesedihannya.

Meski akan senantiasa diliputi dengan masalah, saya masih terhibur dan percaya dengan ungkapan" tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan".Barangkali beberapa diantara kita masih ingat dengan sms yang dulu2 itu :"Don't ever say :GOD, I have a big problem, but you just say :Hey problem, I have a big God, every things will be ok". Sebesar dan seberat apapun yang namanya masalah pasti bisa diatasi. Asal kita mau menghadapinya dan mengandalkan Tuhan senantiasa.

Tak jarang manusia sudah kalah sebelum bertanding. Kita langsung ciut bila masalah sudah menghampiri kita. Seperti beberapa teman yang baru lulus Ujian Nasional, kebanyakan menjadi bingung karena masalah sudah mengantri di depan. Akan ke mana setelah SMU?? Disuruh sekolah pilot sudah takut duluan karena bahasa Inggrisnya kurang, disuruh sekolah di ITB, gak mau karena takut dengan Matematika, Fisika dll. Kemaren saya melihat saran dari seorang pengamat pendidikan, katanya kesuksesan itu akan bisa diraih dengan melakukan tiga hal yaitu berdoa, bekerja (berusaha) dan berkaca. Mungkin selain ora et labora dalam bahasa Nasrani, berkaca merupakan salah satu guide kita untuk melangkah. Namun dengan seringnya kita berkaca saya pikir yang muncul adalah sisi negatif kita, kita akan lebih mudah menyerah. Dalam benak saya muncul mungkin inilah mengapa sebabnya Tuhan menyuruh kita hanya bekerja dan berdoa. Artinya kita berusaha dan tetap mengandalkan kekuatan dariNya. Masalah bisa atau tidak yang bisa menjawabnya adalah kita dan waktu.

Bagi kita yang sering menyerah sebelum bertanding mungkin ada baiknya melihat kisah dari jarum penunjuk detik pada sebuah jam raksasa yang juga menghiasi salah satu kota besar. Sesaat setelah dipasang sang jarum jam gelisah dan meragukan kemampuannya untuk bergerak setiap detik, ditambah untuk menggerakkan dua orang kolega dekatnya yaitu jarum penunjuk menit dan jarum penunjuk jam. Dengan keraguannya itu tampak kedua sahabatnya jarum penunjuk menit dan jam serta baterai memberi semangat kepada jarum penunjuk detik. Akhirnya ia mulai melangkah detik demi detik, dan tanpa terasa ia sudah bergerak selama puluhan tahun. Ia bisa bermanfaat bagi jutaan orang yang melintas di kota tersebut. ternyata ia bisa. Demikian halnya dengan kita. Sesuatu yang menurut kita tidak bisa, harus penuh keyakinan untuk dicoba. Saya yakin sedikit banyak sudah ada orang yang akan menyemangati kita. Bisa itu keluarga, sahabat, kekasih dan lain-lain. terutama Tuhan yang tanpa kita sadari akan selalu memberi kita semangat seperti Ia setia memberikan hari esok untuk kita lalui.

Minggu, 25 April 2010

Meributkan hal-hal sepele

Kitab Kisah Para Rasul menceritakan perjalanan Rasul/Nabi yang tokoh utamanya adalah Roh Kudus, bukan sang Rasul. Bila kita membacanya sangat banyak hal-hal yang dibahas dalam kitab tersebut yang masih relavan dengan masa kini. Banyak debat, rapat dan mencari solusi dari suatu permasalahan yang dilakukan oleh rasul-rasul saat itu.

Seperti kotbah pagi minggu ini, ada sebuah rapat yang membahas tentang orang Yahudilah yang paling benar dihadapan Tuhan, orang non Yahudi dianggap tidak benar. Mereka yang bersunatlah yang lebih benar, yang tidak bersunat tidak benar. Permasalahan ini seseungguhnya sepele dan tidak perlu dibahas, karena setelah kehadiran Yesus tidak ada lagi yang membedakan siapa yang lebih benar selain siapa yang percaya dan mengikuti keinginan Tuhan yang dua itu (mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya).

Sanat relevan dengan kondisi jaman sekarang di berbagai organisasi, termasuk organisasi gerejawi yang tahan berapat ria hingga jam 2 malam hanya untuk membahas masalah yang tidak penting. Misal ada dua orang yang hendak pergi memancing ikan, kemudian sebelum pergi memancing mereka berencana akan membakar ikan hasil pancingannya. Namun si A mengatakan kalau ikan yang dibakar itu akan lurus, sedangkan si B mengatakan kalau ikan yang dibakar itu akan bengkok. Karena sibuk berantem, hari sudah malam, akhirnya batallah mereka memancing. Hal seperti inilah yang sering terjadi pada kita saat ini. Padahal sama-sama sudah tau, kalau mau ikannya lurus ya tinggal dibuat ditusukkan kayu ke ikan tersebut seperti sate, kalau mau bengkok bakar aja langsung ikannya ke panggangan. Tidak ada yang perlu diributkan.

Untuk kondisi kerohanian sangat mudah dan masih sering dijumpai bahwa si A lebih benar dari si B, Gereja si anu lebih hikmat dari si uno. Kita sering lupa bahwa oleh darah Kristus, kita bahkan orang yang belum percaya sudah diperdamaikan dengan Tuhan. Haruskah kita masih meributkan hal-hal sepele tersebut?

Sabtu, 03 April 2010

Jumat Agung

Ntah karena sudah diniatin dari hati, ibadah Jumat Agung kemarin saya on time. Mungkin karena fobia duduk di kursi cadangan sehingga saya berangkat lebih awal menuju tempat ibadah yang sedikit jauh tersebut. Maklumlah katanya banyak orang Nasrani disebut Kristen NaPas. Mereka ke Gereja hanya pas Natal dan Paskah saja, sehingga di dua moment tersebut sepertinya jumlah pemeluk Nasrani melonjak hingga 200%.

Terlepas dari berbagai macam pandangan, namun niat saya mengikuti ibadah cuma satu satu, mencoba mengakui dan mengingat betapa banyak dan besar dosa dan kesalahan yang sudah saya lakukan. Saya hanya ingin supaya Dia menguatkanku sehingga tidak jatuh lagi di lubang yang sama, tidak tersesat di jalan yang lurus dan kalau bisa perlakuan dosa tersebut mengalami deflasi secara eksponensial, ya syukur-syukur menjadi nihil.

Akibat hadir lebih awal, maka dengan sangat mudah saya memilih dimana harus duduk. Dari 4 baris bangku yang tersusun saya duduk di baris kedua dari kiri dan agak di tengah. Kotbah Pendeta seputar via dolorosa Yesus yaitu prosesi jalan salib hingga Yesus wafat. Tidak lupa saya menon-aktifkan semua alat komunikasi yang sejak pagi selalu merepotkan karena harus selalu menghapus inboxnya akibat banyaknya sms yang masuk.

Ibadah yang sebenarnya cukup lama itu ternyata tidak membosankan. Ada point penting kotbah yang saya tangkap. Saat peristiwa penyaliban, banyak perempuan menangisi Yesus, namun dengan tegas Yesus mengatakan :Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu dan anak-anakmu! (Lukas 23:26). Sang pendeta menjelaskan mengapa Yesus tidak mengatakan dirimu dan orang tuamulah tangisi. Atau dirimu dengan oppungmulah tangisi. Alasannya adalah agar kita benar-benar bertanggungjawab terhadap anak, terhadap keturunan yang merupakan titipan Tuhan bagi setiap orang tua. Dengan nats ini kembali me-refresh ingatan saya untuk selalu menghormati orang tua. Sebab dari sepuluh firman hanya perintah untuk menghormati orangtualah yang kelak akan mendapatkan recognation, reward dari Tuhan, yaitu supaya panjang umur. Tanggung jawab dua pihak yang sangat penting.

Setelah kotbah diadakan perjamuan kudus (Last Suffer) untuk mengingat saat-saat terakhir Yesus dengan murid-muridNya. Acaranya cukup hikmat diringi dengan nyanyian sepanjang perjamuan kudus. Setelah semua orang selesai mendapatkan perjamuan kudus yang disimbolkan dengan memakan roti dan anggur sebagai simbol persatuan manusia dengan tubuh dan darah Kristus, maka pendeta mendatangi jemaat yang sakit.

Saya terharu melihat seorang bapak yang sudah tua dan duduk disebuah kursi roda. Saat Pendeta mengucapkan "Didok Tuhanta Jesus do......" mata si bapak tiba-tiba berair dan menangis sangat tulus menunjukkan kalau ia benar-benar tulus meminta pengampunan dosa dan mengakui kesalahan-kesalahannya. Yang ada dalam pikiran saya, berapa banyak anak-anak beliau yang harus ia tangisi seperti perintah Yesus tadi. Pendeta pun sepertinya tersendat dan sulit untuk berkata-kata saat hendak memberikan anggur sebagai lambang darah Kristus yang tercurah untuk menebus dosa dunia ini. Banyak jemaat yang terharu melihat keinginan tulus dan semangat beliau untuk ikut dalam ibadah Jumat Agung kali ini. Ada beberapa orang tua yang mendapat pelayanan khusus seperti bapak ini karena sudah lanjut usia dan tidak kuat untuk berdiri ke depan altar Gereja.

Selamat memperingati Jumat Agung 2 April 2010 dan menjelang Paskah 4 April 2010. Tuhan Yesus Memberkati.

Senin, 22 Maret 2010

Doa yang tidak alami.

Doa itu adalah nafas hidup orang nasrani (katanya). Sama seperti bernafas hendaklah doa selalu kita panjatkan kepada Tuhan. Artinya bila kita berhenti berdoa, maka sama halnya dengan berhenti bernafas.

Doa masih merupakan satu-satunya sarana komunikasi kita kepada Tuhan. Doa belum tergantikan dengan teknologi ciptaan akal manusia seperti melalui email, telepon genggam dan sebagainya. Oleh karena itu intensitas dan kualitas doa kita kepada Tuhan tidak bergantung pada sinyal, listrik dan perangkat-perangkat komunikasi seperti kita berkomunikasi kepada Tuhan. Cukup dengan mengambil waktu dan fokus pada Tuhan kita sudah bisa berkomunikasi (doa) kepadaNya.

Namun sifat dan kebiasaan yang kita lakukan justru berdoa bila sedang dalam kesusahan, pencobaan dan penderitaan. Bila ada sesuatu yang urgen. Ini merupakan doa yang tidak alami. Ada saat dimana kita sebenarnta sudah "mati" dengan cara berdoa yang tidak alami ini. Sama seperti berhenti bernafas bila sedang dalam keadaan senang. Tentu tidak bisa bukan? Susah dan senang kita pasti bernafas secara alami. Saya melihat banyak fenomena yang berdoa secara tidak alami. Banyak orang berlomba-lomba berdoa karena akan ujian nasional seperti saat ini, berdoa ketika ada keperluan. Bila tidak punya kepentingan maka putuslah komunikasi kita kepada Tuhan.

Dalam 1 Samuel 12:23 dikatakan tidak berdoa berdosa."Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus". Dengan adanya nats ini maka sudah seharusnya intensitas komunikasi doa kita lebih ditingkatkan lagi dan dilakukan secara alami layaknya kita bernafas.

Rabu, 10 Maret 2010

Lupa pada Tuhan

Terkadang kita menganggap lupa adalah hal yang biasa. Banyak penelitian mengatakan daya ingat manusia akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Dengan kata lain kalau sudah lanjut ya kita akan mudah lupa alias pikun. Sebagian mengatakan bahwa lupa/pikun bisa diklasifikasikan pada nama penyakit. Meski termasuk dalam kategori penyakit, sering kita mengabaikan perihal lupa ini.

Tuhan memberikan kita memori untuk mengingat setiap peristiwa yang kita alami mulai dari lahir. Kapasitas otak kita dirancang sedemikian canggihnya untuk menyimpan setiap aktivitas kita pada masa lalu. Namun rupanya, daya ingat setiap orang berbeda. Pada umumnya hanya peristiwa - peristiwa penting yang bisa diingat oleh sebagian besar manusia. Bisa peristiwa paling membahagiakan atau mungkin peristiwa paling menyedihkan yang mudah kita ingat. Peristiwa yang sedikit agak penting kita lupa-lupa ingat (berkumandang lagu kuburan):p

Ternyata lupa ini bisa membawa dampak yang kurang baik. Bila lupa pada peristiwa-peristiwa yang sudah kita lewati, maka implikasinya tidak terlalu negatif. Namun ada 2 masalah besar terkait lupa ini. Yang pertama adalah bila kita lupa diri. Saking parahnya, manusia bisa lupa pada dirinya sendiri. Akibatnya yang paling akut adalah kita menjadi gila. Lupa diri bentuk lain adalah kesombongan. Hal ini terjadi bila seseorang merasa lebih dari orang lain. Misalnya bila kita pintar mendadak, atau kaya mendadak maka tak jarang kita menjadi lupa diri.

Yang kedua adalah bila kita lupa pada Tuhan. Tua, muda, kaya, miskin, susah, senang, sadar atau tidak sadar sering lupa pada Tuhan. Kita lupa berdoa, kita lupa bersyukur atau mungkin kita lupa beribadah ke rumahNya. Melupakan Tuhan bisa berakibat fatal. Manusia akan semakin jauh dari Tuhan atau bahkan Tuhan pun akan melupakan kita. Sama hal nya bila intensitas komunikasi kita kepada seseorang sangat minim atau bila kita sudah lama sekali tidak menghubungi teman kita, maka akan menyebabkan teman tadi bisa saja melupakan kita. Demikian hal nya bila melupakan Tuhan, maka sangat menungkinkan jika Tuhan juga akan melupakan kita. Bila kita berhenti berdoa, maka saat itu juga kita sedang melupakan Tuhan.

Jumat, 22 Januari 2010

Memberi yang terbaik

Kita masih cenderung tersesat di jalan yang lurus tentang kehidupan yang sesaat ini. Terlalu banyak waktu dan tenaga yang kita habiskan untuk mendapatkan sesusuatu, meraih segala impian yang seakan tidak pernah habis. Sudah menjadi sifat manusia bahwa manusia tidak akan pernah puas. Winston Churchill pernah berujar, “We make a living by what we get, we make a life by what we give.” Artinya, ”Kita hidup dari apa-apa yang kita peroleh dan menciptakan kehidupan dari apa-yang kita beri.” Sama seperti yang di ajarkan Yesus "Berilah maka kamu akan diberi" Kita semua sepakat bahwa tidak ada pohon yang memakan buahnya sendiri. Demikian juga manusia yang harus memberikan buahnya untuk orang lain.

Sama seperti teladan Kristus yang memberi milikNya yang paling berharga yaitu nyawaNya. Kita barangkali sangat sulit untuk mengikuti teladan tersebut. Namun yang hendak ditekankan disini adalah bagaimana kita memikirkan untk memberi sesuatu yang terbaik daripada sekedar memikirkan mendapatkan hal yang terbaik saja. Porsi memberi harus ditingkatkan. Saya rasa masih belum cukup hanya memberi persembahan, persepuluhan dan sejenisnya. Lebih dari itu kita harus memberikan perhatian bagi lingkungan sekitar. Memperhatikan kebutuhan orang lain. Tidak jarang dari kita beranggapan dan baru bersedia memberi saat kita sudah kaya raya. Justru dalam keterbatasan kitalah maka apa yang bisa kita berikan akan memberi makna kehidupan yang luar biasa.

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya" (Mat 6:19) Nats ini mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap segala kekurangan harta duniawi.Ayat 20 mengatakan "kumpulkanlah harta disurga" yaitu dengan cara memberi yang terbaik. Semakin banyak kita memberi, makan semakin banyak kita menerima. Ada juga pepatah mengatakan "lebih baik memberi daripada menerima". Dan saya sudah merasakan sukacita yang lebih ketika kita memberi. Bisa dikatakan sukacita memberi 2 kali lipat ketimbang saat kita menerima sesuatu.

Dengan memberi bukan berarti juga kita tidak bisa menikmati hasil jerih payah kita. Kita boleh menikmati apa yang sudah kita dapatkan. Pula bukan tidak boleh kita menyediakan waktu untuk menghibur dan memanjakan diri. Tapi Tuhan mengajak kita agar tidak lupa dan lalai untuk senantiasa memberi sekalipun dalam keterbatasan kita. Orang kaya yang sering menyumbang sudah biasa, namun bandingkan saat seorang janda tua yang memberikan persembahan terbaiknya di rumah Tuhan. Jadi, jangan takut kekurangan saat kita memberi.

Mari bersyukur bila kita mendapat kesempatan untuk memberi pada hari ini. Kita maknai kehidupan dengan senantiasa melatih diri untuk memberi yang terbaik. Bila kita memberi yang terbaik maka kita akan mendapatkan yang terbaik dari Tuhan bahkan berlipatganda dari yang sudah kita berikan.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP