Tampilkan postingan dengan label kiat sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kiat sukses. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2014

Stock of Name

Awal tahun biasanya banyak perusahaan, instansi, organisasi mengadakan rapat kerja (red:rakernas, rakerda dll). Hal ini bertujuan untuk merumuskan target apa yang dicapai setahun kedepan. Untuk evaluasi kegiatan yang sudah di lakukan setahun sebelumnya menjadi dasar untuk melangkah ke depan.
Bagi kehidupan pribadi ada juga raker nya yang sering kita dengar dengan kata "resolusi"(baca lagi resolusimu ya:P). Wah mahkluk apa itu???:D. Tapi yang pasti resolusi masih seputar mimpi/harapan dan target yang akan di capai bukan?.
Hal yang sudah lalu/ bahan evaluasi coba saya sebut namanya "realitas"/ kenyataan hidup. Dan konsep-konsep raker/resolusi saya sebut dengan "mimpi" atau harapan. Nah terkadang kenyataan hidup dan mimpi itu berjarak sangat jauh. Tidak jarang juga kita mengalami mimpi buruk bukan? Nah, tugas kitalah untuk membuat mimpi dan kenyataan itu berjarak dekat atau = nol :). Relasi antara mimpi-kenyataan hidup inilah yang harus disatukan agar segala resolusi dan target kerja kita bisa tercapai ya minimal 80% ajalah.
Hal yang lumrah tentang relasi "mimpi" dan "kenyataan hidup/realkitas" sebagai berikut :
Mimpi tidak membuat saya keluar daari kenyataan hidup, kenyataan hidup tidak membuat saya berhenti bermimpi.
Mimpi dan kenyataan hidup itu tidak harus digambarkan selalu konflik, bentrok dan menghancurkan satu sama lain. Hubungan mereka seharusnya bisa di design seperti ini :
Mimpi bisa membuat saya semangat menjalani kenyataan hidup, kenyataan hidup pun bisa membuat saya lebih banyak bermimpi.
Sebaiknya dalam mendesign mimpi itu kita memperhatikan stock of name yang ada pada diri kita. hal ini berlaku untuk individu maupun organisasi. Stock of name pertama adalah 1.semangat, Pulsa semangat harus diisi penuh, dan bila sudah berkurang kita wajib me-recharge semangat hidup tersebut,pulsa semangat gratis ko';). 2. Berpikir positif juga bagian dari stock of name akan segala kemungkinan yang bisa terjadi selama kita berproses mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan hidup. 3.Dukungan baik dari orang-orang terdekat kita terlebih dukungan Tuhan yang bisa kita dapatkan melalui 4.doa dan 5.bersyukur. Dan terakhir sepertinya wajib 5. berserah kepadaNya, dan biarkan Dia yang menandatangani resolusi yang kita buat tersebut. 
Bagi yang sudah menginventarisir stock of name dalam dirinya sepertinya akan mungkin dan mudah untuk memperkecil bahkan me-nol-kan jarak antara mimpi dan kenyataan hidup yang akan diraihnya setahun 2014 yang akan datang. Dan ketika mimpi = kenyataan hidup, nikmatilah, enjoy it:)

Sabtu, 23 April 2011

Lalat & Semut

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" katanya.

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat
itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,

" Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".

"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?".

Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab,

"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius :
"Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".

" Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya
melakukannya dengan cara yang berbeda"


Sumber : Renungan Harian Sabda

Senin, 30 Agustus 2010

Takut Kehilangan hari ini

Aktivitas kita sehari-hari berorientasi untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan. Kerja keras, usaha bahkan doa kita gunakan untuk mendapatkan hal-hal yang kita butuhkan. Kita menginginkan harta, jabatan, kekayaan, teman dan banyak lagi. Bahkan untuk mendapatkan hal-hal tersebut tak jarang kita melakukan segala macam cara yang dapat merugikan diri sendiri.

Setelah mendapatkannya jarang juga kita mau sekedar menikmati hasil jerih payah tersebut. Kita justru mencari hal baru yang lain. Sehingga tanpa sadar ada sesuatu yang sudah kita dapat sebelumnya hilang begitu saja. Banyak cara dilakukan orang untuk menjaga sesuatu yang sudah dia peroleh. Dia memperlakukan temannya dengan baik. Menyimpan hartanya di tempat aman. Menjaga nama baik dan popularitas dan lain sebaginya. Rasa takut kehilangan tersebut merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Namun dengan rasa takut berlebihan ditambah tuntutan untuk mendaptkan hal-hal baru lainnya membuat kita kehilangan energi banyak.

Rasa takut kehilangan seharusnya bukan hanya rasa takut kehilangan pada hal-hal yang kita peroleh secara aktif. Namun kita juga harus takut kehilangan sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma oleh yang diatas. Ya, saya percaya apapun yang kita peroleh hingga saat ini merupakan pemberian Tuhan semua. Namun ada beberapa hal yang sebenarnya diberikan kepada kita secara merata. Seperti udara, hari-hari baru, malam, siang dan lain-lain.

Hal ini yang kurang kita sadari. Seharusnya kita takut kehilangan hari ini. Hari ini ada limitnya dan bila hari berganti hari tersebut tidak akan bisa kembali. Hal ini yang menggugah saya untuk coba mengoptimalkan kegitan-kegiatan yang bermanfaat agar saya tidak merasa takut kehilangan hari yang sudah diberikan pada saya. Begitu juga dengan anda semua. Jangan pernah biarkan hari yang sudah kita peroleh berlalu begitu saja dari hadapan kita. Takutlah kehilangan hari ini, sebab hari ini itu merupakan anugrah. Bila hari ini sudah menjadi kemarin kita tidak akan bisa menemukannya kembali. Bila kita menanti besok dan berdiam hari ini, maka kita harus siap-siap sebab hari esok masih misteri dan belum tentu ada. Jangan mengejar besok dan menantikan hari kemarin, tetapi kejar dan nantikanlah hari ini dengan aktifitas yang baik. Sehingga kita bisa menambah perjalanan sejarah hidup ini dengan kisah-kisah yang indah.

Hari ini adalah anugrah, kemarin merupakan sejarah dan besok adalah misteri.

Rabu, 28 Juli 2010

Mengatasi Rasa Kecewa

Let overcome from dissapointment. Mari kita atasi perasaan kecewa.

Rasa kecewa itu menjadi bagian yang pasti selalu ada dalam kehidupan. Kita bisa kecewa kepada orang tua, orang tua kecewa kepada anak, masyarakat kecewa kepada pemerintah, karyawan kecewa kepada bos, istri kecewa kepada suami, kecewa kepada sahabat, kecewa kepada teman, kecewa kepada pacar, bahkan manusia juga bisa kecewa kepada Tuhan. Wah gawat ini :D.

Rasa kecewa itu sangat mudah mampir dalam kehidupan kita, tanpa memandang jenis manusianya, baik anak-anak, dewasa, tua, muda, kaya, miskin, berpendidikan, pejabat dan kepada siapapun. Rasa kecewa itu merupakan kondisi dimana harapan kita bertolak belakang dengan kenyataan. Harapan itu sendiri merupakan satu-satunya motivasi akhir kita untuk bersemangat menjalani kehidupan. Bila sering kecewa maka implikasinya kita kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan orang lain, siapapun dia. Keadaan bertolak belakang antara harapan dan kenyataan ini sangat mudah ditemukan dalam setiap hubungan yang ada. Orang bisa bertengkar, putus dari pacar, demo kepada pemerintah atau malas ke Gereja merupakan fenomena dari rasa kecewa.

Haruskah kita terlarut dengan kondisi kecewa tersebut?Harusnya tidak. Kecewa itu merupakan buah dari aktivitas kita.
Bila kita berani berharap, kita harus siap menghadapi kenyataan.
Bila kita ingin berhasil, jangan pernah takut untuk gagal. Gagal itu bersifat sementara bila kita berani bangkit dari kegagalan tadi.
Bila kita memiliki ambisi dengan nafsu yang berapi-api kita harus bisa menguasai nafsu tersebut bila bertolak belakang dengan keinginan tersebut. Kita harus mampu mengendalikan diri terhadap nafsu yang berlebihan agar tidak masuk dalam rasa kecewa yang mendalam.
Dalam hidup sangat banyak ditemui kompetisi, apakah itu mencari pekerjaan, mencari pasahang hidup dan lain-lain. Kalah dan menang bukan merupakan tujuan akhir. Tapi bagaimana kita memahami esensi dari kompetisi tersebut. Bila perjuangan untuk bekerja di perusahaan favoritmu belum tercapai, maka jangan larut dalam kesedihan dan kecewa.
Manusia hidup ditengah-tengah manusia lainnya. Kita senang bila bisa diterima di komunitas tertentu. Suatu saat kita juga harus siap dan jangan kecewa bila suatu saat ditolak dari kelompok kita. Ini hal yang lumayan sering saya alami.

Rasa kecewa itu merupakan bagian dalam hidup. Manusia tidak akan kebal terhadap rasa kecewa bila memiliki jam terbang yang tinggi dalam menghadapi masalah. Hingga akhir hayat rasa kecewa itu tetap menjadi teman setia manusia. Hanya sifatnya sinusoidal, kadang muncul ke permukaan yang membuat kita sedih, kadang bisa menjadi sebuah tekat baru dalam hati untuk membuat kita bangkit kembali.

Rasa kecewa itu bersifat asumtif, subjektif dan multitafsir yang berasal dari dalam hati manusia. Jadi beda manusia maka beda menafsirkan rasa kecewa tersebut. Rasa kecewa itu irasional. Kecewa bisa dipicu karena perasaan - perasaan bahwa kita merasa berhak atas segala sesuatu, kita merasa sudah benar dari sebuah hal yang semestinya dan kita merasa dikhianati oleh sang pacar misalanya :P.

Ada tiga hal untuk mengatasi rasa kecewa ini yaitu berpikir positif, kontributif dan produktif.
Anggap saja orang berlaku melenceng dari perbuatannya yang biasa, kita coba mengerti dan berpikir positif akan tindakan orang tersebut yang mungkin juga sedang dilanda sebuah masalah. Meskipun akibat tindakan orang tersebut menimbulkan rasa kecewa. Tapi dengan berpikir positif kita bisa meminimalisir rasa kecewa tadi. Coba beranikan diri untuk berkomunikasi dengan orang yang "membuat" kita kecewa tadi dan berikan beberapa masukan dan saran, terlepas dia mau menerima atau tidak. Yang pasti kita coba berpikir kontributif terhadap orang lain, meskipun hal ini sangat sulit untuk dilakukan. Coba tawarkan solusi dan teruslah berharap dan berusaha agar harapan kita dan orang lain sama-sama menjadi kenyataan. Dalam hal ini kita sudah produktif karena sama-sama menginginkan hal terbaik tidak hanya bagi diri sendiri tapi bagi orang lain juga. Jangan mau puas dengankeinginan kita sementara ada yang bersedih dan kecewa dengan keberhasilan kita. Jangan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

Perasaan kecewa harus dikelola dengan baik sehingga menjadi pijakan motivasi baru bagi kita untuk harapan yang baru. Kuncinya adalah pada penguasaan diri untuk berpikir positif, kontributif dan produktif. Kegagalan yang menimbulkan rasa kecewa bukanlah akhir dari segalanya, tapi jadikan sebagai awal yang baru untuk melangkah menuju kesuksesan.

Minggu, 25 Juli 2010

Tidak ada pilihan lain

Sebagai manusia kita diberikan keinginan bebas (freewill) untuk segala sesuatunya. Kita bebas memilih makanan, pasangan hidup, pekerjaan dan sebagainya. Namun pada kenyataannya sering kita dipaksa untuk memilih hanya satu dari sekian banyak pilihan tersebut. Tak jarang pilihan yang dihadapkan pada kita itu adalah pilihan yang sangat tidak kita sukai. Akhirnya mau tidak mau, dengan terpaksa kita harus mengambil pilihan tersebut dan berharap pada waktu yang akan datang akan tersedia pilihan yang lain yang lebih sesuai dengan keinginan kita.

Sebagai contoh dalam memilih makanan. Disetiap rumah makan disediakan banyak sekali pilihan jenis makanan.Namun terkadang kita hanya bisa memilih sedikit atau bahkan hanya satu dari pilihan makanan tersebut. Ntah karena kita sedang punya uang terbatas atau sedang mendapat larangan makanan tertentu dari dokter padahal sebelumnya makanan itu sangat kita sukai.

Bila kita sedang dalam situasi seperti ini, sangatlah wajar membuat diri ini menjadi stress dan terkadang hilang motivasi. Namun sebagai manusia yang harus berjuanga tak ada salahnya kita jalani dulu apa yang ada. Ambil satu-satunya pilihan yang tersedia tadi dan coba senantiasa berusaha mendapatkan pilihan lain yang mungkin akan tersedia di waktu berikutnya. Ini hanya masalah waktu dan kita. Ingatlah selalu bahwa Tuhan tidak akan selalu mengabulkan permintaan kita, namun Tuhan sudah pasti akan mencukupkan semua kebutuhan kita.

Mari tetap semangat menjalani kehidupan tanpa pilihan meskipun kita sudah diberi free will tadi. Roda dunia terus berputar, waktu tetap berjalan dan pilihan itu akan datang silih berganti. Saat itulah kita bisa meraih apa yang sebenarnya kita inginkan, mendapatkan free will kita.

Jumat, 25 Juni 2010

Gagal itu biasa

Saya pernah menganjurkan untuk merayakan kegagalan. Kegagalan itu adalah "buah" dari aktivitas manusia. Namun "buah" yang dimaksud disini adalah buah yang kurang baik. Barangkali karena terlalu lama kemarau, jarang dipupuk maka hasilnya menjadi buah yang masam, kecil dan tidak enak. Sedangkan buah dari aktivitas yang paling diingini manusia adalah keberhasilan atau kesuksesan. Ya kegagalan dan kesuksesan sama-sama hasil dari aktivitas manusia.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah, jangan pernah berhenti beraktivitas hanya karena takut gagal. Gagal itu biasa. Yang luar biasa adalah semakin sering gagal dan kita tetap beraktifitas/berkarya, maka dengan sendirinya kita semakin dekat dengan kesuksesan. Memang sangat sulit untuk menerima kegagalan. Bila seseorang gagal lulus di perguruan tinggi favorit padahal sebelumnya ia adalah siswa yang selalu juara saat SMU, maka orang-orang sekitarnya akan memandang remeh dan mencemooh kegagalan tersebut. Kejadian seperti ini sangat sering menghantui pikiran manusia yang akhirnya membuat kita berhenti mencoba. Berhenti berkarya.

Saat kita bisa membuang prasangka buruk tadi maka dengan sendirinya akan menimbulkan jiwa militansi dalam diri. Seperti para misionaris zaman dahulu, mereka sangat sering ditolak, namun mereka berani mencoba lagi, lagi dan lagi. Mereka walaupun gagal, namun tanpa sadar jiwa militansinya sudah tumbuh. Kesetiaan untuk terus mencoba sudah menjadi salah satu prinsip hidupnya dan hal ini yang kemudian mendekatkan kita kepada keberhasilan. Kegagalan memang selalu datang lebih cepat daripada keberhasilan, namun walaupun sedikit terlambat kesuksesan itu pasti akan kita raih. Jadikanlah kegagalan itu menjadi sebuah hal yang biasa sebagai bagian kecil untuk menuju kesuksesan kita.

Rabu, 26 Mei 2010

Krisis pemimpin berkarakter

Saat ini sangat sulit mencari pemimpin. Pemerintah sekalipun mengaku bahwa menemukan pemimpin untuk beberapa pos strategis pemerintahan butuh kerja keras. Bentuk Tim ini Tim itu belum tentu juga mendapatkan pemimpin yang sesuai kriteria. Lihat saja upaya pemerintah sekarang untuk mencari pimpinan KPK, mencari gubernur BI, kepala BKF dan banyak pos lainnya yang tidak serta merta diisi pasca "ditinggalkan" pejabat lama. Saya pikir tidak hanya di pemerintahan, banyak instansi, organisasi, LSM/NGO mengalami kesulitan sejenis dalam mencari pemimpin mereka. Kalau sekedar pucuk pimpinan mungkin masih mudah ditemukan.
Mungkin ini juga penyebab beberapa dari kita yang agak kesulitan mencari pendamping :D

Mungkinkah hal ini terjadi pada masa depan?

Barangkali saat ini Indonesia memang sedang krisis kepemimpinan. Dari 200 juta lebih penduduk hanya sedikit yang punya integritas dan komitmen untuk memimpin, dan dari sedikit itu sangat jarang yang mau muncul kepermukaan. Pada masa mendatang sangat mustahil kita bisa menemukan pemimpin kita bila sistem saat ini tidak dibenahi. Lihat saja berapa banyak partai yang pemimpinnya tidak "diregenerasi". Sebenarnya bukan tidak mau atau karena post power syndrom, namun karena pemimpin itu tidak ada atau tidak ditemukan.

APA SEBAB?

Proses pemiskinan karakter. Dengan kata lain penerapan budaya INSTAN hingga ke bentuk - bentuk dasar kehidupan. Hal ini terjadi 12 tahun belakangan atau pasca reformasi. Banyak nilai - nilai luhur bangsa yang sudah luntur (seperti semangat memberi, keuletan, kejujuran, sopan santun) dan pudarnya minat terhadap kebutuhan spiritual. Kita mengaku beragama, tetapi tidak ber-Tuhan. Banyak orang kehilangan jati dirinya, sehingga manusia hanya dinilai dari kulit luarnya saja seperti materi, prestasi akademis, gelar, pangkat, jabatan dan kekuasaan. Hal ini yang melahirkan generasi manja dan cengeng. Tidak lulus ujian bunuh diri, atau demo. Tidak dapat kerja di Indonesia pergi jadi TKI atau jadi wanita panggilan atau nyaleg (syukur-syukur jadi anggota Dewan :p). Dipukul ortu dikit ngadu ke komnas anak. Pokoknya manja dan cengeng.

Apakah masih ada solusinya?

Bila kita tidak mau kesulitan mencari pemimpin seperti yang dirasakan pemerintah saat ini, maka kembali ke beberapa prinsip dasar pendidikan yang diterapkan pada masa orde baru dulu. Kita harus akui beberapa peninggalan Soeharto sangat baik untuk dilanjutkan. Lihat saja program KB, Puskesmas, Porgam P4, pendidikan dasar 9 tahun dan lain-lain. Namun saat ini doktrin yang ada di masyarakat adalah segala kebijakan orba jelek dan harus dibuang. Terapkan nilai-nilai Pancasila disekolah. Perkuat kegiatan - kegiatan sosial dan keagamaan. Tanam dan pelihara budaya kasih dalam keluarga. Saya menemukan seorang bapak yang tega mengantarkan putrinya untuk menjadi peminta-minta di lampu merah dan di warteg2 setiap dia hendak pergi mengojek. Dia lakukan setiap pagi dan sore harinya dijemput. TERLALU!.
Barangkali kita pernah dengar pelatihan-pelatihan motivasi atau karakter seperti Mario Teguh, Rheinald Khazali, Andrias Harefa, Andri Wongso dan lain sebaginya. Hal ini tidak berpengaruh besar bila audiencenya sudah dewasa. Yang ada hanya peluang bisnis semata. Berbeda bila kita menanamkan karakter sejak usia dini pada anak-anak, pasti akan menimbulkan efek yang luar biasa bila kelak dia menjadi dewasa. Jadi bagi orang tua atau calon orang tua, jadilah motivator dalam keluarga. Prosesnya memang panjang dan berat, namun bila dilakukan sedikit-demi sedikit pasti bisa.

Satu hal lagi yang penting, mari kita samakan persepsi kesuksesan. Redifine arti kesuksesan. Arti sebuah KESUKSESAN itu bersifat SANGAT PERSONAL (berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya), jangan semuanya disamaratakan dengan ukuran kekayaan, prestasi akademis, kekuasaan dan kehormatan, punya suami/istri yang cakep dll. Dengan demikian akan muncul orang yang berani menonjolkan keSEJATIAN-DIRInya. Tidak dibuat-buat dan seolah-olah menjadi orang lain.

Nb :yang paling bertanggung jawab adalah orang tua, guru dan pemuka agama.:)

Rabu, 28 April 2010

Jangan Menyerah!

Kesempatan untuk hidup di dunia ini sudah pasti akan diikuti oleh masalah yang tiada henti. Namun pikiran manusia masih lebih terfokus kepada masalah, sehingga dukacita kelihatannya lebih banyak daripada sukacita. Bila kita mempunyai kesedihan 100, maka sebenarnya kita memiliki kebahagiaan 1000. Hanya saja kita enggan mengakuinya. Kondisi ini yang dalam bahasa rohaninya disebut kurang atau bahkan tidak bersyukur. Sebab selalu mengedepankan kesedihannya.

Meski akan senantiasa diliputi dengan masalah, saya masih terhibur dan percaya dengan ungkapan" tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan".Barangkali beberapa diantara kita masih ingat dengan sms yang dulu2 itu :"Don't ever say :GOD, I have a big problem, but you just say :Hey problem, I have a big God, every things will be ok". Sebesar dan seberat apapun yang namanya masalah pasti bisa diatasi. Asal kita mau menghadapinya dan mengandalkan Tuhan senantiasa.

Tak jarang manusia sudah kalah sebelum bertanding. Kita langsung ciut bila masalah sudah menghampiri kita. Seperti beberapa teman yang baru lulus Ujian Nasional, kebanyakan menjadi bingung karena masalah sudah mengantri di depan. Akan ke mana setelah SMU?? Disuruh sekolah pilot sudah takut duluan karena bahasa Inggrisnya kurang, disuruh sekolah di ITB, gak mau karena takut dengan Matematika, Fisika dll. Kemaren saya melihat saran dari seorang pengamat pendidikan, katanya kesuksesan itu akan bisa diraih dengan melakukan tiga hal yaitu berdoa, bekerja (berusaha) dan berkaca. Mungkin selain ora et labora dalam bahasa Nasrani, berkaca merupakan salah satu guide kita untuk melangkah. Namun dengan seringnya kita berkaca saya pikir yang muncul adalah sisi negatif kita, kita akan lebih mudah menyerah. Dalam benak saya muncul mungkin inilah mengapa sebabnya Tuhan menyuruh kita hanya bekerja dan berdoa. Artinya kita berusaha dan tetap mengandalkan kekuatan dariNya. Masalah bisa atau tidak yang bisa menjawabnya adalah kita dan waktu.

Bagi kita yang sering menyerah sebelum bertanding mungkin ada baiknya melihat kisah dari jarum penunjuk detik pada sebuah jam raksasa yang juga menghiasi salah satu kota besar. Sesaat setelah dipasang sang jarum jam gelisah dan meragukan kemampuannya untuk bergerak setiap detik, ditambah untuk menggerakkan dua orang kolega dekatnya yaitu jarum penunjuk menit dan jarum penunjuk jam. Dengan keraguannya itu tampak kedua sahabatnya jarum penunjuk menit dan jam serta baterai memberi semangat kepada jarum penunjuk detik. Akhirnya ia mulai melangkah detik demi detik, dan tanpa terasa ia sudah bergerak selama puluhan tahun. Ia bisa bermanfaat bagi jutaan orang yang melintas di kota tersebut. ternyata ia bisa. Demikian halnya dengan kita. Sesuatu yang menurut kita tidak bisa, harus penuh keyakinan untuk dicoba. Saya yakin sedikit banyak sudah ada orang yang akan menyemangati kita. Bisa itu keluarga, sahabat, kekasih dan lain-lain. terutama Tuhan yang tanpa kita sadari akan selalu memberi kita semangat seperti Ia setia memberikan hari esok untuk kita lalui.

Jumat, 05 Maret 2010

Mengurangi Penyesalan

Siapa yang sering terlambat datang bila janjian dengan seseorang? Bila anda adalah salah satunya, berarti anda sama dengan "si penyesalan". Penyesalan merupakan "something" yang selalu datang terlambat. Dan anehnya meski selalu datang terlambat, ia akan senantiasa hadir dan membuat kita kian jengkel.

Penyesalan akan datang saat sesuatu sudah berlangsung di masa lalu. Bila penyesalan itu muncul akibat kesalahan orang lain, maka kita sangat mudah menyalahkan orang tersebut. Namun bila penyesalan datang akibat kesalahan kita, maka akan "melahirkan" seandainya.

Untuk kasus yang pertama hampir setiap hari Minggu saya alami. Ceritanya saat pergi ke Gereja, biasanya saya pergi bersama teman. Namun selalu si teman ini sedikit lama, walau sejam sebelumnya sudah diingatkan supaya siap2 ke Gereja. Alhasil, saat sampai di gereja sangat jarang tepat waktu. Ibadah sudah dimulai "sedikit" saat kami tiba. Kasus ini dengan cepat menghadirkan penyesalan. Dan kita tentu mudah untuk mencari terdakwa untuk kasus ini. Kita akan menyalahkan teman tadi, dan tak jarang kemacetan, supir angkot dan banyaknya lampu merah yang dilalui bisa menambah daftar tersangka dan kadang2 divonis menjadi terdakwa juga untuk kasus terlambat ibadah tadi.

Bagaimana kalau penyesalan itu hadir karena diri kita sendiri? Saya pikir semua orang akan lebih senang menyalahkan orang lain dari pada menyalahkan diri sendiri. Sebenarnya sangat banyak hal yang menyebabkan penyesalan hadir akibat kesalahan diri sendiri. Misalkan, saat nilai kita kurang bagus, maka saat nilai diumumkan akan muncul penyesalan. Untuk kasus ini kita tidak serta merta menyalahkan diri sendiri. Hanya sedikit yang mau mengakui kesalahan dirinya peribadi. Untuk kasus ini yang terjadi adalah berandai -andai. Seandainya saya belajar modul II praktikum kuliah ini, pasti saya bisa menjawab ujian tadi dan mendapat nilai A. Seandainya saya membuat contekan, seandainya soal ujiannya mirip dengan tahun lalu....dst.. Akan banyak istilah seandainya.

Namun, bisakah kita menghindar dari penyesalan? Saya pikir kita harus mulai dengan mengurangi kehadiran "si penyesalan" tadi. Caranya adalah kita harus ekstra hati-hati dalam setiap tindakan. Kita harus sadar betul kalau masa lalu itu tidak bisa diubah. Masa depan yang baik akan kita raih dengan tindakan kita sekarang. Ya sekarang. Jadi kalau ada sebuah kegiatan yang hasilnya untuk hari esok, maka sebaiknya lakukan hari ini dengan sebaik mungkin, seoptimal mungkin sehingga esok kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Sama halnya agar -seandainya begini...seandainya begitu....seandainya...seandainya.....dst- tidak hadir dipikiran kita, maka ada semboyan bijak dari Miyamoto Musashi yang berasal dari HutaBallon, eh dari Jepang:P. Dia memiliki semboyan "Aku takkan melakukan perbuatan yang akan kusesali". Dengan berpedoman dengan semboyan ini, maka dalam berbuat apapun kita akan berhati - hati. Semboyan yang sangat baik untuk diaplikasikan. terutama bagi saya yang selalu didatangi oleh penyesalan.:D


Kamis, 25 Februari 2010

"The Celebration of Failure"

Dalam hidup bisa dipastikan jumlah kegagalan lebih mendominasi dari pada kesuksesan. Kegagalan itu sangat dekat dengan kita dan merupakan ancaman. Oleh sebab itu kita senantiasa menjauhi kegagalan dan lebih menginginkan kesuksesan bukan?? Sayangnya kegagalan dan kesuksesan itu satu paket. Cara menghindari kegagalan adalah dengan tidak melakukan apa-apa, dan sayangnya itu pula cara terbaik untuk menghindari kesusksesan.

Semua orang biasanya senang dengan pesta dan perayaan. Tidak jarang dengan meraih sebuah kesuksesan maka seseorang akan merayakan kesuksesannya tersebut. Sekecil apapun kesuksesan tersebut maka saya yakin tidak ada yang keberatan untuk merayakannya even perayaan tersebut dilakukan secara kecil - kecilan. Bagimana dengan kegagalan anda?? Apakah kita rela merayakan kegagalan kita?

Dalam buku "The Perfect You" karangan Evelyn Jingga, kita dianjurkan untuk merayakan kegagalan. Sepanjang pengalaman saya sangat jarang hal ini dilakukan. Namun ternyata ada kegagalan yang pernah dirayakan orang lain. Dulu waktu di asrama dan masih jaya - jayanya ada prinsip kami, yaitu bila jadian dengan seorang wanita maka akan dirayakan dengan "makan - makan", sedangkan bila dia putus dari pasangannya maka akan dirayakan dengan "minum-minum". Bagaimana dengan jenis kegagalan yang lain, selain kegagalan dalam bercinta tadi?

Sepertinya merayakan kegagalan untuk hal apapun perlu kita tinjau dan kita praktikkan untuk dirayakan, minimal kita rayakan dengan orang terdekat. Manfaatnya adalah ketika dalam situasi gagal tersebut-yang biasanya stress- maka kita memiliki teman untuk berbagi tentang kegagalan tersebut. Sedikit banyak dengan merayakan kegagalan tadi maka akan menjadi motivasi baru buat kita untuk bekerja lebih optimal, sehingga kelak menjadi sebuah keberhasilan.

Selain itu dengan merayakan kegagalan maka akan mengurangi waktu kita untuk mengeluh, karena dengan perayaan tadi bisa membuat kita bersukacita. Misalkan kasusnya tentang "minum-minum" tadi, yang membuat sukacita bukan pada minumannya (red:biasanya beralkohol), namun terletak pada kebersamaan kita dengan teman atau sahabat tadi. Disamping itu bukankah dalam segala kondisi sebaiknya kita bersyukur kepada Sang Pencipta? Jadi, bila kita mengalami kegagalan, jangan segan - segan untuk merayakan kegagalan tersebut. Sebab kata orang bijak, kegagalan hanya merupakan keberhasilan yang tertunda. Jadi tidak apa toh kita rayakan dulu kegagalan tersebut, sebab suatu saat nanti kita akan mencapai keberhasilan itu juga?

Sabtu, 20 Februari 2010

Beragam sukses

Tentu setiap orang mendambakan kesuksesan. Sudah menjadi hal yang lumrah kalau kata sukses tertanam di setiap benak kita. Hidup harus sukses. Sukses dalam berbisnis, sukses bekerja, sukses belajar, sukses mengajar, sukses berkotbah, sukses bercinta dll. Pokoknya sukses, sukses dan sukses.

Sukses seolah menjadi tujuan hidup. Sering dengan cepat dan lantang kita menjawab pertanyaan "apa tujuan hidup anda??". Jawaban singkat dan cepat :"Saya ingin jadi orang sukses". Ketika ditanya lebih lanjut kesuksesan tersebut ternyata selalu berkaitan dengan materi. Terkadang juga kita menjawab ingin membahagiakan keluarga dll. Namun bila dieksplore kebahagiaan yang seperti apa yang anda maksudkan. Maka ujung - ujungnya kembali kepada kecukupan materi.

Sukses dalam benak kita adalah harta atau menjadi kaya raya. Hidup kaya raya, mati masuk surga. Ya, sebagian lagi mengatakan seperti itu. Dengan kekayaan yang dimiliki, kita seolah - olah bisa memenuhi semua kebutuhan, mendapatkan fasilitas dengan mudah dan kebahagiaan. Saya sendiri juga kadang terjebak pada paradigma seperti ini. Namun muncul pertanyaan dalam diri sendiri, apa benar orang yang miskin tidak bisa bahagia? Saya rasa mereka juga bisa bahagia, mampu memenuhi kebutuhannya dan bisa mendapatkan fasilitas yang diinginkannya. Tentu dengan kadar dan porsi tertentu. Hal ini menunjukkan kalau sukses identik dengan harta atau kaya raya menjadi blunder lagi.

Pemikiran yang sedikit lebih maju adalah bila sukses kita kaitkan dengan ketenaran, popularitas. Ya wajar saja bila kita kaya maka kita akan lebih terkenal sekelurahan bila skope harta kita menjadi yang paling banyak sekelurahan tersebut. Bila kita sukses belajar, tentu mendapat juara umum di SD impres dan membuat kita lebih terkenal dibandingkan murid lainnya. Ya wajar toh si neng lebih terkenal karena dia sangat cantik. Anomali ternyata ditemukan kembali. Seorang teroris bisa juga menjadi orang terkenal sejagad raya ini. Apalagi koruptor dan didukung dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, maka dengan mudah membuatnya menjadi terkenal. Jadi tenang saja saudara - saudara, bila anda belum terkenal belum tentu anda tidak suskes. Terkenal tidak serta - merta membuat kita sukses bukan?

Nah apa sebenarnya yang membuat kaya raya dan popularitas tadi menjadi tergerus bahkan tidak diklasifikasikan dengan kesuksesan? Bila kita menginterpretasikan sukses dengan materi, maka sifat kesuksesannya akan sementara. Hal ini banyak menjebak kita sehingga kita menghalalkan banyak cara untuk kaya dan terkenal. Tanpa sadar kita sudah kaya karena korupsi, kita menjadi profesor terkenal karena plagiat. Kesuksesan dalam artian materi selalu menjebak.

Success berarti keberhasilan atau hasil yang lebih baik. Jadi ada benarnya kalau sukses berkaitan dengan materi. Dulu rumahnya cuma satu, sekarang punya dua dan tempatnya di Setra Duta(semacam Pindok Indahnya Jakarta) lagi. Lalu dengan cepat orang disekitar mengeluarkan wangsit "Wah dia sekarang sudah menjadi orang sukses". Benar ada hasil yang lebih baik.

Bila kita tinjau ulang, Kesuksesan bukan sekedar mendapatkan materi yang lebih baik dari sebelumnya melainkan kesuksesan adalah buah dari pertumbuhan kualitas pribadi (M Candratua). Kata kunci dari pertumbuhan kualitas yang lebih baik ini adalah kesuksesan yang berjangka panjang, berdaya tahan dan berdampak sosial yang positif serta bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Pertumbuhan kualitas pribadi ini juga sangat internal. Artinya seseorang sukses bila bisa mendirikan perusahaan besar, namun bagi orang lain kesuksesan cukup dengan mendapatkan istri cantik dan setia. Jadi kualitas pribadi ini bersifat unik.

Jadi mari kita renungkan pertumbuhan kualitas pribadi kita masing - masing. Apakan kualitas pribadi tersebut akan menciptakan makna bagi orang lain dan lingkungan anda? Bila kita berhasil menemukan makna keberadaan kita ditengah - tengah orang lain, sesungguhnya anda sudah meraih kesuksesan tersebut. Banyak contoh yang bisa kita pelajari, Bill Gates dan Warren Buffet misalnya sukses dalam teknologi komputer dan sukses dalam bidang investasi. Mahatma Gandhi sukses membebaskan India dari penjajahan. Ibu Theresa dan Putri Diana sukses karena jiwa sosialnya yang tinggi. Pianis Hee Ah Lee atau motivator Nick Vujicic yang cacat juga dikategorikan menjadi orang - orang sukses dan berpengaruh. Bahkan Nick Vujicik menjadi motivator dunia saat ini dan menjadi pengusaha sukses. Semua kesuksesan tersebut tergantung internalnya masing - masing. Jadi, bila anda ulangan biologi dan teman anda dapat A sementara anda dapat C, itu sesuatu kesuksesan juga. Jadi jangan cepat - cepat kecewa.:p

Sepanjang mendatangkan makna bagi orang lain dan lingkungan sekitar maka materi, kehormatan dan popularitas akan datang dengan sendirinya. Namun kesuksesan tersebut harus bertahan lama dan berdampak sosial positif. Tidak seperti kasus teroris yang membuat seseorang terkenal sesaat. Satu hal yang harus diingat adalah orang sukses akan selagu membagikan kesuksesannya kepada orang lain. Materi dan kehormatan merupakan sesuatu yang bisa dibagikan. Hal tersebut merupakan komponen tambahan dari kesuksesan. Orang lain menyebutnya bonus dari sang Pencipta. Bahasa rohaninya adalah berkat. Nah muncul kesembapan bagi anda yang sukses untuk menjadi saluran berkat bukan??

Mari kita renungkan kesuksesan kita masing - masing. Jangan pernah berharap kesuksesan kita akan sama dan berusaha menyamakannya dengan kesuksesan orang lain. Anda akan capek dan banyak membuang energi. Bila tidak percaya cobalah anda berusaha menjadi seorang SBY. Pasti susah :p. Akhir kata mari kita raih sukses kita masing - masing dan membaginya bagi orang sekitar. Sukses buat kita semua.

Kamis, 28 Januari 2010

Memanfaatkan waktu

Time is like a river. You cannot touch the same water twice, because the flow that have passed will never pass again. Enjoy every moment of life. Ya, waktu tidak bisa diulang, di rewind atau apapun namanya.

Mengapa Tuhan memberikan waktu detik demi detik? Ia tidak memberi waktu dalam nominal/orde besar sekaligus, namun detik demi detik. Alasannya sederhana, agar kita bisa mengoptimalkan waktu tersebut. Manusia cenderung "boros" dalam hal waktu. Kita baru sadar kalau sudah sakit, sedang buru-buru dan kalau sudah tidak muda lagi. Misal bila ada orang yang sakit dan divonis dokter bahwa hidupnya hanya 3 bulan lagi. Atau ia bisa bertahan hidup lebih dari 3 bulan bila mengikuti anjuran sang dokter. Maka si pasien tadi pasti akan mengikuti semua saran sang dokter, misal tidak boleh makan ini, harus tidur jam segini dan sebagainya. Padahal hanya supaya mendapat tambahan waktu hidup untuk beberapa saat. Berbeda saat Tuhan memberi kita berkat, misal uang 100 juta. Tentu uang 100 juta ini bisa kita tabung dan saat kita butuh, maka dengan mudah kita bisa menggunakan uang tersebut.

Sampai kapan pun manusia tidak akan pernah bisa menghabiskan waktu. Sering kita mendengar ada istilah menghabiskan waktu (wasting time). Justru waktulah yang akan menghabiskan manusia. Kita semua diberi waktu yang sama setiap hari. Tidak ada manusia yang sehari diberi Tuhan lebih dari 24 jam. Namun sering kita melihat bahwa orang lain jauh lebih sukses daripada kita. Jadi waktu merupakan salah satu parameter penting. Waktu yang melimpah ini harus bisa kita manfaatkan dalam wisata kita di dunia ini. Ya, kita hidup di dunia hanya sesaat, seperti berwisata. Oleh sebab itu mari kita optimalkan kesempatan yang diberi Tuhan ini sebaik - baiknya.

Kamis, 14 Januari 2010

Satu Paket

Saat presentasi di depan mahasiswa unikom bulan Desember lalu ada seseorang bertanya : "Bisakah seseorang meraih kesuksesan tanpa mengalami kegagalan?" Dengan kemampuan saya yang masih pemula tentu sangat sulit untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Dan ini merupakan pertanyaan yang juga ada dalam pikiran saya. Namun saat itu saya coba untuk menjawab "bisa" dengan argumen2 tambahan yang "terpaksa" membuat mereka mengerti.

Namun bila ada yang melontarkan kembali pertanyaan serupa, sekarang saya sudah bisa menjawabnya. Biasakah seseorang meraih/mencapai kesuksesan tanpa mengalami kegagalan?? Jawabannya sederhana. Cara terbaik untuk menghindari kegagalan adalah dengan tidak melakukan apa-apa. Sayangnya itupula cara terbaik untuk menghindari kesusksesan. Jadi kegagalan dan kesuksesan tidak dapat dipisah-pisahkan. Itu satu paket.

Saya yakin bila kita bertanya kepada orang-orang yang sukses, pasti ada masa-masa mereka mengalami kegagalan. Jatuh bangun sudah merupakan seuatu hal yang wajar. Orang yang hanya memikirkan kesuksesan tanpa berani menghadapi kegagalan hanyalah seorang pemimpi. Kegagalan bukanlah sesuatu yang memalukan sepanjang kita mau bangkit lagi dan kembali berjuang. Sama halnya saat kita masih bayi, saat kita belajar berjalan. Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali kita jatuh hingga akhirnya kita bisa berjalan seperti sekarang ini.

Namun saat ini, daya juang kitalah yang harus dievaluasi, apakah kita berani bangkit saat kita mengalami kegagalan. Banyak orang langsung menyerah saat mengalami kegagalan. Sungguh suatu ironi bila dibandingkan saat seorang bayi yang terus berjuang agar ia bisa berjalan dan berlari. Jadi semangat dan daya juang saat kita masih kecil dulu sangat layak untuk direnungkan kembali dan digunakan pada masa dewasa untuk mencapai kesuksesan. Dan jangan pernah takut dengan kegagalan, karena kegagalan dan kesusksesan merupakan satu paket.

Senin, 14 Desember 2009

Satu dari sedikit

Satu orang lagi saya temukan anak Tuhan yang dipakai di tengah - tengah bangsa ini, setelah 5 orang Menteri KIB II, Kasad, Pangdam Jaya, wakapolda Jabar (surprise, sebab Jabar loh:p) dan salah satu dari 9 orang anggota MK (Mahkama Konstitusi).

Seorang ibu yang berprestasi tersebut adalah Maria Farida Indrati. Beliau merupakan perempuan satu-satunya dari 9 orang Hakim MK yang pada masa kecilnya kakinya terserang penyakit polio. Putri dari seorang wartawan Antara ini merupakan anak Tuhan yang dipakai untuk mewujudkan keadilan dan kedamaian. Dengan segala kekurangannya pada masa kecil, dia menerimanya dan menyadari segala kekurangan tersebut adalah cara Tuhan untuk memakai dia kelak.

Jadi, bila saat ini masing - masing kita memiliki kekurangan, mari kita cermati dan yakini kalau hal tersebut merupakan salah satu bagian dari karya Tuhan yang akan memakai kita kelak menjadi hamba Tuhan.


Minggu, 06 Desember 2009

Warisan Sejarah

Perjalanan hidup manusia akan diakhiri dengan sejarah. Percaya atau tidak drama kehidupan masing - masing kita akan terangkum dalam sebuah kisah kehidupan yang pada akhirnya merupakan sejarah yang akan kita wariskan kepada orang lain. Tentunya setelah kita tidak menjadi bagian kehidupan ini lagi atau dengan kata lain "game over"

Sama halnya dengan pengukur waktu. Sebut saja tahun -berhubung beberapa saat lagi- satu lagi tahun dimana kita berkesempatan melaluinya akan habis. Sebenarnya bukan "waktu" tersebut yang habis, namun kesempatan kita untuk mengukir sejarah kehidupan untuk 365 hari belakangan harus berhenti. Ibarat pulsa HP/listrik, maka pulsa tahun ini sudah expired (masa berlakunya habis). Kalaupun masih ada sisa nominalnya, maka kita tidak bisa menggunakannya lagi. Artinya sisa pulsa tersebut menunjukkan ada beberapa sejarah yang gagal kita ukir. Ada tujuan yang belum tercapai.

Namun jangan khawatir, sebab pulsa yang tersisa tersebut masih bisa kita gunakan di tahun berikutnya. Hanya saja jangan sampai menjadi tambahan beban kehidupan. Artinya hal yang belum tercapai tersebut jangan sampai membuat keinginan kita pada tahun berikutnya juga akan tergendala akibat bertambahnya agenda yang harus kita capai. Jangan jadikan beban, namun jadikan sebagai tantangan.

Bagaimana cara mencapainya? Kita harus belajar dari sejarah tahun - tahun sebelumnya. Tentu warisan sejarah kita berbeda satu sama lain, tergantung berapa usia kita dan sejauh mana kita mau mengingat sejarah kehidupan kita untuk digunakan sebagai pelajaran menghadapi masa depan. Bila kita tidak menghargai warisan sejarah kita, maka orang lain pun belum tentu menghargai warisan sejarah kita. Oleh sebab itu berusahalah mengukir sejarah dengan prestasi dan pengalaman hidup yang baik.

Mari kita coba menyusun sejarah hidup pada tahun ini sebagai warisan yang berharga untuk kehidupan kita. Apapun hasilnya, pasti akan berguna. Mari kita susun hari ini, karena kemarin sudah berlalu dan besok belum tentu akan hadir. Kemarin adalah sejarah dan besok masih merupakan misteri. Perjalanan sejarah kita ditentukan sekarang.

Senin, 02 November 2009

Kesuksesan

Kita mengartikan orang sukses adalah orang yang memiliki banyak harta, mempunyai pendidikan tinggi, punya jabatan tinggi dan memiliki limpahan harta. Paradigma ini yang membawa banyak orang untuk meraih "kesuksesan" dengan segala cara. Sehingga ada orang yang mempunyai banyak harta dari hasil korupsi, merampok dan melakukan cara-cara yang tidak halal. Banyak orang lulus dari perguruan tinggi dengan mencontek saat ujian dan tetap mengandalkan kecurangan. Kita meraih posisi dengan cara - cara yang tidak benar, misal dengan menjatuhkan teman sekantor sehingga kita mendapatkan posisi yang lebih baik. Hal - hal tersebut bukan merupakan kesuksesan.

Jadi apakah sukses itu? Sukses adalah berhasil menjadi orang baik. Sementara kekayaan, jabatan, gelar akademis dan harta yang melimpah merupakan komponen - komponen kesusksesan. Mereka boleh ada, dan boleh juga tidak. Yang menjadi inti kesuksesan adalah ketika seseorang memberikan manfaat kepada orang lain. Dengan kata lain dia bisa memberikan makna di tengah - tengah lingkungannya.

Orang sukses biasanya hidup sejahtera. Apakah itu kesejahteraan hidup? Kesejahteraan merupakan kondisi dimana tidak lebih besar pasak daripada tiang. Bukan berarti kesejahteraan bila kita mempunyai penghasilan besar. Banyak orang yang mempunyai penghasilan puluhan juta rupiah, namun dia tidak sejahtera. Itu dikarenakan pengeluarannya jauh lebih besar dari pada penghasilan. Sebaliknya ada keluarga yang penghasilannya UMR (upah minimum regional), namun mereka bisa hidup sejahtera. Orang - orang seperti ini yang bisa kita sebut sebagai orang yang sukses.

Diatas semuanya itu, sebelum ataupun sesudah kita meraih kesuksesan, kita pahami apa makna dari kesuksesan tersebut. Jangan salah mengartikan, agar kita tidak salah jalan. Maksud saya adalah pengertian kesuksesan yang terkadang kita buat dangkal, seperti sukses berarti dia memiliki kekayaan, meskipun dengan cara - cara yang tidak halal. Jika dalam diri kita tanamkan makna yang benar, maka kesuksesan tersebut segera akan kita raih.

Minggu, 01 November 2009

Tekanan Hidup

Semua orang menghindari tekanan hidup atau stress. Padahal stress akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Stress sudah menjadi salah satu komponen dalam hidup. Yang namanya komponen tentu akan melekat dalam sistem kehidupan kita yang kompleks ini. Pada awalnya stress ini saya jauhi dengan berbagai cara. Namun ternyata stress tersebut sudah ada dalam tubuh manusia. Stress yang muncul ke permukaan dan cenderung mengganggu tersebut adalah stress yang kita stimulus. Tanpa sadar kita memancing stress tersebut yang tadinya dalam pikiran, kini muncul dalam bentuk "masalah".

Stress itu ibarat bakteri/virus. Sebagaimana kita ketahui tubuh manusia mengandung bakteri/virus. Nah potensi bakteri/virus ini berubah menjadi penyakit adalah bila kita mengubah pola hidup baik menjadi pola hidup yang tidak teratur. Akhirnya antibody atau daya tahan tubuh kita menjadi lebih lemah dibandingkan dengan bakteri/virus yang ada dalam tubuh tadi. Sebab sebagian besar penyakit manusia sebenarnya berasal dari bakteri/virus yang sudah ada dalam tubuhnya.

Demikian juga dengan stress. Stress sudah melekat dalam tubuh kita. Bila tanpa sadar kita sudah mentriger stress sehingga muncul masalah, jangan menyerah. Stress juga ada manfaatnya. Stress bisa kita jadikan sebagai bahan ujian. Ketika kita berhasil melaluinya pasti akan membuahkan kebahagiaan dan sukacita. Namun alangkah baiknya stress ini jangan kita munculkan setiap hari. Karena ujian di saat kita sedang menempuh pendidikan juga tidak setiap saat. Kita harus belajar untuk tidak mentriger stress keluar dan menghampiri kita. Tetapi walaupun stress sudah keburu muncul, mari kita terima sebagai bahan ujian. Dengan demikian kita akan lebih menikmati kehidupan ini. Semoga kasih dan sukacita senantiasa melingkupi hidup dan kehidupan kita.

Senin, 01 Juni 2009

Berharap akan yang baik

Salah satu hal yang paling mudah dilakukan manusia adalah berharap. Berharap merupakan pekerjaan yang mudah, tidak butuh energi yang besar untuk melakukannya. Namun apakah cukup dengan berharap?? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ternyata ada juga manusia yang tidak tau bagaimana berharap. Sadar atau tidak sadar kita mungkin termasuk ke dalam kelompok yang tidak bisa berharap ini.

Idealnya manusia mempunyai harapan yang baik. Sesuai dengan perintah Tuhan, selain Kasih dan Iman kita juga harus punya Pengharapan.

Namun sering juga orang mempunyai pengharapan yang tidak baik. Contoh ketika teman kita memperoleh kepercayaan memimpin sebuah organisasi. Terkadang kita berharap yang tidak baik darinya. Kita khawatir bahwa si pemimpin tadi tidak mampu menjalankan tugasnya. Kita lebih cenderung berharap yang tidak baik dengan rasa khawatir tadi. Inilah pengharapan yang tidak baik tersebut. Sama halnya dengan berharap dari diri sendiri. Terkadang dalam menghadapi ujian, kita ragu dengan kemampuan kita. Akhirnya timbul lagi pengharapan yang tidak baik. Dan saya menemukan hal ini nyata dalam sebuah organisasi. Saat ada sebuah organ yang berusaha mengurus aset, maka orang - orang di luar organisasi malah berpikir bahwa suatu saat nanti pengurus akan menjual aset tersebut, menggunakannya untuk kepentingan pribadi dst.... Yang muncul adalah pikiran negatifnya. Akhirnya muncul harapan yang tidak baik. Kita cenderung memiliki pengharapan yang tidak baik. Seharusnya mereka berharap dengan kepengurusan saat ini semoga kelak aset organisasi ini bertambah, bisa membangun gedung 8 lantai dan semakin berdampak bagi sekitar. Namun saya amati sangat sedikit orang yang berharap baik seperti ini.

Dari hal ini dapat disimpulkan ternyata berharap itu masih merupakan kesulitan. Jadi untuk menjawab cara merealisasikan harapan tadi dalam bentuk tindakan masih merupakan hal yang sulit juga. Karena dengan berharap saja, tanapa kita berusaha untuk merealisasikannya, juga merupakan hal yang sia - sia. Untuk itu mari kita awali dengan menciptakan pengharapan yang baik dan berusaha dengan tindakan dan kinerja kita untuk merealisasikannya.

Kamis, 14 Mei 2009

Menghabiskan waktu

Terkadang manusia hanya bisa menghabiskan segala sesuatu. Ini akibat sifat manusia yang konsumtif. Hasil - hasil alam dieksploitasi sebanyak - banyaknya hanya untuk dihabiskan dalam waktu sesaat. Bila mempunyai uang, maka si manusia tadi cenderung akan menghabiskan uangnya. Apapun yang bisa dihabiskan, maka manusia akan berusaha melakukannya.

Ada juga istilah yang populer dalam konteks habis - menghabiskan. Wasting time atau menghabiskan waktu. Benarkah waktu ini akan habis? Saya rasa waktu tidak akan habis. Sama halnya dengan udara yang kita hirup, kita tidak akan pernah bisa menghabiskannya. Demikian waktu. Malah sebaliknya, waktu yang menghabiskan hidup manusia. Setelah jatah hidup kita mencapai batasnya, maka hidup manusia yang akan habis, bukan waktu yang akan habis. Setelah seseorang meninggal, waktu kan tetap ada sampai kapanpun. Waktu itu jumlahnya sangat melimpah.

Wasting time juga bisa diartikan membuang waktu. Waktu juga tidak bisa dibuang. Waktu itu adalah antara benda dan sifat. Waktu merupakan sesuatu yang abstrak tapi mendekati kenyataan. Waktu bukan milik kita pribadi. Waktu itu milik alam semesta. Sehingga kita tidak berhak mengatakan sedang membuang waktu atau menghabiskan waktu.

Untuk itu, istilah menghabiskan waktu atau membuang waktu sebaiknya tidak kita gunakan. Kita akan terlalu sombong bila mengatakan kita bisa menghabiskan waktu. Istilah tersebut bisa diganti dengan kata bersantai sejenak. Tubuh manusia bukan mesin, jadi perlu juga istirahat sejenak. Waktu hanya bisa kita manfaatkan dalam kesempatan hidup. Semakin baik memanfaatkan waktu, maka kita akan semakin sukses.

Selasa, 03 Februari 2009

Hari yang Spesial

Setiap orang pasti punya hari spesial. Ada yang menyatakan hari specialnya hari besar keagamaan seperti lebaran, Natal, Paskah, Imlek, Nyepi dan sebagainya. Ada juga yang memiliki hari specialnya pada hari ulang tahunnya, hari pernikahan, hari besar Nasional seperti hari kemerdekaan, hari pahlawan, Kartini dll. Mungkin ada juga yang punya hari spesial pada moment tentatif yang diperingati oleh dunia, seperti hari buruh sedunia pada 1 Mei, hari ibu, hari anak dll. Dan orang2 muda saya perhatikan memiliki hari spesial pada hari valentine.

Moment2 spesial tadi hanya diperingati at least 1 kali dalam setahun. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa hari spesial kita terkesan selalu kita batasi hanya 1 sampai 2 kali per tahun??? Bukankah semakin banyak hari spesial maka akan menambah sukacita dalam kehidupan? Lalu mengapa kita membatasi hari - hari spesial kita.

Menurut pemazmur hidup manusia antara 70 - 80 tahun. Jika demikian paling banyak hari spesial kita adalah 80 kali seumur hidup. Berarti kebahagiaan kita hanya berlangsung kurang dari 3 bulan selama kita menjalani kehidupan. Sungguh kebahagiaan yang sangat singkat dari ratusan bulan jatah hidup kita. Padahal tidak ada yang melarang kita untuk berbahagia.

Menurut saya hari spesial kita harus di naikkan intensitasnya. Jika belum bisa setiap hari, kita bisa jadwalkan hari spesial kita setiap minggu atau setiap bulan. Kita akan semakin sering merasakan sukacita. Bagi saya, hari spesial ada sekali dalam seminggu. Tinggal anda pilih dari Senin sampai Minggu. Buat saya pribadi, hari spesial jatuh pada hari Senin. Disaat orang banyak mengatakan "I hate Monday", tapi bagi saya tidak. Hari Senin adalah awal aktivitas kita. Jadi setiap start merupakan hal yang indah dibandingkan bagian tengah dan akhir. Coba ketika anda makan, saat memulai menyantap makanan itulah hal yang paling menyenangkan. Ketika berdoa, pada awalnya kita mengucap syukur. Jadi hari Senin merupakan hari spesial buat saya. Biasanya saya mengirim sms kepada beberapa teman untuk mengingatkan agar perjalanan hidup seminggu kedepan senantiasa diberkati. Jika pada awal minggu kita sudah semangat, pasti untuk melalui bagian tengah dan ending minggu nantinya akan baik - baik saja.

Mari...miliki hari spesial sebanyak - banyaknya. Dan ajakalah orang disekitarmu untuk bersukacita bersama hari spesial kita tersebut. Tetap semangat dalam menjalani kehidupan.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP