Selasa, 24 Februari 2009

Peace, Love and God Bless You

Menjadi seorang teladan merupakan impian banyak orang sekaligus merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Teladan dalam perkataan, teladan dalam tingkah laku, dan teladan dalam prestasi hidup lebih banyak ditemui dalam diri rohaniawan. Dan orang akan seantiasa menganalogikan menjadi teladan merupakan milik dari para rohaniawan. Padahal siapapun bisa menjadi teladan.

Teladan yang paling baik menurut saya ada pada pribadi Sang Juru Selamat. Terutama teladan dalam perkataan. Kebanyakan orang hanya ingin diteladani dari segi penampilan, gaya hidup dan penampilan fisik hedon lainnya. Sehingga sering kita melihat artis - artis berlomba - lomba menjadi trend setter atau berusana menjadi teladan banyak orang, namun hanya sebatas teladan dalam penampilan yang terkadang terkesan kurang baik. Jarang yang mau menjadi teladan dalam perkataan. Suatu ungkapan bijak mengatakan, apa yang diucapkan merupakan cermin dari hati yang paling dalam. Jika perkataannya baik, maka kurang lebih akan sama dengan kondisi hatinya. Sama seperti Yesus, dalam perkataan Dia selalu memberika perkataan - perkataan sejuk yang membawa kedamaian. Damai di bumi, sukacita di surga. Disamping sebatas perkataan, kata - kata juga merupakan doa dan harapan. Oleh karena itu, jika perkataan kita baik, maka doa dan harapan akan digenapi oleh Tuhan.

Di zaman sms seperti sekarang, kita sangat sering menggunakan kata - kata berkat kepada orang yang kita sms. Tanpa kita sadari, kata penutup dalam sms kita tersebut sudah merupakan doa permintaan kita kepada Tuhan untuk teman kita. Peace, Love and God Bless You merupakan kata yang menarik buat saya. Karena harapan ini merupakan cerminan dari kehidupan surgawi di dunia yang sangat diimpikan oleh banyak orang. Kedamaian, Cinta Kasih serta perlindungan dari Tuhan. Walau masih banyak lagi bentuk perkataan yang berupa doa dan pengharapan.

Marilah kita berlomba - lomba untuk menjadi teladan, terutama teladan dalam perkataan. Sehingga kita bisa mengevaluasi kondisi hati kita setiap saat. Sebab perkataan merupakan cerminan dari hati kita. Kasih Karunia dan Damai Sejahtera bagi kita semua.:)

Senin, 23 Februari 2009

Public Endemy

Tidak selamanya berbuat baik itu menghasilkan kebaikan. Apalagi berbuat baik kepada teman. Melakukan kebaikan terhadap orang yang sudah kita kenal cenderung berpotensi untuk mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang tersebut. Justru berbuat baik terhadap orang yang tidak kenal, jauh lebih berpotensi mendapatkan balasan yang baik terhadap kita.

Saya tidak tahu apa yang menjadi penyebab dan latar belakangnya. Namun, fenomena semacam ini sudah beberapa kali saya alami. Perlakuan "tidak baik" justru lebih banyak kita terima dari orang yang sudah kita kenal. Mudah - mudahan ini hanya oknum dari banyak teman yang saya kenal. Saya belum berani mengeneralisirnya. Maksud teman disini adalah teman seorganisasi.

Dengan berbagai macam alasan sebenarnya tidak mungkin teman kita akan menjatuhkan kita. Namun lagi - lagi akibat kepentingan yang tidak seberapa, muncullah potensi saling menjatuhkan. Sifat egois dan hanya pengen menang sendiri sangat kentara dalam masalah seperti ini. Pengalaman yang sama juga terjadi kepada seorang kakak. Sepengetahuan kamai mereka telah berteman cukup lama. Namun karena punya kepentingan yang sama, namun beda kendaraan untuk mencapai tujuan tersebut, dia tega untuk menjegal temannya sendiri. Ini mungkin yang menyebabkan organisasi yang tua tidak bisa berkembang lagi. Secara logika seharusnya kita bangga bila punya teman yang berprestasi. Sekalipun dia lebih hebat dari kita. Tidak masalah, yang penting tidak menghambat prestasi teman yang ada.

Di organisasi ini juga kelihatan orang - orang yang umumnya tidak gentlemen. Beraninya hanya terhadap sesama. Kepada orang lain, mentalnya tidak ada. "Sungguh suatu fenomena yang buruk. Masakan transfer ilmu yang jelek selalu ada dari generasi ke generasi" kata seseorang kepada saya. Umumnya kelompok - keloompok Kristen sangat sulit untuk bersatu, terutama bila ingin membesarkan organisasinya dan ketika kehidupan organisasi tersebut adem ayem alias tidak ada ancaman dari luar. Kondisi ini sangat vulnarable terhadap munculnya persaingan yang tidak sehat. Mereka lebih senang bersaing ketimbang berkompetisi. Mungkin karena orang - orang tersebut tidak memiliki kompetensi yang baik, sehingga cenderung berani bersaing hanya sesamanya. Disuruh fight di luar, eh sudah kalah duluan. Istilahnya katak besar dalam tempurung. Bagaimana bisa memajukan organisasi bila mayoritas mempunyai sikap seperti ini.

Saya kembali kepada satu kesimpulan, bahwa diperlukan public endemy (musuh bersama) yang kasat mata untuk mayoritas organisasi Kristen yang ada di Indonesia. Musuh bersama yang sebenarnya adalah kebodohan, ketertinggalan, kemiskinan. Namun ini tidak serta - mertamenjadi publik endemi dikalangan organisasi. Yang menjadi pemahaman banyak orang terhadap publik endemi harus tampak secara fisik. Lagi - lagi pemahaman orang kita masih jauh dari kondisi masyarakat yang disebut cerdas. Entah sampai kapan kondisi yang tidak sehat ini bertahan, terutama di kalangan organisasi Kristen.

Fesbuk

Hmm, setiap buka email yahoo, selalu ada invitation dari teman untuk mengajak join di fesbuk. Sepertinya facebook lagi rame. Namun kita belum tau apakah nasib jaringan sosial pada dunia maya ini akan bertahan lama. Seingat saya jaringan sejenis memang selalu banyak dan rame pada tahap awal, namun bila ada jaringan lainnya muncul, maka yang lama pun akan ditinggal dan orang akan cenderung mengikuti jaringan sosial (social network) yang baru.

Dari zaman multiply, FS hingga FB ini ada masa - masa kejayaannya masing - masing. Namun apakah setiap individu harus membuat satu account di masing - masing situs social network (SN) ini? Saya rasa kita tidak harus punya semuanya, karena akan merepotkan individu dalam mengelola setiap account SN ini. Terlebih bila intensitas kita di internet masih terbatas. Perkembangan TIK sekrang memang tersa begitu cepat. Hingga akhir dekade ini, terjadi peningkatan penggunaan TIK khusunya di kota - kota besar di Indonesia.

Selain membawa dampak positif, kita juga harus peka terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh "kecanduan" nge net, apalagi dengan aktif di dunia SN. Beberapa waktu lalu ada anak SMP yang korban akibat FS. Saat ini juga sedang banyak foto - foto artis yang dipajang di situs - situs dewasa tanpa sepengetahuan si artis tersebut. Harus ada batas - batas yang jelas dalam dunia TIK. Karena dampak negatif internet ini 10 kali lebih buruk daripada dampak negatif narkoba.

Oleh sebab itu saya tidak terlalu tertarik akan banyaknya invitation untuk membuat account baru di situs social networking. Disamping belum mempunyai waktu yang lebih luang. Namun tidak dipungkiri dunia maya ini sangat banyak manfaat positifnya. Segalanya menjadi terbuka, wawasan menjadi lebih luas dan sangat mudah mencari teman yang sudah lama kehilangan kontaknya.

Jumat, 20 Februari 2009

Karakteristik Masyarakat

Dari roadshow tingkat RT, RW hingga kelurahan dari sedikitnya 33 Kecamatan, saya menemukan karakteristik masyarakat yang berbeda - beda. Hampri tidak ada yang sama. Persamannya paling sikap apatis dan pragmatis sebahagian orang terhadap kuncungan caleg ke daerah mereka. Namun kebanyakan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memberi hak suara pada pemilu nanti sudah mulai bagus.

Proses pencalegkan sudah pasti memerlukan dana yang besar, setidaknya untuk biaya operasional dari satu tempat ke tempat lain. Namun dari beberapa caleg yang punya "modal" saya dengar berani memberi gratifikasi kepada warga yang dikunjunginya. Disamping melanggar ketentuan kampanya, hel ini juga membodohi masyarakat. Ini membentuk karakter masyarakat menjadi peminta - minta atau kata lainnya pengemis. Dan tidak jarang segelintir orang yang "sudah biasa" menerima "uang panas" ini meminta - minta kepada para caleg. Namun ketika diberi pengertian kalau mereka sebenarnya dibeli dengan uang sekitar "20 ribu" puji Tuhan ada yang tersadarkan.

Ya karakter masyarakat kita dan para calegnya sudah merusak tatanan nilai demokrasi. Para caleg seolah enggan untuk berkompetisi dan cenderung menggunakan money politic. Yang dikedepankan adalah cara jual beli suara. Tidak mengedepankan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh caleg tersebut. Demikian masyarakat, mereka tidak menggunakan moment pemilu ini untuk memilih orang - orang yang berpotensi bagus seperti mereka memilih tempat rekreasi yang terbaik. Atau memilih sekolah anaknya yang bagus. Suara mereka hanya dihargai sekitar 20 hingga 50 ribu. Hanya cukup untuk makan paling lama 3 hari. Ribuan hari lagi (5 tahun) masyarakat akan kembali menderita.

Banyak orang menganalogikan pencalegkan sama dengan judi. Sebenarnya salah. Pencalegkan tidak sama dengan judi. Kalu bermain judi, kita yang bermain. Kita yang pegang kartu. Kita yang pegang kendali permainan. Jadi kalaupun kalah, kita merasa puas. Beda dengan pencalegkan, walau kita sudah kasih orang lain uang banyak, belum tentu suaranya akan diberikan pada kita. Orang lain yang pegang kendalinya. Kita tidak pegang kartu secara langsung.

Bagaimana dengan yang golput? Saya rasa jangan sampai golputlah. Jika caleg belum sempat mendatangi kita, toh tidak ada salahnya kita mencari tahu caleg yang ada di dapil atau sekitar kita. Kita bisa melihanya melalui TV One, Koran, Internet atau tanya kepada KPU dan KPUD. Sedikit banyak mereka pasti mengetahui caleg. Jika tidak mau mencari tahu, itu sama dengan milih kucing dalam karung. Mungkin se per sekian persen ada hasil yang baik. Namun masih lebih bijak milih kucing dalam karung daripada golput. Golput ruginya dua kali lipat. Tidak milih dan bisa saja surat suara kita dimainkan orang lain. Tidak ada yang tidak mungkin, yang tidak mungkin adalah memakan kepala sendiri. Maukah kita dirugikan orang lain?

Berita Dukacita

II Tesalonika 2:16. Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita,
2:17 kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.
Kasih karunia dan Damai Sejahtera Allah senantiasa beserta kita.

Kamis 19 Februari 2009, kembali kami kehilangan orang yang sangat kami kasihi. Setelah 2,5 tahun lalu tepatnya pada tahun 2006, 3 orang keluarga dari alm bapak wafat, hr ini kami harus kembali berduka. Dari 7 orang bersaudara, saudara alm bapak saya yang masih hidup tinggal 2 orang lagi. Rata - rata meninggal dalam usia "muda" 50an tahun. Kemarin namboru saya (saudara perempuan bapak) dipanggil menghadap Tuhan pada pukul 12 siang @ Porsea Sumatra Utara dengan meninggalkan 4 orang anak laki-lai dan 1 perempuan. Yang baru menikah baru 1 orang dengan cucu sebanyak 2 orang.

Sungguh suatu cobaan yang membuat saya pribadi kembali bertanya akan "keadilan Tuhan". Mengapa cobaan yang demikian berat ini selalu datang tanpa adanya jedah waktu. Padahal seingat saya oppung (kakek dan nenek) tutup umur pada usia 80an tahun, namun generasi anaknya rata - rata berusia 50an tahun dan bapak saya merupakan satu - satunya yang meninggal tanpa cucu dan meninggalkan adik saya yang masih berumur 4 tahun waktu itu. Ternyata kematian itu datang dengan sangat cepat. Sedangkan amangboru saya (suaminya) sudah meninggal juga Juni 2006 lalu)

Dari 7 bersaudara, saya mengingat kembali saat mereka dipanggil satu per satu. Yang nomor 1 meninggal sekitar pada tahun 1988, yang no 2 pada tahun 1990. Nomor 3 (perempuan) meninggal pada Februari 2006, nomor 5 alm bapak maninggal pada Oktober 2006 dan yang nomor 6 (perempuan) meinggal pada Februari 2009. Namboru saya yang nomor 4 dan bapa uda (adik bapak) yang nomor 7 puji Tuhan masih sehat dan merekalah harapan kami yang nantinya bisa menjadi pengganti dari alm bapak dan saudaranya yang telah berpulang terlebih dahulu.

Renungan hari ini "Mati demi Keadilan" merupakan sikap pengorbanan seseorang untuk mewujudkan keadilan. Kata kuncinya adalah pengorbanan, walau taruhannya nyawa. Namboru saya ini juga sudah berjuang untuk melawan penyakit, namun mungkin kematian adalah jalan terbaik dari Tuhan. Dua orang lagi anaknya yang masih kecil ketika saya telp sangat bersedih sekali dan membuat saya miris ketika mereka bertanya "siapa lagi yang akan memberi kami makan??" dan "siapa yang akan membiayai sekolah kami?". Saya sangat sedih dan berduka mendengarnya. Apalah yang bisa saya perbuat ya Tuhan?? Namun saya selalu ingat kata - kata Tuhan, Ia tidak mungkin memberi beban hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan umatnya. Kami menerima pencobaan ini karena Tuhan masih sayang sama keluarga ini. Dia masih ingat sama kami. Semoga Tuhan yang memberi penghiburan abadi buat semua keluarga yang di tinggalkan.
Semoga dukacita ini hanya sebentar saja untuk berita sukacita yang akan datang dari Tuhan Yesus. Amin

Rabu, 18 Februari 2009

It is Well with my soul

Soul (jiwa) merupakan satu elemen dari manusia. Tubuh, roh dan jiwa merupakan elemen tiap - tiap manusia yang ada dibumi ini. Bila salah satunya bermasalah, maka manusia tersebut akan sulit untuk hidup mandiri. Kalaupun bisa bertahan pasti karena bantuan orang lain. Untuk itu merupakan suatu kewajiba bagi setiap individu untuk memelihara tubuh, roh dan jiwanya.

Untuk merawat dan memelihara tubuh dan roh biasanya lebih mudah daripada memelihara jiwa. Memelihara tubuh yang tampak secara fisik cenderung lebih mudah daripada roh dan jiwa. Makanan fisik masih bisa kita peroleh dengan mudah. Makanan roh biasanya dari agama dan keyakinan kita. Kita harus memberi makanan kepada tubuh dan roh. Namun manusia sangat sering mengabaikan makanan jiwanya. Mungkin juga karena dia kurang mengetahui apa makanan bagi jiwanya.

Setiap orang (general) mempunyai makanan tubuh dan roh yang hampir sama. Namun untuk makanan jiwa setiap orang pastilah berbeda. Hal ini menyangkut pressure yang ia hadapi. Namun ketiganya mempunyai hubungan erat satu dengan yang lain. Dimanakah letak jiwa mnanusia itu? Jiwa terletak pada pikiran kita. Banyak orang tidak bisa mengemudikan pikirannya. Akhirnya ia sakit jiwa. Ia menjadi stres dan hidupnya tidak bergairah serta berimplikasi terhadap pemeliharaan tubuh dan roh. Hidup yang tidak mau tahu terhadap sekitar merupakan suatu indikasi jiwa yang bermasalah.

Memelihara pikiran merupakan hal yang penting. Kita coba analisa masalah yang kita miliki, coba cari potensi kita untuk memecahkan masalah tersebut. Ada kalanya masalah diendapkan dulu seperti kita hendak meminum kopi. Tentu akan lebih nikmat meminum kopi yang ampasnya telah mengendap. Demikian terhadap masalah. Nyamankan pikiran dengan ber"refreshing" ria bersama teman - teman untuk mengendapkan masalah yang mungkin sedikit berat. Manajemen pemikiran akan membuat kita terus bergairah melanjutkan perjuangan hidup. Jiwa harus diperkuat dengan kesediaan kita merawat elemen kita yang lain yaitu roh dan tubuh.

Selasa, 17 Februari 2009

Gambaran umum berkeluarga

Postingan kali ini sepertinya yang pertama saya tulis tentang cinta. Memang agak berat menuliskan hal ini:D. Disamping karena bukan pengalaman pribadi, juga karena didunia percintaan saya masih level SD, kalau dari skala 1-10, mungkin baru pada angka 4.777. Namun esensinya bukan untuk menuliskan romantika percintaan seperti pada sebuah novel atau sinetron yang biasa kita saksikan. Namun sebagai sebuah pelajaran hidup yang bisa menguatkan langkah hidup kita nantinya.

Saya mengenal beberapa orang yang mungkin sudah seusia orang tua saya, namun belum menikah. Dari segi materi dan kemapanan sudah tidak ada masalah, namun terkadang penilaian kita terhadap orang yang "belum" menikah pada saat semestinya lebih cenderung nge"judge" karena mereka terlalu memilih, egois dan sebagainya. Ada juga beberapa yang sudah hampir kepala empat, pengen cepat menikah, namun ketika ditanya siapa calonnya, mereka juga belum punya. Kemaren ada orang yang sudah menikah, namun merasa tidak cocok dengan pasangannya. Apa yang salah??

Saat kami sharing tentang beberapa kisah pacaran teman - teman, beberapa kisah diantaranya bisa dijadiin contoh yang baik. Ada yang mengatakan dia dan pasangannya sudah saling mengisi kekosongan. Artinya pacaran mereka membawa kebaikan buat mereka. Seorang adik berkata mungkin tidak akan ada lagi cowok yang akan dia tunggu di hatinya, ketika pasangannya sudah sangat mengerti dengan hubungan pacaran mereka.

Ada juga yang mengatakan belum menikah karena beberapa trauma masa lalu, misal sang mantan pacar jadian sama sahabatnya (teman dekat). Hal ini menjadi trend yang paling banyak sebagai alasan banyak orang yang belum menikah dan atau pacaran.

Manusia diciptakan berpasang - pasangan. Tetapi tidak jarang juga yang sudah berpasangan ingin berpisah (cerai). Banyak yang ingin menikah, namun dia sangat kesulitan mencari pasangan hidupnya. Dua masalah yang sangat dilematis. Disaat sebagian orang sangat ingin memiliki pasangan, tidak sedikit juga yang ingin mengakhiri hubungan pernikahannya.

Berpasangan (menikah) merupakan proses kombinasi tidak hanya dua individu, tetapi kombinasi setidaknya 2 sampai 4 keluarga besar yaitu keluarga ayah dan ibu si pria dan ayah dan ibu si wanita. Tentu menjadi hal yang sangat sulit untuk mengkombinasikan keluarga - kelurga tadi. Namun jika kita berfokus kepada kesulitan - kesulitan tersebut, maka kita akan enggan untuk membentuk keluarga. Untuk yang berhasil mengkombinasikan beberapa keluarga tadi, maka ia tidak akan kesulitan mencapai kebahagiaan. Kita bisa analogikan punya 2 buah celana dan dan 2 buah kemeja yang berbeda. Maka kita sudah mempunyai sedikitnya 24 kombinasi pakaian. Tentu menjadi hal yang indah. Dengan catatan setiap orang lebih cenderung ingin memberi. Sifat manusia kebanyakan hanya ingin menerima. Padahal menurut ajaran Tuhan kita lebih baik memberi daripada menerima. Lebih baik mencintai daripada dicintai. Ini akan meminimalisir keegoisan kita.

Orang yang ingin berpisah tadi mungkin karena gagal mengkombinasikan 4 macam karakter keluarga serta setiap elemen tadi cenderung hanya menerima. Namun juka kombinasi tersebut berhasil, maka kekuatan akan bertambah untuk menggapai kebahagiaan. Jika kita punya kekurangan, maka yang lain akan menutupi kelemahan kita tersebut. Intinya saling menutupi kelemahan dan saling memberi.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP