Minggu, 05 Juni 2022

Hidup yang lebih Efisien?

        Tak terasa tahun 2022 sudah hampir setengahnya dilewati. Hari berganti hari dengan cukup baik sudah saya lalui. Setengah tahun tersisa harus menjadi lebih baik lagi. Secara umum Tuhan memberi kita 3 hari, yaitu kemarin, hari ini dan besok. Respon untuk ketiga hari tersebut haruslah dalam keadaan bersyukur, bersemangat dan berpengharapan. Tak terasa kehidupan ini sudah berubah, saya melihat beberapa teman berubah menjadi tua secara fisik, bahkan beberapa teman sudah ada yang berpulang.

      Sebagai manusia lahiriah kita seolah kekurangan segala sesuatu, kekuasaan, materi dan kesenangan duniawi seolah tak ada batasnya.Rasa tidak pernah puas itulah yang akhirnya menimbulkan masalah, konflik dan peperangan dalam hidup kita. Namun secara absolut semua hal tersebut dibatasi oleh waktu yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Tapi alangkah baiknya kalau setiap insan dapat membatasi diri/ mencukupkan diri atas segala kesenangan duniawi, kekuasaan dan materi.


        Sama seperti ilustrasi berikut : Bayangkan saat kita beerada di gurun pasir pada siang hari yang panas dan terik. Yang paling kita butuhkan biasanya air sebagai pelepas dahaga. Namun bagi seorang pemabuk yang kebetulan ada di gurun pasir, ia tidak akan senang bila menemukan sumber air jernih yang bisa melepaskan dahaga. Demikianlah hidup kita, kita terlalu dibebani dengan "penyakit" dunia ini. Tuhan secara langsung sudah menyediakan kebutuhan manusia, namun terkadang manusia sendiri yang tidak pernah puas terhadap pemberian Tuhan tersebut. Kita terjebak dengan kekuasaan, materi dan kekayaan. Ya, ketiga hal tersebut tentu perlu dalam hidup, namun harus bisa dibatasi dengan rasa puas dari diri sendiri, jangan sampai dibatasi oleh waktu.


        Dari saat ini saya harus belajar mencukupkan diri. Melakukan yang terbaik kemudian berserah kepada Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Bila Ia berkehendak kekayaan, kekuasaan amat sangat mudah diberikanNya kepada kita, asalkan kita setia dan berserah. Sama seperti Simon Petrus dan Andreas yang diajak Tuhan ketengah danau menangkap ikan. Mereka awalnya tidak mendapat apa-apa, namun saat mereka berserah pada Yesus dan menuruti perkataanNya, tiba-tiba jala mereka penuh dengan ikan yang sangat banyak bahkan hampir merobek jalanya. Semoga Tuhan memampukan saya dan saudara..

        

Jumat, 31 Desember 2021

Malam Old & New

 

Hari ini merupakan hari terakhir di tahun 2021. Serah terima tahun 2021 ke tahun 2022 akan dilaksanakan malam ini. Setiap kita hendaknya berefleksi untuk mengingat kembali sejuta kenangan yang terjadi sepanjang tahun ini. Ya tahun ini merupakan tahun yang sangat berat karena masih pandemi Covid 19.

 

Namun bagi kita yang masih bisa menyaksikan pergantian tahun sudah selayaknya kita mengucap syukur akan anugrah besar ini. Ini merupakan augrah besar karena Tuhan memberi kita kesempatan untuk melewati satu tahun rahmatnya dan memberi tahun yang baru.

 

Saat seperti ini biasanya kita sering bertanya apakah kita mampu melewati tahun 2022 nanti dengan segala pergumulannya? Tahun 2021 dan tahun-tahun sebelumnya harus jadi refleksi kita dalam melangkah ke depan. Berserah dan berpengharapan merupakan sikap hidup yang harus kita tanamkan dalam sanubari. Terlebih bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang Dia berikan saat malam old & new nanti.

 

Sama seperti lyric lagi diatas Hidup ini adalah kesempatan. Pakailah kesempatan yang ada untuk lebih baik lagi melayani Tuhan. Karena kita ini adalah seorang hamba yang diberi tugas melewati tahun 2021 ini dan kembali diberi tugas untuk menjalani tahun 2022. Sebaiknya kita harus siap menerimanya dengan segenap hati. 

 

Malam old & new ini akan terjadi dalam sepi, namun manusia diseluruh dunia akan merayakannya sesuai dengan zonasi waktu yang ada. Sebagian orang akan merayakan pergantian malam old & new ini dengan megah, berpesata dan sebagainya. Namun bagi saya serah terima tahun ini akan dirayakan dengan sederhana. Yang penting kita tetap mengandalkan Tuhan. Semoga tahun depan kebaikan Tuhan dan penyertaan Tuhan semakin nyata dalam kehidupan kita. Selamat merayakan old & new.


 --D2S--

 

 

 

        

 

Rabu, 29 Desember 2021

Kehilangan Umur?

Kemarin Selasa 28 Desember 2021 saya genap berusia xxx7 tahun. Usia yang cukup matang dengan berbagai macam pengalaman dan pergumuluan. Untungnya Tuhan masih memberi waktu untuk saya dalam menjalani kehidupan ini.


Manusia "dipilih" Tuhan dan "ditugaskan"Nya berdasarkan kehendaknya. Sama seperti perawan Maria yang ditugaskan Tuhan untuk mengandung dan melahirkan seorang BAYI KUDUS. Sebagai manusia awalnya Maria bertanya 'Bagaimana mungkin dia bisa mengandung padahal dia belum bersuami? Ya, itu pertanyaan yang sangat wajar seagai manusia. Namun Maria menjawab dengan bijak " Sesungguhnya aku adalah hamba, Jadilah Kehendak Tuhan menurut perkataan Malaikat. 


Sama seperti kita manusia, ketika kita diminta atasan untuk mengerjakan sesuatu, kita meresponnya dengan berbagai macam cara. Ada yang langsung nurut dan mengerjakannya dengan segenap hati, namun ada kalanya juga kita banyak bertanya, mengeluh dan kadang menolak perintah tersebut. Padahal kita ini sama seperti hamba, kita adalah pelayan terhadap atasan kita.


Sesungguhnya kita ini adalah hamba dari Tuhan yang mengutus kita ke bumi ini. Tuhan adalah atasan kita. Oleh sebab itu jadilah kita seorang hamba, seorang pelayan Tuhan. Sudah sewajarnya apa yang diperintahNya kita lakukan  dengan segenap hati, sama seperti Maria yang rela menerima perintah Tuhan untuk mengandung dan melahirkan bayi Yesus.


Susah sejauh ini perjalanan hidup saya, saya sangat bersyukur masih bisa merasakan kebaikan Tuhan melalui orang-orang yang mengasihi saya, anak, istri dan keluarga. Saya sangat yakin mereka salah satu objek yang merupakan titipan Tuhan. Peran kita adalah dengan mengasihi mereka dengan tanggung jawab. Hari-hari tidak terasa sudah berlalu sekian tahun. Saya mungkin kehilangan 1 tahun lagi dari sisa hidup saya di bumi fana ini. Namun saya harus berusaha terus untuk menjalani kehidupan seperti menerima perintah Tuhan. Karena saya adalah hamba, saya adalah pelayan.

Tetap semangat dalam menyongsong hidup yang baru. 

 d2s..

Rabu, 22 Desember 2021

Makna Natal

 



Beberapa hari lagi kembali umat Kristiani akan merayakan Natal. Momen Natal merupakan suatu waktu yang dinantikan banyak orang. Memang tahun ini merupakan tahun kedua perayaan Natal dalam masa pandemi. Namun bagi orang percaya kita harus tetap bersukacita apapun bentuk perayaan Natal yang dilakukan.

Perayaan Natal tahun ini mayoritas dilakukan secara daring/online. Tentu Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Kemajuan teknologi tidak membatasi umat dalam perayaan Natal. Kita tetap bisa melakukannya walapun dengan online. Kita sebagai umat harus merayakan Natal dengan sukacita penuh, karena perayaan ini merupakan hadiah agung dari Sang Maha Khalik. Mengapa hadiah? Karena Yesus lahir membawa anugrah keselamatan bagi kita manusia. 

Makna Natal tahun ini buat saya ada adalah kesederhanaan dan berani mencukupkan diri terutama dalam hal materi. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada seorangpun yang merasa cukup apalagi merasa lebih. Orang terkayapun selalu merasa kurang. Semua manusia tidak punya batas terutama dalam hal materi dan duniawi. Padahal Kristus Yesus sebagai pemilik langit dan bumi datang ke dunia ini dengan kesederhanaan. Ia lahir dikandang domba. Hal ini mengajarkan kita supaya kita menjadi orang yang sederhana dan berani mencukupkan diri. 

Semoga damai sejahtera Tuhan dan sukacita Tuhan senantiasa bersama kita. Selamat Menyambut Natal dan Selamat hari Ibu 22 Desember 2021. Tuhan Yesus Memberkati

Senin, 25 Oktober 2021

Menemukan yang Hilang

Setiap yang kita punya merupakan titipan. Artinya tak ada suatu apapun yang kita bawa saat lahir ke dunia. Namun seiring berjalan waktu -bertambah usia- makan kita juga akan memiliki sesuatu. Bahkan ada yang harus berjuang lebih bila hendak memiliki sesuatu, misal bila ia ingin mobil maka ia harus bekerja keras, menabung dan mencari cara.

 

Pada era digital seperti saat ini, file seperti foto, video, dokumen bahkan akses ke media sosial, email dll jadi sangat penting juga. Kita akan kewalahan mencari file yang terhapus atau mungkin kita lupa dimana menyimpannya.


Sama seperti laman blog saya ini. 5 tahun saya kehilangan akses meskipun saya tahu emailnya, namun berulangkali untuk recovery password selalu gagal.  Namun beberapa waktu lalu waktu peralihan provider internet dari First Media ke Icon+ saya berhasil kembali mendapatkan akses ke laman blog ini. Luarrr biasaaa, saya senang dan bersyukur. Muda2han saya bisa lanjut sharing tentang pengalaman-pengalaman terbaik yang bisa memberkati kita semua.. Amin..


Semangat... 



Semoga pandemi cepat berlalu...


Salam;


D2S--


Minggu, 28 Agustus 2016

Mengasihi dengan Tindakan Nyata

Hari Minggu ini saya merasa diingatkan kembali dengan perintah Tuhan yang luar biasa itu.
Tugas yang diberikanNya kepada kita terbilang sederhana, yaitu mengasihi. Sebagai makluk sosial, yang hidup dengan manusia lainnya, sudah seharusnya manusia hidup saling mengasihi. Hal ini bertujuan agar dalam hidup ini terjadi harmoni satu dengan yang lainnya.

Natz kothbah Minggu ini diambil dari 1 Yoh 3 : 18 (Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.). Mengasihi dengan perbuatan dalam kebenaran, tidak cukup secara verbal seperti yang dilakukan kebanyakan manusia. Namun yang terjadi sangat sulit ditemukan mengasihi sampai pada tataran perbuatan. Bila pun terdapat mengasihi pada tataran perbuatan pasti dengan ada maksud tertentu.

Saya sejenak berpikir bahwa Tuhan memberikan tugas yang sangat berat. Buktinya sangat sulit manusia melakukan tugas mulia ini hingga pada tataran perbuatan terlebih mengasihi dalam perbuatan dan di dalam kebenaran. Manusia lebih cenderung melakukan hal sebaliknya, yaitu membenci manusia lain tanpa tujuan/maksud tertentu maupun membenci dalam rangka mencari keuntungan pribadinya.

Sangat sulit bagi manusia untuk mengasihi manusia lainnya tanpa syarat. Padahal sangat jelas keinginan Tuhan dalam 1 Yoh 3 : 18 tersebut agar manusia bisa melakukan tugas ini dengan baik. Melakukan kasih dengan tulus dan sempurna. sebab sebelumnya Tuhan Yesus sudah melakukan tugas ini sebelumnya, Dia sudah mengasihi manusia dengan tulus dan sempurna di dalam Kebenaran tanpa syarat, tanpa tujuan dan maksud apapun. Marilah kita bulatkan tekad untuk melakukan hal ini setiap saat, kepada siapapun dan tentunya di dalam Kebenaran Firman Allah. Tuhan memampukan kita... Syalom...

Minggu, 12 Januari 2014

Stock of Name

Awal tahun biasanya banyak perusahaan, instansi, organisasi mengadakan rapat kerja (red:rakernas, rakerda dll). Hal ini bertujuan untuk merumuskan target apa yang dicapai setahun kedepan. Untuk evaluasi kegiatan yang sudah di lakukan setahun sebelumnya menjadi dasar untuk melangkah ke depan.
Bagi kehidupan pribadi ada juga raker nya yang sering kita dengar dengan kata "resolusi"(baca lagi resolusimu ya:P). Wah mahkluk apa itu???:D. Tapi yang pasti resolusi masih seputar mimpi/harapan dan target yang akan di capai bukan?.
Hal yang sudah lalu/ bahan evaluasi coba saya sebut namanya "realitas"/ kenyataan hidup. Dan konsep-konsep raker/resolusi saya sebut dengan "mimpi" atau harapan. Nah terkadang kenyataan hidup dan mimpi itu berjarak sangat jauh. Tidak jarang juga kita mengalami mimpi buruk bukan? Nah, tugas kitalah untuk membuat mimpi dan kenyataan itu berjarak dekat atau = nol :). Relasi antara mimpi-kenyataan hidup inilah yang harus disatukan agar segala resolusi dan target kerja kita bisa tercapai ya minimal 80% ajalah.
Hal yang lumrah tentang relasi "mimpi" dan "kenyataan hidup/realkitas" sebagai berikut :
Mimpi tidak membuat saya keluar daari kenyataan hidup, kenyataan hidup tidak membuat saya berhenti bermimpi.
Mimpi dan kenyataan hidup itu tidak harus digambarkan selalu konflik, bentrok dan menghancurkan satu sama lain. Hubungan mereka seharusnya bisa di design seperti ini :
Mimpi bisa membuat saya semangat menjalani kenyataan hidup, kenyataan hidup pun bisa membuat saya lebih banyak bermimpi.
Sebaiknya dalam mendesign mimpi itu kita memperhatikan stock of name yang ada pada diri kita. hal ini berlaku untuk individu maupun organisasi. Stock of name pertama adalah 1.semangat, Pulsa semangat harus diisi penuh, dan bila sudah berkurang kita wajib me-recharge semangat hidup tersebut,pulsa semangat gratis ko';). 2. Berpikir positif juga bagian dari stock of name akan segala kemungkinan yang bisa terjadi selama kita berproses mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan hidup. 3.Dukungan baik dari orang-orang terdekat kita terlebih dukungan Tuhan yang bisa kita dapatkan melalui 4.doa dan 5.bersyukur. Dan terakhir sepertinya wajib 5. berserah kepadaNya, dan biarkan Dia yang menandatangani resolusi yang kita buat tersebut. 
Bagi yang sudah menginventarisir stock of name dalam dirinya sepertinya akan mungkin dan mudah untuk memperkecil bahkan me-nol-kan jarak antara mimpi dan kenyataan hidup yang akan diraihnya setahun 2014 yang akan datang. Dan ketika mimpi = kenyataan hidup, nikmatilah, enjoy it:)

Jumat, 10 Januari 2014

Pelayanan tidak mengenal Libur dan tidak ada kata Pensiun dari Para Pelayan Tuhan.

Merry Christmas & Happy New Year 2014.. :)

Belum genap 240 jam tahun ini kembali saya "memaksa" login di blog saya yang sudah lumayan lama tidak saya kunjungi.. Belum genap 240 jam saat tulisan ini saya buat, sudah cukup banyak pergumulan yang saya alami. Kadang saya merenungi apakah tahun ini bisa kembali terlewati dengan penuh sukacita dan damai..

Awal tahun ini saya kembali di gugah untuk kembali menjadi pelayan. Ya, selama hidup sudah menjadi "takdir" yang namanya orang Kristen untuk menjadi Pelayan. Sama seperti kelahiran dan perwujudan Allah menjadi bayi Yesus yang baru dirayakan dalam pesta Natal 2 minggu an yang lalu.

Syarat menjadi pelayan tidak mengenal umur, status, pendidikan dan sebagainya. Asalkan kita mau berserah, maka prdikat menjadi pelayan bisa kita miliki. Ladang pelayanan masih sangat banyak seluas samudra, sedalam palung laut dan sejauh timur dari barat.Kerendahan hati beberapa orang yang mau menjadi pelayan kiranya menjadi motivasi saya untuk mau dan bersedia dipakai olehNya untuk melayani di sebuah organisasi yang jauh dari kenyamanan. Ya, kalau menjadi pelayan seharusnya jaduh dari rasa nyaman, pasti ada unsur menderitanya.

Saya melihat beberapa senior saya, masih awal tahun baru dimana suasana masih liburan ternyata mereka mau menyediakan waktu untuk pelayanan di organisasi tersebut. Beberapa senior juga seharusnya sudah pensiun, namun mereka mengatakan bahwa pelayanan tidak mengenal kata pensiun. Akan terasa damai sepertinya bila banyak orang yang memiliki pengertian demikian.

Saya bertekad untuk menjadikan pelayanan ini menjadi proyek mata air bukan proyek air mata. Proyek mata air yang menyejukkan, yang menghilangkan dahaga (kata seseorang). Awalnya dan sampai saat ini sebelum genap 240 jam tahun 2014 saya masih diliputi keraguan akan hal ini. Namun saat saya mendengar lagu "Bersamamu Bapa" dan lagu "Dengan Sayapmu' ternyata mampu sedikit mengurangi rasa ragu saya. Seorang teman juga menguatkan saya bahwa pelayanan ini merupakan kerja-kerja Roh Kudus. Kiranya kami semua di kuatkan oleh Nya dalam menjalani pelayanan ini untuk masa depan. Semangat dzm

Minggu, 08 September 2013

September Ceria

Tak terasa tahun 2013 ini sudah terlalui 2/3 tahun. Rencana di awal tahun tentang apa yang hendak di capai ada kalanya bisa di evaluasi mumpung masih ada sisa 4 bulan lagi pada tahun 2013 ini.
Tak bisa di pungkiri bahwa seiring bergantinya hari demi hari, bulan demi bulan ada sesuatu yanb terjadi dalam hidup kita, apakah itu sikap kedewasaan, memandang suatu hal dari banyak sudut dan kita semakin rindu akan dunia2 masa lalu, seperti masa-masa organisasi saat mahasiswa dulu. 
Sebenarnya sampai saat ini saya juga masih melayani di sebuah organisasi di Bandung. Organisasi dengan banyak dinamikia, yang sedikit banyak memberi pengalaman dan pembelajaran hidup. Organisasi yang jauh dari kenyamananakan adanya penghargaan, namun saya akan tulus dan iklhas bilamana orang tidak menghargai peran serta kita dalam organisasi tersebut.
Semoga untuk rencana dan target yang belum tercapai ditahun 2013 ini masih mungkin kita gapai dengan sisa waktu yang masih tersedia...Tuhan memberkati

Sabtu, 12 Januari 2013

Tak Terulang yang terjadi, tinggal tanggungjawabnya!

Saat ini kita sudah masuk ke tahun yang baru lagi. Sudah 12 hari masuk di tahun 2013. Segala kenangan dan tujuan hidup di tahun 2012 sudah berlalu ke lautan sejarah kehidupan kita. Kesempatan dan harapan baru menjadi hak kita yang masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup di tahun 2013 ini.  Tidak lupa juga Tuhan masih memberi kesempatan dan harapan mencapai kesuksesan hidup itu kepada saya :)

Tahun 2013 ini tidak banyak yang saya targetkan. Hanya berusaha memanfaatkan waktu sebaik dan se maksimal mungkin. Terlebih setahun terakhir saya sudah ditemani seorang wanita yang penuh kelembutan, kesabaran dan kebaikan kepada saya. Saya berharap agar kami bisa menjalani setiap langkah kehidupan ini dengan sebaik mungkin.

Waktu merupakan sesuatu yang sangat tidak mungkin untuk diulang. Seiring dengan berlalunya waktu tersebut, dmikian juga perbuatan kita akan berlalu seiring terbenamnya waktu setiap sore di ufuk barat. Bila perbuatan kita baik, maka kita tidak akan khawatir. Bila perbuatan kita diluar rel kehendak Tuhan, maka kita harus siap mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut.

Seperti pada penggalan lagu KJ no 331 ayat 1. tak terulang yang terjadi, tinggal tanggung jawabnya. Hal ini menjadi tema yang baik untuk dasar kita melangkah di hari2 yang baru yang akan kita lalui di tahun 2013 ini. Muda2han pada akhir tahun 2013 ini, tidak banyak perbuatan kita yang harus dipertanggungjawabkan kepada sang empunya hidup. Selamat menjadi orang baik dan benar. TYM

Sabtu, 02 Juli 2011

Penampilan Senior2 GMKI

Selasa, 28 Juni 2011

Kerinduan terhadap Tuhan

Ketika sedang bepergian ke suatu tempat yang jauh atau untuk waktu yang lama, kita pasti pernah merasakan kerinduan baik kepada orangtua, saudara, teman, bahkan pasangan. Saya juga pernah mengalaminya ketika selama beberapa tahun harus pergi bekerja di luar kota. Ingatan tentang lezatnya masakan rumah buatan ibu, waktu-waktu berbagi pengalaman bersama ayah, dan kebersamaan dengan teman-teman sepermainan terkadang membuat saya ingin segera pulang. Apalagi bila saya mengingat setiap kasih sayang dan penerimaan tanpa pamrih yang selalu mereka berikan. Perasaan itu semakin kuat dan membuat saya amat menghargai waktu cuti tahunan. Meski hanya beberapa hari dalam setahun, saya selalu menggunakan waktu cuti untuk pulang dan berkumpul kembali bersama mereka. Bagi saya, kebersamaan dengan mereka tidak dapat ditukar apa pun, termasuk tambahan uang lembur sekalipun.

Bukan hanya saya, setiap orang pasti pernah merasakan perasaan seperti itu dalam hidupnya. Namun bila kita merenungkannya lebih jauh, sesungguhnya kerinduan jiwa kita bukanlah terhadap manusia, tetapi terhadap Tuhan. Bagi Daud, kebutuhannya akan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar. Ia tahu bahwa Tuhan adalah segala-galanya, dan tanpa Tuhan maka ia tidak akan mampu menghadapi kerasnya kehidupan ini. Sayangnya, meski setiap orang sadar bahwa dirinya memerlukan kehadiran dan pertolongan Tuhan, tidak banyak orang yang benar-benar mencari-Nya. Karena mereka berpikir kehadiran Tuhan dpat digantikan oleh yang lain. Misalnya harta, uang, jabatan, status, atau hal yang lain. Bukannya menyelesaikan masalah, pemikiran bahwa kehadiran Tuhan dapat digantikan sesuatu yang lain justru tidak menyelesaikan masalah. Malah membuat masalah kian besar dan memburuk.

Persekutuan pribadi dengan Tuhan tidak berbicara soal berapa kali kita pergi ke gereja, berapa banyak persembahan yang kita berikan, atau seberapa banyak kita mampu menghafal ayat-ayat firman Tuhan. Lebih dari itu, persekutuan pribadi yang sejati dengan Tuhan hanya akan terjadi manakala kita bersedia merendahkan hati dan menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan.

Sabtu, 23 April 2011

Lalat & Semut

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" katanya.

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat
itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,

" Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".

"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?".

Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab,

"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius :
"Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".

" Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya
melakukannya dengan cara yang berbeda"


Sumber : Renungan Harian Sabda

Jumat, 22 April 2011

Ketidaksempurnaan yang Sempurna

Seorang tukang jual air memiliki sebuah pikulan yaitu dua buah tempayan di kiri - kanannya setiap ia memikulnya. Namun salah satu tempayannya sudah retak. Jadi saat tukang air tiba di tujuannya air di tempayan tersebut sudah tinggal setengah bahkan seperempatnya. Tentu saja setiap tiba di tempat penampungan akhir, tempayan yang bagus tersebut merasa sombong dan tempayan retak itu selalu minder dan malu. Terlebih kepada tukang pemikil air tersebut. Tempayan retak tersebut meminta maaf kepada tukang air tersebut. Tetapi rupanya si tukang air sudah mengetahui tentang hal tersebut. Hari-demi hari, minggu berganti, bulan berlalu ternyata disepanjang perjalanan, si tukang air tersebut selama ini ternyata sudah menebarkan benih tanaman bunga yang indah. Akhirnya, hingga dalam beberapa bulan si tukang air akhirnya mendapatkan bunga-bunga yang indah dan mewangi akibat tumpahan air dari tempayan retak tersebut. Jadi sekalipun nampaknya tempayan yang retak itu tidak berguna namun pemiliknya masih dapat memakainya untuk sebuah tujuan yang baik.

Apakah diantara kita ada yang merasa seperti tempayan retak tersebut? Kita merasa tidak sempurna, kelemahan ada di sana-sini. Wajah tidak seperti miss universe, suara dan tarian tidak seperti si Norman dan keberuntungan tidak seperti anggota DPR yang bisa menonton vidio porno saat sidang atau tidak sekaya Gayus dan Melinda karena "kelicikannya".:P.

Kekurangan dan kelemahan tersebut kadang membuat kita minder.

Brother-sisiter, kamu jadi berarti bukan karena tampangmu bahkan dompetmu sekalipun. Kamu berarti karena Tuhan yang menjadikan hidupmu berarti. Tuhan telah menyiapkan kita menjadi berkat bagi banyak orang dan berguna bagi kemuliaan-Nya.

Meskipun kamu merasa tidak berarti karena ditolak, dikecewakan, ataupun kamu telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti dimasa mudamu (misalnya udah suka merokok, lama lulus sekolah, senang begadang :P), Allah masih tetap mengasihi kita dan Dia punya tujuan khusus untuk kita. seburuk apapun hidup kita, masih bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Jadi apapun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan setia, karena Tuhan akan bekerja atasnya dan menjadikan segala sesuatu menjadi suatu kebaikan dan kemuliaan bagi nama-NYA.

Rabu, 06 April 2011

Hidup Seperti Buku

Hidup manusia itu seperti sebuah buku..

Sampul depan adalah tanggal lahir, sampul belakang adalah tanggal pulang...

Tiap lembarannya adalah hari2 dalam hidup kita...

Ada buku yg tebal, ada pula yang tipis...

Hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang bersih, baru & tiada cacat..untuk hari ini.

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kesempatan yang baru untuk bisa melakukan sesuatu yang benar setiap hari, memperbaiki kesalahan, melanjutkan alur cerita yang baru....

Jangan menunda-nunda kesempatan baik hari ini... Karena kita tidak tahu.... Tiba2 besok kita memasuki lembaran terakhir:)

TYM---

Jarak dua hati

Seandainya guru PPKN dan guru agama saat ini masih bijaksana, maka kondisi generasi sekarang akan jauh lebih baik. Mereka akan mengamalkan Pancasila dan menunaikan ajaran agamanya.

Kisah di sebuah kelas, saat guru PPKN atau guru agama mengajar di suatu kelas.

Ibu guru bertanya :"Mengapa ketika seseorang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara yang kuat dan keras?"

Suasana kelas hening, tampak murid ragu-ragu untuk menjawab.

Namun setelah sekian lama ada murid yang mencoba menjawab : "karena saat itu (saat marah), ia telah kehilangan kesabarannya, lantas ia berteriak dengan keras"

"Tapi....."Guru bertanya kembali :" Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mereka sedang berdekatan loh. Apa ia harus berteriak. Bukankah ia bisa berbicara dengan halus??"

Hampir semua murid memberi jawaban dengan berbagai macam argumen, namun belum satu orang pun murid yang bisa menjawab pertanyaan guru tersebut. Akhirnya guru menjawab :" Saat seseorang sedang dalam keadaan marah maka jarak hatinya dengan lawan bicaranya tersebut menjadi sangat jauh walaupaun mereka sedang berdekatan. Karena itu untuk mencapai jarak hati yang jauh tesebut ia akan berteriak sekeras mungkin. Namun anehnya, semakin berteriak keras maka semakin tambah kemarahan mereka dan akhirnya bertambah keras pula teriakannya karena jarak kedua hati mereka semakin jauh."

Sang guru masih melanjutkan :" Sebaliknya, apa yang terjadi bagi mereka yang sedang jatuh cinta? Mereka tidak berteriak. Namun saat mereka berkomunikasi dengan suara yang halus dan lembut keduanya akan bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Tanya sang guru lagi, namun murid-murid hanya terdiam tak ada yang berani memberi komentar. " Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tidak berjarak, walaupun terkadang mereka secara fisik sedang berjauhan. Cukup dengan sebuah tatapan mata sudah bisa mengungkapkan isi hatinya kepada pasangannya." Jelas sang guru.

Oleh sebab itu, ketika kamu sedang dilanda kemarahan, janganlah menciptakan jarak hatimu dengan orang lain. Lebih lagi janganlah kamu mengucapkan kata yang bisa menambah jarak hatimu dengan seseorang. Mungkin disaat sedang marah, kesal atau jengkel, diam merupakan solusi yang sangat tepat. Setelah beberapa waktu cobalah untuk kembali "mesra" dengan "lawan" mu itu.

Sabtu, 22 Januari 2011

Batu Besar di Tengah Kota

Alkisah dijaman kerajaan dahulu, ada seorang raja yg baru memenangkan sebuah peperangan. Setelah pulang, sang raja mulai membangun kerajaannya secara perlahan tapi pasti. Setiap hari ia memandang dari jendela istananya setiap aktivitas yang dilakukan rakyatnya. Rakyat lalu lalang melakukan pekerjaannya. Hari-hari berjalan, lama kelamaan terjadi peningkatan perdagangan dan rakyat menjadi sejahtera.

Suatu malam raja punya ilham. Dia memerintahkan tentaranya untuk meletakkan sebuah batu besar di tengah jalan. Keesokan harinya Raja kembali memandang kegiatan rutinitas rakyatnya dari jendela istana. Tampak orang-orang sedikit terhalang dengan adanya batu tersebut. Ada yang marah-marah, memaki-maki dan mengomel. Perjalanan ke pasar menjadi sedikit lebih lama karena harus berbelok menghindari batu besar tersebut.

Setiap hari menjadi lebih crowded, terjadi kemacetan, banyak omelan dan makian. Tapi orang-orang masih berusaha keliling lebih jauh untuk menuju pasar.

Sampai suatu hari lewatlah seorang petani dari desa dari tempat tersebut. Petani itu tergerak untuk memindahkan batu besar tersebut agar tidak menghalangi lalu lintas rakyat menuju pasar. Ia mengambil palu dn pahat. Sedikit demi sedikit ia memahat batu besar tersebut dan membuang pecahan batu tersebut ke pinggir kota.

Tapi yang menarik, pada bagian bawah batu tersebut ia menemukan sebuah kotak yang berisi pesan dan emas yang tertanda dari Sang Raja. Diluar kotak yang berisi kepingan-kepingan emas tersebut terdapat tulisan dari sang Raja :"Ini hadiah bagi siapa yang mau dengan sukarela memindahkan batu besar yang menjadi penghalang menuju pasar". Petani mendapat hadiah dari Raja, karena dia punya inisiatif dan kerelaan untuk memindahkan batu. Berbeda dengan orang lain yang mengomel, memaki dan tidak mau berinisiatif memindahkan batu penghalang tersebut.

Kisah seperti ini sering juga kita hadapi. Tuhan sering meletakkan batu penghalang di perjalanan hidup kita. Akhirnya muncul masalah, urusan menjadi tidak lancar. Kita mengeluh, mengomel dan kadang memaki. Bahkan kita dengan cepat menyalahkan pelayan publik yang berkuasa saat itu. Kita menyalahkan pemerintah atau orang lain.

Sebenarnya Tuhan sedang mengamati kita dari surganya. Apakah kita mau memindahkan batu tersebut? Atau kita malah mengomel, mengeluh dan memaki? Atau kita berjalan menjadi lebih jauh untuk menghindar dari batu tersebut? Atau kita turun tangan dengan inisiatif sendiri untuk memecahkannya?

Percayalah akan ada kotak hadiah setiap kita berhasil memecahkan masalah berat dan hambatan besar yang ada di tengah hidup kita...

Jumat, 26 November 2010

Memulai sesuatu dengan Harapan baru

Minggu tanggal 28 November nanti merupakan Minggu Advent I. Tidak terasa kita semakin dekat dengan kisah 2000 tahun lalu yang mana saat ini kita sedang menantikan kehadirannya untuk yang kedua kalinya. Sebagian orang mulai disibukkan dengan perencanaan kegiatan Natal dan liburan akhir tahun. 

Sebenarnya makna keseluruhan dari penantian (masa Advent) itu adalah mengingatkan bahwa kita semakin dekat dengan hari yang akan datang itu. Hal yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk masa itu. Mulai dengan kembali bermurah hati, mau berkorban dan suka menolong serta tindakan lain yang masih merupakan turunan differensial dari kasih. Ya semangat memberi merupakan kata kunci dalam case ini.

Teman-temanku, ketika kita masih mengatakan saya mengasihi dia, ini tentu belum cukup. Kita harus turun dan aplikatif ke lapangan, apakah dengan bentuk memberi pertolongan, menemani, dan memotivasi dan menjadi pendengar yang baik. Jadilah orang samaria yang baik hati itu. Saat hati kita sudah dipenuhi belas kasih, cepatlah implementasikan dengan perbuatan. Tolonglah segera, jangan tunggu Tuhan untuk menolong mereka yang kita temukan sedang terluka.

Suatu hari ada kisah indah pada sebuah keluarga yang soleh. Mereka punya tetangga yang sangat miskin dan selalu kelaparan. Sang ibu dari keluarga soleh ini selalu mendoakan tetangganya tersebut agar diberi Tuhan rezeki sehingga mereka bisa makan dan hidup. Suatu hari setelah si ibu selesai berdoa, sang anak segera berdiri dan meminta dompet si ayah. Sang anak berkata "ayah boleh saya ambil isi dompet ayah, sebab Tuhan sudah menjawab doa ibu"

Sangat sering kita menunggu agar Tuhan turun tangan untuk menolong seseorang. Padahal Tuhan justru menunggu kita melangkah dan mengulurkan tangan kepada orang tersebut. Lakukan sesuatu bagi sesama. Mungkin Anda adalah jawaban doa seseorang. Tidak perlu jauh-jauh memberi makan orang-orang kelaparan di Afrika dan di tempat2 bencana. Buka mata, buka hati, lihatlah orang di sekitar yang membutuhkan nasihat, penghiburan, makanan, uang, atau apapun yang bisa kita penuhi. Tolonglah mereka. Tolong juga saya yang sedang dalam pergumulan. Anda bersedia?

Bila hal ini sudah bisa kita lakukan, maka akan banyak Harapan manusia yang terkabul. Banyak doa orang-orang yang akan terjawab. Banyak kedamaian, sukacita dan damai sejahtera akan terealisasi di dunia ini. Semoga kita berani memulai merealisasikan harapan-harapan baru.

Ketika Harus Kehilangan

Suatu hari aku dan sahabatku bertengkar hebat. Pada awalnya semua dalam keadaan baik dan normal. Seperti biasa kami berkomunikasi dengan baik, sesekali berkunjung dan bersilahturahmi. Namun tanpa saya tau alasan yang jelas pertengkaran dan ajakan musuhan jauh lebih menguasai kami berdua. Saya juga menyesal membiarkan emosi ini menguasai hati dan akhirnya menghasilkan perpisahan. Saat merenungkan kejadian ini saya jadi teringat makna kehidupan.

Kehidupan sering diartikan dengan sejumlah kehilangan. Saat lahir kita kehilangan rasa hangat, aman dan nyaman dari rahim ibu. Saat dewasa kita kehilangan banyak waktu buat bermain, karena kita lebih banyak dituntut untuk belajar, bekerja dan mencari nafkah. Di usia tertentu mungkin kita kehilangan pekerjaan, orang-orang yang kita cintai. Di saat kita tua dan sakit kita kehilangan kekuatan kita. Di saat kita mati kita kehilangan nafas hidup dan segala-galanya. Jika hidup hanyalah kehilangan demi kehilangan, untuk apakah kita menjalaninya? Pertanyaan itu mengusik saya ketika seharian itu saya merasa kehilangan hubungan yang sudah terjalin baik selama ini bahkan dengan beberapa keluarganya.

Saat kehilangan, terlebih kehilangan orang-orang yag kita cintai merupakan sangat dimana kesedihan menjadi penyelimut utama hari-hari kita. Bahasa lainnya kita menjadi stress dan semakin dekat dengan dosa. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya kita kembali kepada Tuhan. Alhasil kita akan menemukan penghiburan, ketentraman dan kedamaian. Banyak kisah sejenis yang bisa diambil pembelajarannya dari Firman Tuhan. Saat Ayub menderita, ia tidak "memarahi" Tuhan, namun dia tetap setia kepadaNya. Kita harus yakin bahwa kehilangan ini merupakan pembelajaran dari Tuhan.

Meskipun saya gagal dalam menjalin hubungan ini, saya sangat percaya segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia. Saya percaya bahwa usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu tidak selalu mendatangkan kesuksesan, namun semakin melatih kita agar mengetahui mana jalan yang terbaik.

Apa yang sudah diterimanya muda-mudahan tidak akan pernah dilupakannya, dan saya tidak akan mengingat apa yang pernah saya berikan. Semua butuh ketulusan dan keiklasan.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hatimu terluka sangat dalam karena ditolak, maksa saat itu kau sedang belajar MEMAAFKAN.
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar KESUNGGUHAN.
Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar KETANGGUHAN.
Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kau sedang belajar KEMURAHAN HATI.
Tetap semangat, tetap sabar, tetap tersenyum, tetap kuat dan terus belajar. Tuhan sedang mengarahkanmu menjadi semakin dekat dengan rencanaNya. TYM...



Kamis, 25 November 2010

Inkubasi yang gagal

Ternyata tidak hanya di dunia bisnis saja dibutuhkan proses inkubasi. Untuk dunia-dunia lain seperti dunia pertemanan juga butuh inkubasi. Setiap inkubasi pasti membutuhkan investasi agar kelak mencapai hasil yg diinginkan. Layaknya inkubasi sebuah perusahaan, untk dunia pertemanan juga perlu dipikirkan bagaimana agar inkubasinya berhasil.

Saat-saat kemarin saya coba membangun hubungan pertemanan dengan seseorang. Namun pada akhirnya inkubasi yg sudah saya bangun tersebut sepertinya sia-sia.

Berbagai hal sudah saya lakukan. Seperti memberi perhatian, waktu dan hal lain kepada dia. Dalam pertemanan sejati hal yang paling saya pegang adalah prinsip "memberi tanpa mengingat dan menerima tanpa melupakan". Ya apapun bisa kita berikan kepada teman, sodara, sahabat, kekasih dan lain sebagainya. Namun sangatlah tidak etis bila kita mengingat apa yang sudah diberikan. Bila kita selalu mengulik apa yang sudah diberikan berarti kita memberi tanpa ketulusan. Ada pamrih dalam pemberian itu. Dan hal utama yang semestinya kita berikan adalah kasih. Sebab kasih merupakan satu-satunya milik kita yang kalau kita berikan kepada seseorang, tidak akan berkurang. Bila kita meberi uang, otomatis uang kita berkurang. Tidak demikian dengan kasih.

Sebaliknya bila kita menerima sesuatu dari orang lain cobalah untuk tidak melupakannya. Sebab disinilah kita ditantang untuk berterima kasih atas pemberian itu dan bersyukur buat seseorang yang sudah memberi tersebut.

Saya tidak tahu apa penyebab inkubasi pertemanan tersebut gagal. Pertemanan tanpa kasih sebenarnya tidak ada gunanya. Saat ini saya hanya berharap bisa ketemu orang yang bisa diajak berteman dengan serius tanpa ada motivasi2 negatif didalamnya. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita tetap menatap masa depan yang lebih baik untuk segala hal.

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP